
Kau bilang, aku harus bahagia. Hidup dengan bebas dan sesuai yang aku lakukan. Tapi, kau malah pergi sebelum melihat semuanya. Memberiku luka, rasa bersalah dan juga penderitaan baru untukku.
Apa bahagia itu pantas untukku? kalau ya,bagaimana caranya, aku juga ingin tertawa, tersenyum dengan ekpresi tanpa beban dan bercanda dengan riangnya.
Haruskah aku terlahir kembali! dengan begitu mungkin aku bisa merasakan hal yang sama seperti mereka, yang hidup dengan bebas tanpa ada yang perlu di khawatirkan.
Kini, aku tak tau dengan apa yang ku lakukan, selama ini aku hanya berlari tak tentu arah,menghindar sejauh pandangan dan mengelak segalanya.
Melihat para anak-anak yang tersenyum dengan ceria dan riangnya, aku tersadar akan satu hal, kalau dulu harusnya aku melakukan hal seperti itu, walau itu hanya sedikit.
......................
Hingga hari mulai sore mereka berada di panti asuhan, berbagi kebahagiaan dan juga keceriaan pada para anak-anak penghuni panti.
Melihat para anak-anak yang tetap ceria dan riang seperti tak ada beban, meski mereka telah kehilangan orang tua dan keluarga mereka adalah karena mereka bertemu pada orang yang tepat dan berada pada tempat yang tepat untuk mereka.
Setiap kali melihat keceriaan itu, Anjani terlihat agak iri pada mereka. Ia menganggap bahwa mereka lebih beruntung darinya, karena setidaknya ada orang dewasa yang menyayangi mereka.
"Saya sangat berterimakasih pada Ibu Anjani yang sudah mau berkunjung dan memberi kami bantuan, dukungan ibu sangat berarti bagi kami." Ucap dengan tulus bu Kasih, selaku pengurus panti asuhan Pertiwi.
__ADS_1
"Iya, saya juga merasa senang." Balas Anjani.
"Terimakasih juga pada Lea yang mau datang lagi kemari, memberi harapan dan dukungan pada anak-anak."
"Iya, bu. Maaf karena saya baru datang sekarang, soalnya saya tidak punya keberanian untuk datang kesini, mengingat saya yang belum berhasil dulu, tapi setelah saya bertemu dengan Ibu Anjani, saya jadi bisa dengan bangga bertemu dengan ibu lagi dan para anak panti." Ujar Lea memberi kejelasan alasan ia yang tak kunjung datang setelah keluar dari panti asuhan, mengingat tak ada hal yang ia lakukan setelah keluar pertama kali dari panti asuhan.
"Tidak apa, yang penting kamu tetap sehat. Hal itu saja sudah buat ibu bahagia melihatnya." Balas bu Kasih tersenyum ramah pada Lea.
"Kalau begitu saya dan bu Anjani pamit, saya berharap ibu dan para anak-anak tetap sehat dan kita bisa bertemu lagi di lain kesempatan" Pamit Lea.
"Iya, kamu juga ya.. jaga kesehatan kamu. Ibu sangat berterimakasih sekali padamu dan juga pada bu Anjani yang sudah mau datang ke panti asuhan yang sederhana ini." Ujar bu Kasih merasa terharu pada kehadiran Lea dan Anjani.
Di samping mereka, Anjani menatap mereka dengan ekspresi asing. Sebuah pemandangan yang amat asing baginya. Karena ia tak pernah memiliki momen yang mengharukan seperti itu.
Sungguh kehidupan yang tak berwarna.
...****************...
Terkadang kita harus melihat pada hal baru,dengan begitu kita akan tau tentang hal baru yang penuh warna dan tantangan. Menatap pelangi yang indah dalam alam yang bebas.
__ADS_1
Dalam kesuraman hatinya, dalam kesedihan dan luka di dalam hatinya, adakah setidaknya kebahagiaan untuknya.
Hidup tanpa ekspresi dan bersikap dingin pada semua hal, sangat mematikan tingkat rasa di hatinnya, tak ada nyawa dan sangat hambar. Bahkan, setiap harinya memberikan ekpresi yang memperlihatkan seolah tak menikmati hidupnya.
Membuang semua hal yang berwana di hidupnya dengan menutupinya pada kelabu hatinya. Akankah hari ia bisa merasakan kata bahagia itu terjadi, mungkin ia yang harus menjawabnya sendiri.
......................
Pukul 22.00 tepat, keduanya sampai pada apartemen. Setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan namun juga membahagiakan, baik Anjani dan Lea kembali dengan perasaan sedikit puas dan lega, terutama untuk Lea yang akhirnya bisa kembali pada tempat asalnya dulu.
"Terimakasih, bu sudah mau menemani saya datang ke panti asuhan saya dulu dan juga telah memberikan bantuan pada panti asuhan." Kata Lea begitu sampai di depan apartemennya.
"Iya, terimakasih juga karena sudah mau mengajakku kesana. Masuklah, sudah malam." Pinta Anjani.
"Baik, kalau begitu saya pamit." Pamit Lea masuk kedalam apartemenya yang ternyata berada tepat di depan apartemen Anjani.
Hingga Lea masuk ke dalam, Anjani masih diam mematung dengan ekpresi yang tak bisa di artikan. Terlihat serius dan penuh dengan tanda tanya.
Berbalik kemudian dan melangkah perlahan ke arah apartemenya.
__ADS_1