
Keheningan sejenak menghampiri keduanya.Perkataan maaf yang di lontarkan oleh Rama
menjadi hal yang sama-sama canggung bagi keduanya.
"Kenapa minta maaf! kamu kan gak salah apa-apa." Ucap Diana kemudian dan menatap bingung ke arah Rama.
Dengan ekspresi yang tampak tulus dan hangat, Rama menatap Diana dengan perasaan sedikit bersalah dan juga merasa bersyukur. Ia merasa bersalah karena tak cukup baik sebagai seorang teman dan bersyukur bisa bertemu dengan orang baik seperti dirinya.
"Aku hanya ingin minta maaf, karena selama ini hanya bisa menerima tanpa bisa membalas kebaikanmu padaku." Ucap Rama kemudian dan tersenyum menatap Diana.
"Aku kira apa!, tidak masalah.. toh kita kan teman. Benar kan!" Balas Diana tersenyum menatap Rama.
Meski ia mencoba tersenyum, namun kenyataanya ia merasa sedih karena mendapati kenyataan tersebut. Hubungan yang hanya sekedar teman itu ternyata sedikit menyakitkan untuknya. Namun Diana hanya bisa tersenyum getir menerima semuanya, dan mencoba tetap tersenyum untuk mengendalikan ekspresi sedihnya.
"Aku gak ngerti kenapa kamu bicara seperti ini! yang jelas kamu tidak perlu minta maaf sama aku, karena itu sangat membebaniku?" Ucapnya mencoba tetap tenang dan tersenyum ke arah Rama.
"Aku tau tapi.."
__ADS_1
"Syukurlah kalau kamu sudah baikan, aku kesini hanya ingin memastikan keadaanmu." Ujarnya memotong perkataan Rama lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Aku pergi duluan ya! karena masih ada pasien yang harus aku tangani." Kata Diana menampakan senyum tipis di tengah ekspresi sedihnya, lalu melangkah meninggalkan Rama seorang diri.
Rama hanya bisa menatap punggung Diana yang mulai menjauh dari hadapanya, menatap lurus ke arahnya dengan tatapan penuh perasaan bersalahnya.
...****************...
Di sisi yang berbeda, Anjani terlihat puas dan senang dengan kerjasamanya dengan para investor yang akan membantunya mengembangkan perusahaanya.
"Hari ini kita tidak ada agenda lain kan?" Tanya Anjani pada Lea yang selalu setia mendampinginya kemanapun ia pergi.
"Untuk hari ini..." Lea mencoba melihat catatan jadwal Anjani.
"Iya benar tidak ada agenda lain." Jawabnya kemudian setelah memastikanya lagi.
"Baiklah kalau begitu, soalnya ada tempat yang ingin aku datangi hari ini. Ayo.." Ajaknya.
__ADS_1
"Baik."
Dan tempat itu adalah tempat peristirahatan almarhum ibunya, sebuah pemakaman di salah satu sudut kota.
Anjani berjalan ke arah makam ibunya berasama dengan Lea yang terus mengikutinya dari belakang. Ia diam terpaku begitu tiba di depan makam ibunya. Ekspresinya memperlihatkan kesedihan di wajah dinginya.
Menatap dalam diam dan penuh dengan perasaan bersalah.
"Padahal sejak kecil aku tidak pernah mendapat kasih sayang darinya, tapi pada akhirnya aku tidak bisa membencinya." Kata Anjani menceritakan perihal ibunya pada Lea yang berada di sampingnya.
Masih dalam posisi berdiri, Anjani menatap makam ibunya dengan tatapan nanar.
"Dia... rela mati demiku dan rela menanggung semua kesalahanku. Aku kan jadi tidak bisa membencinya kalau begini." Ucap Anjani yang mulai meneteskan air mata di hadapan makam ibunya.
"Aku ingin membencinya sampai akhir, tapi aku bahkan tidak bisa melakukanya." Anjani tak lagi bisa membendung kesedihanya.
"Padahal dia yang sudah mengabaikanku selama ini." Ucapnya lagi kembali menatap makam ibunya dengan perasaan bersalah.
__ADS_1