
Dalam keheningan hati.. aku ingin bersuara.
Dalam kebimbangan diri ini.. aku ingin melangkah.
Dan dalam perasaan yang dalam ini.. aku hanya ingin bertahan.
Jangan Menyukaiku
Kata yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, dan entah mengapa begitu menyakitkan hati. Dalam sudut hatinya yang terdalam, terasa nyeri dan berdetak tak karuan. Apa ini yang di namakan di tolak sebelum benar-benar menyatakan perasaan.
Apa dia tahu perasaan ini? Aku bahagia begitu dia mengingatku, tapi tak pernah kusangka akan mendengar hal seperti itu. Sebenarnya apa yang sudah ku lakukan selama ini..
Rama seolah berada dalam tebing yang curam. Ia tak tahu apakah jatuh ke dalam ataukah tetap berdiri di atasnya.
"Bagaimana? kamu sudah bertemu dengan pasien itu?" Tanya Ayah Rama begitu melihat Rama yang datang ke ruanganya.
"Ayah.." Seru Rama menatap wajah Ayahnya.
"Ayah sengaja ya menyuruhku jadi dokter pengganti ayah?"
"Benar, ayah sengaja. Yah.. ayah hanya memberikan jalan untukmu. Bukankah ini hal yang bagus buatmu?" Ujar Ayah tenang.
Rama menatap ayahnya bingung.
"Jalan buatku? maksud ayah apa?"
"Harusnya kamu sudah tau apa yang ayah maksud."
"Apa ayah tau soal Anjani?"
__ADS_1
Ayah terdiam.
"Ayah tidak tau." Jawabnya kemudian.
"Kalau ayah tidak tau, kenapa ayah bersikap seperti ini!."
"Bersikap seperti apa maksudmu?, kamu ini terlalu kaku jadi anak." Ucap Ayah menatap wajah anaknya yang terlihat kebingungan.
"Anggap aja ayah membantumu, jadi manfaatkan itu."
"Dan.. kamu harus pastikan sendiri, dengan begitu kan kamu tidak akan ragu lagi, dan yang lebih penting dari itu adalah.. selesaikan semuanya sebelum mamamu tau." Kata Ayah lagi menepuk pundak anaknya.
"Ayah tau sesuatu ya?" Tebak Rama melihat ayahnya yang seolah menyadari cerita tentang dirinya.
Ayah terlihat salah tingkah dan tak bisa dengan cepat menjawab pertanyaan Rama. Ekspresinya tersebut tak luput dari perhatian Rama. Melihat hal tersebut Rama menghela nafas kecil.
"Cerita apa? orang ayah gak tau apa-apa." Kelak Ayah.
"Sejak kapan ayah tau?" Tanya Rama lagi tak begitu percaya ucapan ayahnya.
"Eeiihh gini-gini ayah juga pernah muda kali, jadi ayah ini cukup peka soal begituan." Ujar Ayah penuh percaya diri.
Rama menatap wajah ayahnya, ekspresinya terlihat menyelidik pada ayahnya.
"Kalau begitu sekarang Ayah aja deh yang lanjut, dia kan pasien ayah. Aku mau balik ke rumah sakit." Ucap Rama kemudian dengan sedikit tak bersemangat.
"Sepertinya tak berjalan bagus ya! Kalau begini harus ayah yang maju."
"Apa maksud ayah? apanya yang tidak berjalan bagus? Jadi ayah tau sesuatu ya?.."
__ADS_1
"Gak tuh," Ujar ayah memasang wajah tenang.
"Ayah masih ada pasien, jadi ayah harus pergi ok.." Ujarnya kemudian meninggalkan Rama seorang diri di ruanganya.
Rama menatap punggung ayahnya yang mulai menjauh darinya.
Aku yakin ayah tau sesuatu? Apa Johan yang cerita ya? karena hanya dia yang tau selama ini. - Batin Rama.
...****************...
Di tempat yang berbeda, terlihat seorang perempuan dengan membawa sebuah bunga dan bingkisan di tanganya tengah bersiap untuk pergi.
Melepas jubah dokternya, ia meluangkan waktu sejenak untuk menjenguk seseorang. Diana, terlihat menuju rumah sakit tempat mama Johan di rawat.
"Lho, Diana!" Sapa mama Johan begitu melihat Diana datang ke ruangan inapnya.
"Lho tante sudah boleh pulang." Seru Diana melihat mama Johan tampak sedang merapikan barangnya dan bersiap untuk pulang.
"Iya, hari ini tante sudah boleh pulang."
"Waduh, berarti saya terlambat dong."
"Gak pa-pa, tante juga lagi nungguin Johan datang buat jemput tante."
"Bagus deh, setidaknya saya masih bisa bertemu dengan tante."
"Kamu ini, harusnya tidak usah repot-repot bawa sesuatu. Tante senang hanya kamu datang menjenguk tante." Ucap mama Johan melihat bingkisan yang di bawa oleh Diana.
Diana hanya tersenyum mendengarnya.
__ADS_1