Hilang?

Hilang?
BAB 15 (Hal Yang Tak Pasti)


__ADS_3

'Aku tidak tau apa yang membuatnya bertahan hingga kini pada perasaan semunya. Padahal tidak ada hal yang harus di pertahankan pada hal yang tak pasti.'


Johan menatap lurus pada sahabat di depanya. Tatapannya merasa prihatin juga respect di saat yang sama.


"Setelah ini kamu akan balik lagi ke rumah sakit?" Ucapnya di sela obrolan.


"Iya, kenapa emang?"


"Nggak sih, cuma tanya doang."


Sejenak Johan terdiam, ekspresinya menunjukkan keraguan ketika hendak bertanya pada Rama.


"Oh iya, apa kamu gak baca berita?"


Rama menatap Johan dengan ekspresi bingung.


"Berita? Memangnya ada berita apa?"


"Nggak, itu lho katanya harga ca.. be.. naik."


Rama tertawa mendengar Johan mengatakan soal kenaikan harga cabe. Sedangkan Johan tampak malu karena sudah bicara omong kosong.


"Apa'an sih kaya ibu-ibu aja." Ucap Rama sambil menahan tawanya.

__ADS_1


"Duh gak tau deh, kebetulan tadi gak sengaja lihat berita itu jadi ingetnya itu deh." Dalih Johan.


"Oh iya, kayanya aku harus balik ke rumah sakit sekarang deh, sepertinya ada pasien yang harus aku operasi." Ujar Rama sembari berdiri dari tempat duduknya dengan agak buru-buru sambil melihat ke arah handphone-nya.


"Yaudah, pergi duluan aja. Em.. tapi.. tunggu.. " Ucap Johan sejenak menghentikan langkah Rama.


"Kenapa?"


"Apa kamu tidak mengecek berita di hp milikmu sekalipun?" Ucapnya lagi dengan sedikit agak hati-hati.


"Hah! berita? emang ada berita apa sih? apa itu penting?" Balas Rama yang merasa tak faham dengan ucapan Johan.


"Nggak, bukan apa-apa kok, yaudah sana pergi nanti pasienmu nungguin." Kata Johan dengan senyum kelegaan yang terlihat dari ekspresinya.


Rama bergegas keluar dari restauran menuju rumah sakit meninggalkan Johan yang masih berada di tempatnya.


Fiuh.. Johan terduduk lega begitu Rama menjauh dari hadapanya, terlebih ia mengetahui bahwa Rama belum mendengar berita perihal kedatangan Anjani, itu sedikit membuat hatinya lega.


"Padahal hari ini aku harus ke bandung, jadi harus di undur deh gara-gara memastikan soal ini." Gumam Johan yang perlahan juga mulai meninggalkan restauran dengan helaan nafas kelegaan.


...****************...


Di samping itu, orang yang tengah di bicarakan itu kini tengah terbaring lemas di atas tempat tidurnya. Meski masih agak pucat, namun kondisinya terlihat membaik setelah meminum obat untuk pereda kecemasannya.

__ADS_1


Melihatnya yang tampak sudah menyiapkan obat ketika ia mengalami serangan panik secara mendadak, terlihat jelas bahwa ia tak hanya pernah sekali mengalami hal tersebut. Gangguan serangan panik yang tiba-tiba itu pasti juga berhubungan akan masa lalunya. Mengingat asisten pribadinya yang mengatakan bahwa gangguan paniknya sudah lama tak kambuh lagi seperti sekarang yang sedang di alaminya.


Perempuan yang tak bisa mengekspresikan diri tersebut agak kesulitan bernafas dengan kondisi tubuh yang tampak mengeluarkan keringat dingin di seluruh wajahnya, jantungnya berdetak tak karuan dengan tangan yang terlihat gemetaran.


"Saat anda bilang akan datang kesini, hal seperti ini sudah saya perkirakan akan terjadi mengingat bagaimana anda berjuang selama ini." Gumam Lea dalam hati melihat pemandangan di depanya melihat kondisi Anjani yang tengah berbaring lemas.


Ia mengingat lagi hal ketika pertama kali Anjani memberitahunya bahwa ia akan kembali ke rumahnya ketika masih berada di new york.


"Ibu akan kembali? apa ibu yakin?" Ucapnya mencoba meyakinkan dengan ekspresi agak terkejut.


"Benar, aku akan kembali. Apa menurutmu itu keputusan yang salah?"


"Tidak, bukan begitu maksud saya. Hanya saja saya menghawatirkan kondisi anda."


Anjani tersenyum tipis mendengarnya.


"Terimakasih sudah menghawatirkanku, aku gak pa-pa kok." Ucap Anjani menatap Lea dengan senyum tipis di sudut bibirnya.


"Kalau anda bilang seperti itu saya akan mengikutinya." Balas Lea tak membantah.


Karena itu keputusan Anjani, tentu saja Lea tak berani untuk membantah atau melarangnya. Ia hanya menghargai akan keputusan tersebut.


"Sepertinya akan sulit bagi anda untuk beradaptasi disini." Ucap Lea dengan nada sedih dengan ekspresi khawatir melihat kondisi Anjani yang masih terbaring di atas tempat tidur.

__ADS_1


__ADS_2