
Menghilang
Sebuah kalimat sederhana yang tertulis dari salah satu buku agenda miliknya.
Jika semua orang menuliskan cita-cita dan harapan mereka layaknya orang biasa lainya, seperti menjadi dokter, guru, influencer atau yang lainya. Tampak berbeda dengan Anjani, yang ia tulis justru sebuah kata menghilang.
Apa ada arti di balik kata yang ia tulis tersebut?
Membuka kembali jurnal foto kelulusanya, ia menemukan sesuatu yang menarik perhatianya. Selain foto kelulusanya, ia melihat ada sebuah kalimat yang tertulis di akhir jurnal miliknya.
Dengan memasang wajah yang sulit di tebak, Anjani menutup kembali jurnal tersebut. Apa yang sebenarnya ia lihat!, kenapa itu sangat mempengaruhi pikiranya. Ia terdiam cukup lama karena hal tersebut, hingga Lea yang masuk ke dalam kamarnya membuyarkan semua lamunan-nya.
...****************...
Pukul 06.00 pagi, di dalam apartemen Anjani. Memperlihatkan ia yang tengah terbangun dari tidurnya dengan muka setengah sadar.
Berjalan perlahan menuju ke arah dapur mengambil air dingin, untuk menyegarkan sejenak rasa dahaganya di pagi hari.
Ia diam mematung, seakan mengumpulkan kembali nyawanya yang masih setengah sadar. Beberapa kali menghela nafas sambil meminum minumannya.
Dalam lamunanya, ia teringat kembali pada jurnal foto kelulusan yang di berikan oleh dokter Wardana padanya kemarin. Ia juga teringat akan kalimat yang berada di bagian akhir jurnal fotonya. Kalimat yang tampak asing baginya.
Hidup itu tidak bisa di tebak endingnya. Entah baik atau buruk, hanya waktu yang akan menjawabnya. Karenanya, jalani hidupmu dengan bebas dan lepas tanpa ada beban dan rasa ketakutan.
Mengingat hal itu, membuat Anjani terfikir akan tulisan tersebut. Seolah kalimat tersebut di tulis untuk dirinya. Padahal ia tak pernah menulis hal itu sebelumnya.
Anjani menyeringai, tak percaya akan yang di lihatnya. Apa maksud dari ini semua? Ia benar-benar tak bisa menebaknya, seakan memberi teka-teki untuk dirinya.
Suasana hatinya menjadi buruk begitu melihat dan membaca kalimat tersebut, membuatnya tersadar akan satu hal, bahwa sepertinya dokter Wardana mengetahui sesuatu tentang dirinya. Ia juga jadi kepikiran soal dirinya yang juga merupakan ayah dari Rama.
__ADS_1
Entah mengapa ia memiliki firasat tak baik akan hal itu, seolah hal yang akan terjadi padanya kedepan akan lebih rumit. Karena itulah ia tiba-tiba memutuskan agar segera kembali ke new york. Agar kedepan tak terlibat lebih dalam pada hal yang berbau perasaan.
Anjani mengela nafas panjang mengingat hal tersebut. Mungkin harusnya ia bertemu dengan dokter Wardana, dan menanyakan maksud dari beliau yang memberikan jurnal itu padanya. Apakah ada alasan khusus di baliknya, dan seberapa ia tahu tentang dirinya.
"Lho, anda sudah bangun?" Kata Lea begitu masuk dan melihat keberadaan Anjani yang tengah berdiri mematung di dapur.
"Iya, aku bangun lebih awal hari ini." Balas Anjani.
"Padahal ini hari libur, saya kira anda akan bangun agak siangan, karena itu saya agak terlambat datangnya."
"Tidak apa, pelan-pelan saja. Toh aku juga belum mandi." Ujar Anjani.
"Baiklah, mungkin hari ini saya akan masak yang sederhana saja, agar ibu tidak menunggu terlalu lama."
"Tidak usah, hari ini aku mau sarapan pakai roti saja. Tolong siapakan itu selama aku mandi."
"Baik, akan saya siapkan. Kalau begitu sayurannya saya tarus di kulkas."
"Iya."
Anjani meninggalkan Lea seorang diri, dan berjalan mengarah ke arah kamarnya untuk mandi.
...----------------...
Meski kau menjauh dan mencoba lari dariku, aku tak akan menyerah untuk terus mendekatimu.
"Selamat pagi!" Sapanya dengan ramah pada seorang perempuan yang tengah berjalan di depanya.
Sebuah kebetulan yang kesian kalinya, antara Anjani dan Rama. Meski tak ada kesengajaan dalam hal tersebut, entah mengapa seakan takdir bagi mereka untuk terus bertemu di momen yang tak terduga seperti ini.
__ADS_1
Anjani yang tengah berjalan ke arah depan gedung apartemenya, menghentikan langkahnya begitu mendengar ada suara yang tengah menyapa dirinya ketika berjalan.
Mengedarkan dengan segera arah pandangnya pada sumber suara tersebut, dan mendapati seorang Rama yang tengah berdiri di sampingnya.
"Selamat pagi." Ucap Rama lagi dengan senyum ramah, begitu Anjani menatap ke arahnya.
Namun, tentu saja hanya tatapan datar dan dingin dari Anjani membalas sapaan dari Rama. Karena sudah terbiasa akan hal tersebut, Rama tak terlalu tersinggung dan tetap tersenyum ramah pada Anjani yang kini menatapnya dingin.
"Apa anda mau pergi?" Tanyanya kemudian.
Anjani menatap lurus Rama, ia jadi tersadar akan satu hal begitu melihat wajahnya.
"Apa anda tau soal jurnal?" Ucapnya kemudian tanpa menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Rama sebelumnya.
"Jurnal? jurnal apa ya?" Jawab Rama dengan ekpresi bingung tanda tak tau akan hal tersebut.
"Kalau begitu ya sudah.." Balasnya berbalik tak perduli.
"Tunggu." Tahan Rama.
Anjani menghentikan langkahnya dan melirik ke arah Rama yang tengah menahan tanganya.
"Maaf, itu.. saya hanya mau menyampaikan satu hal, ini soal acara reuni sekolah yang akan di adakan pekan depan. Apa anda bisa hadir."
Tiin.. tiinn..
Suara klakson mobil yang tiba-tiba datang ke arah keduanya, menghentikan percakapan mereka yang akhirnya berakhir dengan menggantung, karena Anjani yang langsung masuk ke dalam mobil begitu Lea datang menghampirinnya.
Karena di tinggal begitu saja tanpa adanya jawaban, membuat Rama hanya bisa pasrah dan menatap kepergian Anjani.
__ADS_1
"Susahnya." Gumamnya sembari menatap ke arah mobil Anjani yang sudah mulai menjauh dari hadapnya.
Ia yang sejatinya baru dari arah taman, kembali masuk ke dalam apartemenya dengan ekpresi terlihat sedikit menyesal karena lagi-lagi gagal mengajak bicara Anjani, namun di satu sisi ia sudah cukup puas akan hal itu.