
Di dalam sebuah apartemen, memperlihatkan seorang perempuan yang tengah berdiri menatap ke jendela kamar tidurnya, ekspresinya tampak serius ketika menatap ke arah jendela tersebut. Tatapan tajamnya seakan menembus tebal kaca jendela miliknya. Apa yang di fikirkanya hingga harus membuat ekspresi serius seperti itu.
"Saya sudah siapkan makan malam untuk anda, mari kita makan, bu."
Menoleh ke arah sumber suara tersebut, sejenak ia terpaku menatap orang yang memanggilnya.
"Lea, sepertinya kita harus mempercepat kepulangan kita ke amerika." Ujarnya kemudian.
"Eh.. "
Mendengar hal tersebut secara tiba-tiba, tentu saja membuat Lea kaget.
"Bukanya itu masih 4 bulan lagi ya, bu."
"Aku tau, tapi aku berubah pikiran sekarang."
"Lalu bagaimana dengan perusahaan yang ada disini?"
"Aku akan menyerahkan sepenuhnya pada Lyla, toh selama ini dia yang handle semua."
Lea sedikit kepikiran perihal perubahan sikap dari Anjani, karena sepulangnya dari rumah sakit, Anjani terlihat banyak merenung. Padahal ia datang kesini bukan hanya menyaksikan peluncuran produk terbarunya, melainkan juga untuk berdamai dengan masa lalunya.
Ini bahkan belum genap satu bulan Anjani datang kesini, apa yang membuatnya berubah fikiran. Padahal ia sudah sangat lama membuat keputusan seperti ini dengan berbagai kemantapan hatinya.
"Apa ibu yakin soal itu? bukanya ibu datang kesini tidak hanya untuk perusahaan!."
Anjani terdiam seolah membenarkan perkataan Lea.
__ADS_1
"Entahlah.. aku rasa akan lebih baik segara pergi dari sini." Ucapnya, lalu berjalan kearah Lea.
"Ayo makan." Ajaknya kemudian dan berlalu keluar dari kamar.
Lea menatap punggung Anjani dengan ekspresi bingung dan penuh tanya.
Meski banyak hal yang ingin dia tau dan tanyakan perihal perubahan keputusan Anjani, namun tak ia lakukan mengingat ekspresi Anjani yang terlihat tak baik untuk di tanya.
Lea jadi kepikiran satu hal, tentang dokter yang bertemu dengan Anjani sebelumnya, mungkin setelah bertemu dengan dokter itu, membuat Anjani jadi banyak merenung.
"Kamu bilang kamu di besarkan di panti asuhan, kan?" Ucap Anjani di tengah-tengah makan malam mereka.
"Iya benar, saya di besarkan di panti asuhan."
"Apa kamu tidak ada niat untuk datang kesana lagi?"
"Saya sih sempat kepikiran, tapi saya masih belum tau itu kapan, mungkin nanti akan saya coba luangkan waktu untuk datang kesana."
"Ada di kota bandung, dan nama panti asuhanya Pertiwi."
"Kalau begitu, besok kita datang kesana."
"Eh.. "
"Kenapa? kamu gak mau datang kesana?"
"Bukan, maksud saya itu.. anda juga akan ikut?"
__ADS_1
"Em.."
"Tapi, ibu kan baru keluar dari rumah sakit?"
"Aku sudah gak pa-pa, jadi besok saja kita datang ke panti asuhanmu. Aku juga ingin tau tempat asalmu."
"Baik, terimakasih." Ucap Lea dengan perasaan senang.
...----------------...
Kemarin, pukul tiga sore. Hari sebelum Anjani keluar dari rumah sakit.
"Dokter Dana tidak bisa hadir, tapi beliau mengatakan selamat karena anda sudah boleh pulang dari rumah sakit." Ujar suster Anna.
"Ah, dan beliau menitipkan bingkisan ini pada saya untuk di berikan pada anda. Beliau bilang, ini harus dibuka pas sudah sampai rumah." Kata suster Anna memberikan sebuah bingkisan pada Anjani.
Anjani menatap bingkisan tersebut dengan tatapan datar. Ia menerimanya meski agak bingung dengan bingkisan yang ia dapat secara tiba-tiba dari dokter Wardana.
Dan setibanya di apartemen, ia langsung membuka bingkisan tersebut, yang berupa sebuah buku agenda yang berisi foto kelulusan masa sekolah SMA-nya, yang ia tinggalkan begitu saja di sekolah.
Anjani menatap bingung pada buku agenda tersebut, dan lebih membingungkannya adalah tentang dokter Wardana yang memberikan hal ini padanya.
Membuka lembar demi lembar halaman yang berisi sebuah foto alumni angkatanya, sampai pada satu hal yang menarik perhatianya, dan membuat dirinya terpaku akan hal tersebut.
Ia terdiam cukup lama menatap hal tersebut.
Fotonya bersama dengan Rama ketika olimpiade IPA terdapat di salah satu agenda tersebut, dan juga foto dirinya ketika menerima beasiswa setelah berhasil juara olimpiade.
__ADS_1
Hal itu sedikit membuatnya bernostalgia akan masa sekolah. Meski begitu, tak ada satupun hal yang membuatnya merasa senang, di samping karena tak ada yang ia kenal meski mereka teman seangkatanya. Namun, itu juga menjadikan ia mengingat akan masa lalunya yang buruk yang terjadi di hari kelulusanya.
Anjani menatap dingin hal itu, ia juga tak mengerti tentang sikap dokter Wardana yang memberikan hal ini padanya.