
Tak ada yang menginginkan masuk ke dalam rumah sakit, itu juga yang di rasakan oleh Anjani. Sudah hampir 3 hari ia di rawat karena usus buntunya. Berada dalam ruangan yang tertutup membuatnya suntuk dan gak bersemangat, hingga akhirnya ia memutuskan untuk keluar sejenak dari ruanganya.
Di bantu Lea sang asisten pribadinya, ia akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di sekitar area taman rumah sakit.
Semua pemandangan yang ia lihat di depanya, hanya memperlihatkan seseorang dengan menggunakan seragam pasien seperti dirinya.
Tatapanya begitu datar melihat pemandangan di depanya. Taman yang indah dan cantik itu penuh dengan seorang pasien di dekatnya.
Berada di kursi roda, ia duduk termenung menikmati pemandangan di sekitarnya. Meski semua berlalu lalang memperlihatkan seorang pasien, di sekitarnya juga terdapat banyak bunga dan tanaman cantik yang dapat memanjakan mata.
"Cantik ya bu, bunganya." Seru Lea melihat bunga yang cantik di sekitarnya.
"Iya." Jawab Anjani singkat dengan wajah datar khas dirinya.
"Tadi, sepertinya anda di periksa oleh dokter yang berbeda, apa dia dokter pengganti.?" Tanya Lea yang tiba-tiba teringat hal tersebut.
"Tidak tau, katanya sih begitu."
"Oh, aku jadi ingat sesuatu. Bukanya dia dokter yang sebelumnya anda minta untuk di selidiki?"
__ADS_1
"Benar, itu dokter yang aku maksud."
"Kok dia ada disini? bukanya dia tidak bertugas disini ya!" Heran Lea.
Anjani hanya terdiam, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya setelah Lea membahas soal Rama. Ekspresinya ingin berkata sesuatu, namun ia nampak ragu untuk melakukanya.
"Lea." Panggilnya kemudian dengan tatapan lurus ke depan.
"Iya, ada apa bu?"
"Kalau ada laki-laki yang menatapmu hangat.." Anjani sejenak menghentikan perkataanya.
"Emm, pasti akan jadi canggung sih. Tapi, di satu sisi aku juga akan merasa senang kalau itu dari orang yang ku suka." Jawab Lea dengan tersenyum menatap ke arah Anjani.
Mendengar jawaban tersebut, membuat Anjani terdiam memikirkan sesuatu.
"Orang yang ku suka?" Gumamnya tersenyum tak percaya.
Memikirkan saja membuat Anjani tak percaya itu terjadi pada dirinya, karena baginya itu merupakan hal yang mustahil.
__ADS_1
"Apa semua laki-laki akan begitu pada orang yang di sukainya?"
"Itu pasti, karena biasanya laki-laki tidak mudah mengekspresikan diri, jadi terkadang mereka mengekspresikan lewat tatapan. Tapi, tidak semua sih, hanya kebanyakan yang saya tau seperti itu." Jelas Lea.
Mendengar hal tersebut, membuat Anjani menghela nafas. Di satu sisi, Lea tampak bingung melihat Anjani yang tiba-tiba menanyakan hal tersebut. Tidak seperti dirinya yang biasanya.
'Apa ada seseorang yang beliau suka ya? - Batinya.'
...****************...
Meski ia tau apa itu rasa tertarik pada lawan jenis, tapi ia tak pernah mencoba sedikit pun untuk memulai, karena baginya itu tidaklah berguna.
Mungkin alasanya adalah ia tak mau terikat dengan seseorang dan ingin hidup sendiri di sisa hidupnya.
Kehidupan orang tuanya menjadi alasan ia tak ingin mencintai ataupun berharap pada hal tersebut. Baginya, itu adalah luka yang sangat sulit untuk di obati. Laki-laki di depanya tak pernah ada yang membuatnya goyah, sekalipun banyak yang menginginkanya.
Karena itu, ia sangat berharap tak akan pernah melihat orang tertarik denganya lagi. Ia tak peduli jika mereka membencinya, tapi ia cukup terganggu jika ada yang mulai menaruh perhatian terhadap dirinya, karena akan membuat dirinya teringat akan ibu dan ayahnya.
Mungkin karena itu juga, ia mengatakan hal tersebut pada Rama. Meski cuek, nyatanya ia cukup peka pada hal-hal seperti itu, meski ia tak begitu memperdulikanya selama ini.
__ADS_1