Hilang?

Hilang?
BAB 26 (Sebuah Tragedi)


__ADS_3

Hari itu tak ada yang berbeda, terlihat sama seperti biasanya. Rumah yang tak pernah damai itu juga masih sama. Perkataan kasar dari orang tuanya juga masih sama tak ada yang berubah meski saat itu ia sudah menginjak usia 18 tahun.


Anjani terlihat bahagia, karena akhirnya ia bisa lulus dari sekolah. Dia akan melanjutkan kehidupan barunya sebagai seorang mahasiswi. Namun, pada hari yang bahagia tersebut juga menjadi hari kelabu baginya. Tragedi yang tak terduga terjadi pada dirinya, ketika ia tak sengaja membunuh ayah kandungnya sendiri.


Karena kejadian tersebut membuat dirinya mengalami gangguan secara mental dan membuatnya harus di terapi selama 3 tahun lamanya. Ia yang harusnya di dakwa sebagai pelaku pembunuhan di bebaskan bersyarat setelah melihat kondisinnya yang tak stabil dan pengakuan dari sang ibu tentang kebenaran ceritannya.


"Ibu.. aku membunuhnya." Ucap Anjani dengan nada dan tubuh yang gemetar menatap ibunya.


Sang ibu yang melihat pemandangan yang berada di depanya, merasa kaget dan juga sedikit terguncang. Ia tak menyangka bahwa suaminya akan meninggal tepat di hadapanya dengan Anjani yang masih memegah sebuah guci yang sudah pecah di tanganya karena habis di buat memukul kepala ayahnya. Tanganya tampak berdarah karena mengenai pecahan tersebut.


Melihat pemandangan tersebut, sang ibu hanya terdiam dan sedikit terpaku mencoba memahami keadaan yang terjadi. Kondisinya tak baik dan terlihat lemah, penampilanya juga berantakan karena habis mendapat kekerasan fisik dari suaminya yang tengah mabuk.


Anjani hanya ingin menghentikan ayahnya, namun ia tak sadar bahwa apa yang ia lakukan membuatnya harus membunuh ayahnya, ia yang bersama ibunya ketika itu tengah mendapat pukulan demi pukulan dari ayahnya dan dia hanya ingin membela diri dari amukan ayahnya yang tengah mabuk.


Anak dan ibu itu sangat terkejut mendapati hal tersebut, sama-sama merasa terpaku dengan situasi yang terjadi.

__ADS_1


"Anjani sadarlah nak, sekarang pergilah menjauh dari sini." Ucap sang ibu menghampiri Anjani yang masih diam terpaku di tempatnya.


"Ibu mohon pergilah, menjauhlah biar ibu.. biar ibu yang mengatasinya, jadi.. pergilah. Pergi dan hiduplah dengan bebas dan lakukan apapun yang kamu inginkan." Kata ibu lagi dengan nada bergetar.


Namun Anjani masih tetap terpaku dengan tatapan kosong di tempatnya berdiri sambil memandang tubuh ayahnya yang tergeletak tak sadarkan diri dengan darah yang terus mengalir deras dari kepalanya.


"Anjani sadarlah nak.." Guncang sang ibu pada tubuh Anjani dan menangis memeluk tubuh anaknya.


"Maafkan ibu, ibu minta maaf.. ini salah ibu yang sudah mengabaikanmu dan membiarkan kamu mengalami hal seperti ini. Ibu mohon... beri ibu kesempatan untuk membalasnya, jadi.. pergilah nak." Dengan nada getar dan tubuh yang juga gemetar menatap anaknya yang tak kunjung sadar dari rasa kagetnya.


"Aku sudah membunuhnya.." Seru Anjani lalu pingsan di dalam pelukan ibunya.


......................


Masih di depan makam ibunya, Anjani terduduk lemas dengan terus memohon maaf pada ibunya yang telah tiada.

__ADS_1


"Aku bersalah membiarkan dia yang harus menanggung semua kesalahan yang aku lakukan."


"Hari itu.. harusnya aku bicara dan bilang kalau aku yang membunuh, tapi aku bahkan tidak bisa bicara dan membiarkan ibuku yang harus menanggung semuanya."


Anjani terisak mengingat kembali tragedi 14 tahun yang lalu tersebut. Terduduk lemas dengan air mata membasahi pipinya, menatap makam ibunya yang berada tepat di depanya, ia tak kuasa menahan kesedihanya dengan terus merasa bersalah pada mendiang ibunya.


Lea yang berada di sampingnya hanya bisa menepuk pundak Anjani agar lebih tenang.


"Mungkin ini sudah keputusan ibu anda, saya berharap anda tidak menyalahkan diri anda sendiri, karena saya yakin ini juga yang di harapkan oleh mendiang ibu anda. Situasi saat itu juga tidak bisa menyalahkan anda sepenuhnya, karena itu murni sebuah kecelakaan." Seru Lea menenangkan Anjani.


Anjani menghapus air matanya yang sudah sangat membasahi pipinya, ia jadi lebih tenang mendapat penghiburan dari Lea.


"Aku sangat berterimakasih pada kamu, karena kamu adalah orang yang masih mau berada di sisiku meskipun tau akan masa laluku yang buruk."


"Saya yang harusnya berterimakasih pada anda karena sudah mau menampungku yang tidak punya tujuan ini, bahkan memberiku posisi seperti ini." Balas Lea.

__ADS_1


Anjani menyunggingkan senyum kecil di sela tangisanya setelah mendengar perkataan tulus dari Lea. Ia merasa bersyukur akan kehadiran Lea di sisinya.


__ADS_2