Hilang?

Hilang?
BAB 7 (Rama Ardiansyah Putra)


__ADS_3

Pukul 20.00 WIB, di dalam kediaman keluarga Wardana.


Dalam ruangan keluarga, menampakkan kehangatan dalam keluarga kecilnya. Di penuhi dengan keceriaan, kehangatan juga kegembiraan di dalamnya.


"Gimana setelah pindah ke apartemen?" Tanya Wardana selaku ayah dari Rama.


"Tidak ada masalah." Balas Rama.


"Rasanya sepi setelah kamu pindah!" Timpal Farah, mama dari Rama.


"Mama lebay deh, meski kakak ada di rumah ini juga jarang ada di rumah karena saking sibuknya." Celetuk Sahila, adik Rama.


Tuk, sebuah timpukan pelan mendarat tepat di kepalanya, membuat Sahila mengerang sakit mendapat timpukan kecil dari mamanya.


"Jangan terlalu sibuk, jaga diri kamu dan jangan terlalu memaksakan diri juga." Ucap Wardana mencoba memberikan nasehat pada Rama.


"Yaelah yah, kak Rama itu udah gede kali pake di nasehatin segala." Kali ini giliran Sahila mengomentari ucapan ayahnya.


"Sahila, kalau ada orang tua lagi bicara jangan di potong dong! tidak sopan itu namanya." Marah Farah.


"Iya maaf deh." Balas Sahila sambil memasang muka cemberut.


Melihat pemandangan di depanya yang sudah menjadi bagian dari keseharianya selama ini membuat Rama tersenyum.

__ADS_1


"Rama akan ingat nasehatnya." Ucap Rama tersenyum ramah pada kedua orang tuanya.


"Datanglah sesering mungkin, dan benar kata ayahmu jangan terlalu memaksakan diri."


"Iya ma."


'Aku tidak tau kenapa sampai berfikir untuk pindah. Hanya saja saat itu terlintas begitu saja, dan rasanya bagus juga untuk menghindari pembicaraan seputar pernikahan yang selalu di lontarkan oleh kedua orang tuaku. Aku hanya ingin menyendiri dulu, begitulah pikirku hingga memutuskan untuk pindah dari rumah yang sudah aku tempati lebih dari 30 tahun itu.' - Batin Rama.


"Kak, kapan-kapan aku boleh mampir ya ke apartemen kakak."


"Mampir aja." Ujar Rama sambil mengusap kepala adiknya dengan lembut.


"Kak, boleh nginap juga gak?" Ucapnya lagi sambil memasang wajah berharap.


"Cih, mama pake dengar lagi."


"Kalau kamu nginap, nanti malah ngerepotin kakakmu lagi."


"Ya ya ya.. itu terus, padahal aku ini sudah dewasa lho, 20 tahun Ma usiaku sekarang." Ujar Sahila menekankan usianya.


"Mama tau kamu sudah 20 tahun, tapi kelakuanmu itu masih kekanakan."


"Ah.. mama jahat." Rengeknya berlalu pergi ke kamarnya meninggalkan kakak dan kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Bener-bener deh tuh anak." Gumam Farah melihat kelakuan Sahila.


Di samping itu, mengingat hari sudah semakin malam, Rama mulai berpamitan pada kedua orang tuanya untuk kembali ke apartemennya.


"Aku pulang dulu ya Ma, Yah." Pamit Rama pada kedua orang tuanya.


"Iya hati-hati di jalan." Jawab Farah sambil memeluk hangat putra kesayanganya.


"Jaga dirimu, ayah berharap kamu tidak terlalu memaksakan diri lagi." Ujar ayah sembari menepuk pundak anaknya untuk memberikan semangat.


Mendengar hal tersebut, Rama hanya bisa tersenyum membalasnya.


...****************...


Usianya kini sudah menginjak 32 tahun, usia yang harusnya sudah matang bagi seseorang untuk memiliki seorang pasangan. Entah kekasih ataupun seorang istri.


Namun, entah mengapa begitu sulit bagi Rama. Dalam dirinya terlalu banyak keraguan untuk membuka hatinya untuk seorang perempuan yang dekat denganya.


Meski banyak perempuan yang dekat denganya, nyatanya tak membuatnya mudah untuk menaruh perhatian pada mereka ataupun mencoba untuk menjadi lebih dekat dengan mereka.


Sikapnya yang lembut dan ramah pada siapapun, sepertinya juga menjadi kelemahanya. Karena hal tersebutlah ia menjadi kesulitan dalam mendekati perempuan.


Ia malu hanya dengan sekedar berkenalan atau menyapa. Mungkin itulah yang menjadikanya hingga sekarang betah menyendiri, meski sebenarnya ia sempat beberapa kali dekat dengan seorang perempaun, namun nyatanya tak satupun dari mereka yang bisa mengetuk hatinya. Sebenarnya apa yang membuatnya begitu ragu dan kesulitan?

__ADS_1


__ADS_2