
Ting, bunyi pintu lift terbuka. Dengan langkah pelan ia masuk ke dalam lift menuju lantai apartemennya yang berada di lantai 37.
Sudah dua hari setelah kepindahanya di apartemen, meski masih baru dengan suasananya, nyatanya tak membuat Rama kesulitan. Terbiasa hidup mandiri sejak kuliah membuatnya tak kesusahan dalam beradaptasi.
Selain mencari suasana baru dan ingin menyendiri, ia pindah karena agar lebih dekat dengan tempat prakteknya. Mengingat profesinya yang seorang dokter, kerap kali pulang larut membuatnya memutuskan untuk pindah agar lebih efisien.
"Kenapa?" Ucap Rama menjawab telfonnya yang berdering sedari tadi sejak ia mau masuk ke dalam apartemennya.
"Aku boleh mampir gak ke apartemenmu? mumpung aku lagi jalan ke arah apartemenmu nih!" Jawab sang penelfon yang tak lain adalah sahabat dekatnya, Johan.
"Em.. mampir aja, aku juga lagi ada di rumah."
"Bagus deh, aku mampir kalau gitu. Aku tutup telfonnya ya!. Tuut.. " Nada telfon terputus begitu saja tanpa memberi kesempatan bagi Rama untuk menjawabnya.
Rama hanya bisa menghela nafas dan menaruh kembali handphonenya di atas meja. Bersandar sejenak di atas sofa miliknya dan sesekali menghela nafas pendek.
Namun, perhatianya teralihkan begitu mendengar suara bunyi bel apartemennya yang tengah berbunyi. Ia pun dengan segera melangkah menuju ke arah pintu.
"Cepet banget, perasaan baru tadi kamu telfon?" Ucap Rama begitu membuka pintu apartemennya.
"Aku emang lagi dekat waktu telfon kamu tadi." Johan berlalu begitu saja begitu Rama membukakan pintu apartemen untuknya.
__ADS_1
"Apartemen mu gede juga ya!." Komentarnya setelah melihat ke dalam apartemen Rama.
"Em.."
"Gimana? enak gak setelah pindah?"
"Biasa aja."
"Akhirnya seorang Rama bisa bebas juga."
"Bebas apanya, emang aku habis di kurung apa?"
"Yah men, itu tuh perumpamaan doang. Kamu juga pasti ngerasa gitu kan?"
"Salah satu proyek yang lagi aku handle kebetulan ada di dekat sini."
Hanya Johan yang akrab dengan Rama, bahkan keduanya sudah seperti keluarga karena mengingat hubungan kedua orang tua mereka.
Karena ke akraban tersebut membuat keduanya saling mengetahui sisi lain dari mereka yang mungkin tak di ketahui banyak teman dekat mereka dan orang di sekitarnya. Dan mungkin hanya Johan yang mengetahui perasaan terpendam seorang Rama.
"Gak ke rumah sakit?"
__ADS_1
"Hari ini aku pulang lebih awal. Kenapa?"
"Gak kenapa-napa, hanya biasanya susah banget buat ketemu sama kamu."
"Geli banget sih, orang biasanya juga ketemu."
Johan terkekeh mendengarnya.
"Gimana hubunganmu sama Diana? Ada kemajuan gak?"
Mendengar itu Rama hanya bisa menghela nafas panjang.
"Ngela nafas mulu, jangan bilang masih gak ada kemajuan sama dia?"
"Emangnya gak ada bahan lain apa buat di bahas, setiap ketemu pasti bahas itu." Jengah Rama melihat sahabatnya yang selalu membahas hal tersebut setiap kali bertemu.
"Terus bahas apa dong? habisnya setiap ngeliat mukamu bawaanya pengen bahas itu." Ucap Johan tak acuh sambil menyeruput minuman yang di bawakan oleh Rama.
"Bahas proyek yang sedang kamu garap aja."
"Proyek ku? Sejak kapan kamu tertarik! lagian aku cerita juga gak bakal nyambung." Jujur Johan dan perlahan duduk di sofa.
__ADS_1
"Terserah deh." Pasrah Rama tak perduli.
Johan tersenyum simpul di sudut bibirnya. Dua sahabat lama tersebut saling melepas rindu setelah sekian lama tak bertemu.