Hilang?

Hilang?
BAB 31 (Hal Yang Tak Di Rencanakan)


__ADS_3

Di tempat yang berbeda. Sahila yang sudah sampai di depan rumahnya dan telah memarkirkan mobilnya di bagasi, memasuki rumah dengan penuh ke hati-hatian.


Ia berharap mamanya tidak ada di rumah agar tak mendengar omelan dari sang mama. Namun sayang, ternyata kehadiranya sudah di tunggu oleh sang mama di depan pintu. Melihat itu membuat Sahila memasang wajah masam.


"Halo ma!" Sapa Sahila dengan tersenyum pada sang mama yang tengah menunggunya di depan pintu begitu ia melangkah masuk ke dalam rumah.


"Halo? kamu masih bisa tersenyum ya setelah buat kesalahan." Balas sang mama dengan wajah tak bersahabat.


"Hehe.. tapi mama jangan marah dulu dong. Aku ada good news nih buat mama." Ucap Sahila merangkul pundak sang mama agar tak di marahin.


Farah mengeryitkan dahinya melihat tingkah sang anak.


"Aku tadi bertemu idolaku lho ma." Seru ceria Sahila sembari memperlihatkan foto yang ia ambil bersama Anjani.


"Dan mama tau!, dia juga tinggal di apartemen yang sama kaya kak Rama. Keren gak?" Ucapnya lagi dengan tatapan antusias.


"Sudah masuk sana, kamu itu selalu saja bikin masalah." Ujar Farah tak peduli dengan yang di tunjukan oleh anaknya.


"Eeiihh.. mama nih kolot deh, dia itu pemilik A cosmetic itu lho! Brand yang sedang tren di kalangan anak muda." Jelas Sahila lagi.


"Mama gak perduli, sana masuk."


"Iish mama gak asik nih." Dengus kesal Sahila lalu berlalu masuk. Namun di satu sisi ia tersenyum senang.


Yeah gak di marahin.


Perlahan ia masuk ke dalam kamarnya dengan senyum ketenangan sambil bersorak ceria. Hal yang ia khawatirkan sedari tadi akhirnya tak terjadi.

__ADS_1


......................


Dua orang yang tengah bertemu di sela kesibukan mereka. Johan dan Rama kembali bertemu di dekat kafe rumah sakit tempat Rama bertugas.


"Kamu mau bikin diri kamu pingsan? Berhenti memaksan diri." Omel Johan pada Rama yang terlalu memaksakan dirinya dengan terus melakukan banyak operasi tanpa jeda yang berarti.


"Kamu tenang aja, aku masih kuat kok!" Jawab Rama dengan senyum sunggingnya dalam wajah lelahnya.


Johan menatap wajah sahabatnya dengan tatapan tak percaya dan mendecik kesal.


"Sebenarnya kamu ini kenapa? Ada yang mengganggu pikiranmu? Kalau aku gak menyuruhmu datang kesini, pasti kamu masih terus bekerja seperti orang gila."


Rama hanya diam dengan tatapan sendu di selingi senyum tipis dari bibirnya.


"Masalah pekerjaan atau masalah cewek?" Tebak Johan begitu tak mendapat jawaban yang memuaskan dari Rama.


Rama seketika mendongakan kepala menatap Johan yang berada di depanya.


"Sudahlah, ini memang kesalahanku, karena itu aku mau menyelesaikan masalahku sendiri." Jawab Rama tenang.


"Memang, tapi kamu gak harus memaksakan diri juga. Yang ada hancur sendiri."


"Aku tau, ini hanya penebusan rasa bersalah saja, pada pasien yang gagal aku selamatkan dan pada perasaan yang hampa ini."


"Terserah deh. Tapi.. kamu kan sudah tau bakal begini kalau mau jadi dokter, kenapa hal itu masih saja buatmu merasa bersalah yang berlebihan? Aneh."


"Entahlah, mungkin ini karena hatiku yang terlalu lemah."

__ADS_1


"Benar, hatimu itu terlalu lemah sampai-sampai tidak tau perasaanmu sendiri."


Rama hanya bisa tersenyum simpul mendengarnya, seolah membenarkan ucapan Johan.


"Oh iya gimana kabar dari mama kamu! katanya dia masuk ke rumah sakit?" Tanya Rama kemudian.


"Dia udah baikan, besok juga sudah boleh pulang."


"Baguslah, aku minta maaf ya karena belum sempat jenguk beliau."


"Santai aja. Toh mama juga udah baikan."


"Tetap aja aku harus jenguk, kebetulan hari ini aku pulang agak awal, kayanya nanti aku mampir ke sana sekalian mau pulang ke rumah orang tuaku."


"Yaudah bareng aja, nanti aku juga mau jenguk mama lagi."


"Ok."


...****************...


Tempat yang biasa orang kunjungi ketika sakit, atau ketika seseorang datang karena menjenguk pasien. Rumah sakit seakan tak pernah sepi dari kesibukanya.


Di salah satu ruangan VIP, terlihat seorang perempuan tengah terbaring lemas setelah selesai menjalankan operasi usus buntunya. Wajahnya menampak kan kepucatan dengan kondisi tubuh yang terlihat lemah.


Anjani Safira, tak akan pernah menyangka jika dirinya akan masuk ke rumah sakit, terlebih lagi mengalami usus buntu.


Ia menatap lurus jendela di samping tempat tidurnya, di sertai ekspresi wajah yang menampakan kekosongan

__ADS_1


Suara pintu terbuka menyadarkan dirinya dan mengedarkan pandangannya ke arah suara tersebut. Dan mendapati seseorang yang tengah masuk ke dalam ruanganya.


Namun, ketika mata mereka bertemu, sejenak membekukan suasana. Membuat ruangan sejenak terasa hening.


__ADS_2