Hilang?

Hilang?
BAB 30 (Bertemu Idola)


__ADS_3

Sahila berlari ke arah orang tersebut, untuk memastikan apakah tebakanya benar.


"Selamat pagi." Sapanya sopan.


Merasa ia di sapa, orang yang tak lain adalah Anjani mengedarkan pandanganya ke arah Sahila yang berada di belakangnya.


"Anda pemilik brand A cosmetic itu kan? Kenalkan namaku Sahila." Ucap Sahila dengan ceria dengan mengulurkan tanganya.


Anjani tak langsung membalas uluran tangan tersebut, ia sejenak menatap Sahila yang berada di depanya, lalu membalas uluran tangannya.


"Saya penggemar brand anda lho! produk anda bagus-bagus banget, terus produk terbarunya juga bagus banget, aku suka! dan ini.." Ucapnya sambil menenunjukan sesuatu pada Anjani.


"Bagus kan! aku suka banget sama produk ini." Dengan ceria dan semangatnya ia mengungkapkan isi hatinya yang sangat antusias bertemu dengan idolanya.


"Terimakasih." Balas Anjani singkat.


Sahila tersadar akan satu hal ketika melihat Anjani yang berada di sekitar gedung apartemen yang sama dengan tempat tinggal kakaknya.


"Anda kok ada di sekitar sini, apa anda tinggal disini?" Tanya Sahila merujuk pada Anjani yang terlihat di area parkir tempat apartemen kakaknya tinggal.


"Iya saya tinggal disini."

__ADS_1


"Uwah, daebak. Berarti sama dong sama kakak saya. Kakak saya juga tinggal disini lho." Seru Sahila merasa kagum dengan kebetulan ini.


Berarti aku bisa punya alasan buat datang kesini lagi.


Sahila tampak tersenyum kecil melihat kebetulan yang tak di sengaja ini. Sungguh berkah baginya yang sedari tadi agak tak bersemangat.


"Oh iya, apa saya boleh meminta foto bareng!" Pintanya kemudian.


"Emm.."


Melihat hasil fotonya, Sahila tampak puas dan tersenyum gembira.


"Saya harus pergi sekarang, jadi.. bolehkah anda sedikit menjauh." Kata Anjani pada Sahila yang tengah berdiri di depan mobilnya.


"Terimakasih fotonya." Ucapnya lagi sebelum akhirnya benar-benar menjauh dan berjalan ke arah mobilnya sendiri.


"Aku seneng banget." Serunya bersorak gembira.


Namun, kegembiraanya terhenti begitu ia mendapat telfon dari nyonya Farah, yang tak lain adalah mamanya.


"Aish.. mama ini bikin moodku buruk lagi." Gerutunya lalu menjalankan mobilnya tanpa mengangkat telfon darinya.

__ADS_1


...****************...


Berada di tempat yang berbeda, Rama yang tengah istirahat dari aktivitasnya tengah menatap layar ponselnya. Ia yang sejatinya akan menelfon sang adik mengurungkan niatnya, mengingat ada panggilan darurat.


Sepergian Rama, terlihat beberapa dokter datang ke tempat yang sama dan memandang kepergian Rama yang terlihat buru-buru.


"Dia emang dokter yang di andalkan, tapi apa gak pa-pa kalau dia begitu terus? Bisa-bisa pingsan nanti."


"Iya, bukanya hari ini dia terlalu memaksakan diri ya!"


"Bukanya itu pemandangan yang biasa kita lihat! Setiap kali dia gagal menyelamatkan seorang pasien, pasti dia akan begitu?"


"Iya sih, tapi bukanya dia terlalu berlebihan! Kita juga bukan tuhan, jadi buat apa terlalu merasa bersalah. Toh kalau sudah waktunya mati, kita gak bisa berbuat apa-apa walau sudah berusaha. Kadang aku gak suka sifatnya yang begitu, seolah kita ini gak lebih baik dari dia."


"Iya bener, kadang dia terlalu berlebihan"


"Itulah kenapa dia harusnya menikah saja kalau sudah berumur, agar gak terlalu serius hidupnya."


"Kenapa jadi bahas itu coba? Emang apa hubunganya?"


"Emang bener kan? Dia punya wajah ganteng, karir bagus, apa coba yang buat dia terus sendiri! Memangnya hati wanita bisa apa di suruh menunggu terus?"

__ADS_1


Semua terdiam, seperti tau arah dari perkataan rekanya tersebut yang merujuk pada hubungan antara Diana dan Rama. Dan sepertinya hubungan keduanya sudah jadi bahasan umum di sekitar para rekan dokternya.


__ADS_2