
Dalam hidup yang tidak pernah di tebak alurnya, hanya bisa menerima apapun takdir yang menghampiri. Berusaha sekuat yang di bisa, dan menjalankan apapun itu keadaanya.
Begitulah Anjani yang harus tetap menjalani kehidupannya, ia yang seharusnya melanjutkan kuliah setelah lulus sekolah harus terpaksa memutus impiannya. Beasiswa yang ia dapatkan tak jadi ia gunakan, meski kesempatan itu datang lagi padanya.
Di saat semua teman-temanya sudah menemukan hal yang mereka inginkan, ia harus memulainya dari awal. Ia yang sejatinya harus melanjutkan studynya di dalam negeri memutuskan untuk memilih ke luar negeri dengan harapan mengubah hidup dan juga untuk menemukan jati dirinya kembali yang sempat hilang tak terarah karena sebuah tragedi yang di alaminya. Bukan hal yang mudah baginya, namun ia bisa tetap bangkit dan berada pada posisi seperti ini adalah bentuk keberhasilanya.
"Maaf ya, aku harus menunjukkan hal buruk padamu." Kata Anjani yang merasa agak malu pada Lea yang melihatnya menangis di depan makam ibunya.
"Itu kan bukan sebuah kesalahan, lagi pula hal tersebut terkadang memang di perlukan agar hati lebih rileks." Balas Lea merujuk pada tangisan Anjani.
"Iya, sekarang hatiku agak lebih lega." Seru Anjani dengan ekspresi lega tersinar dari wajahnya yang menampakkan senyum manisnya.
"Aku tidak tau kalau tidak ada kamu, mungkin aku akan tetap sendirian di dunia ini." Lanjutnya lagi.
"Terimakasih.." Ucapnya dengan tulus pada Lea yang berjalan di sampingnya.
Keduanya pun melangkah ke luar dari area pemakaman dan menuju ke arah mobil dengan perasaan lega terutama bagi Anjani yang telah berhasil mengungkapkan semua isi hatinya di depan makam ibunya.
...****************...
Di tempat yang berbeda, bertempat di salah satu ruangan, terlihat kepanikan seorang pria yang tengah menanti dengan penuh harap pada dokter yang tengah memeriksa mamanya.
Johan di temani sang papa terlihat panik menunggu hasil dari pemeriksaan sang mama. Ia yang sejatinya sedang meninjau proyek yang sedang ia kerjakan langsung pergi ke rumah sakit begitu mendengar kabar bahwa sang mama tiba-tiba pingsan.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan mama saya dok?" Ucapnya begitu melihat dokter keluar dari ruangan sang mama.
"Mama anda untuk saat ini baik-baik saja, detak jantungnya juga sudah kembali normal, sekarang ia memang masih pingsan, tapi tidak perlu ada yang di khawatirkan, karena kondisi pasien saat ini dalam keadaan stabil." Jawab dokter tersenyum menenangkan.
Baik Johan dan papanya terlihat tersenyum lega mendengarnya.
"Syukurlah aku takut kenapa-napa" Seru Johan tak hentinya menghela nafas lega dan melemaskan tubuhnya yang sedari tadi tampak tegang.
"Mama kamu kan sudah tidak pa-pa, kamu kembali saja ke kantor." Ujar papa pada Johan.
"Emm, tapi aku mau lihat kondisi mama dulu." Balasnya kemudian melangkah masuk ke dalam ruangan mamanya di ikuti juga oleh papanya.
Dengan infus yang menancap di tanganya dan wajah yang tampak pucat terlihat jelas dari wajah mamanya, namun begitu melihat detak jantungnya yang terlihat normal sedikit melegakan hati Johan.
"Ok, aku pergi ya Pa." Pamit Johan dengan perasaan agak berat meninggalkan mamanya.
Johan melangkah keluar dari ruangan mamanya dengan perasaan berat dengan sesekali menengok ke arah mamanya yang tengah terbaring.
Melangkah kan kaki ke luar rumah sakit dengan perasaan yang tak hentinya merasa lega, namun di satu sisi juga ia merasa menyesal karena tak bisa menemani mamanya.
"Johan, kamu disini?" Sapa seseorang pada Johan dan membuat ia menghentikan langkah kakinya.
Merasa namanya di panggil, Johan dengan segera mencari arah sumber suara tersebut dan mendapati om Wardana, ayah dari Rama sahabatnya sendiri.
__ADS_1
"Om." Ucapnya sambil bersalaman.
"Kamu disini? kamu sakit?"
"Oh enggak kok om, bukan aku yang sakit tapi mama."
"Mama kamu? sakit apa emangnya? terus gimana keadaanya sekarang?"
"Serangan jantung mama kambuh lagi, tapi sekarang sih udah agak stabil cuma ya masih belum sadar aja,"
"Oh syukurlah kalau begitu. Kamu mau balik? terus mama kamu siapa yang jaga?"
"Ada papa di dalam, saya harus balik ke kantor karena tadi aku meninggalkan pelerjaanku begitu saja karena mendengar mama pingsan."
"Kamu berbakti juga ya sama mama kamu, bagus itu. Cepet nikah sana ajakin tuh si Rama juga." Canda om Wardana.
"Om bisa aja, nanti aku sampein deh ucapan om ke Rama kalau ketemu."
"Iya sampein ya, suruh nikah biar om ini juga tenang."
Obrolan singkat namun hangat, meski bukan keluarga kandung namun hubungan mereka baik layaknya sebuah keluarga.
"Aku pergi dulu ya om." Pamit Johan.
__ADS_1
"Iya, hati-hati ya!"