Hilang?

Hilang?
BAB 34 (Jalan Untuk Rama)


__ADS_3

Menyukaimu dan juga mengagumimu adalah hal paling aku syukuri, namun juga menjadi hal yang paling aku sesalkan selama ini.


Saat itu, harusnya aku lebih berani dengan begitu tak akan membingungkanku selama ini. Aku sendiri tidak tau kenapa bisa seperti ini, bertahan dengan terus menaruh sebuah harapan, padahal aku sendiri tidak yakin akan hal itu. Jadi.. sebenarnya kenapa aku begini? Kenapa aku terus bertahan hingga kini?...


Dalam keluarganya, tak ada satupun yang tahu perihal dilema perasaanya, mungkin hanya Johan sahabatnya yang mengetahui segala hal tentang dirinya, karena selama ini hanya pada Johan ia mencurahkan seluruh perasaanya.


"Kak, kakak gak pulang dulu ke apartemen sebelum datang kesini?"


"Iya kakak langsung kesini, kenapa?"


"Nggak pa-pa cuma nanya doang."


Berarti dia belum lihat pesan yang aku tinggalin di pintu kulkas - Batin Sahila.


"Adik kamu gak bikin masalah kan Ram di apartemenmu kemarin?" Tanya Farah pada Rama.


"Gak kok Ma, dia gak terlalu buat masalah." Balas Rama sambil melirik ke arah Sahila, mencoba menggoda adiknya.


"Kakak apa'an sih, aku kan emang gak bikin masalah." Protes Sahila dengan kesal.


Rama hanya tertawa kecil mendengar protes dari adiknya.


"Lain kali kamu harus izin sama ayah dan mama. Masa anak gadis belum pulang hingga larut malam, kalau kakakmu gak bilang, ayah sama mama kan jadi khawatir nungguin kamu pulang." Timpal ayah menasehati Sahila.


"Iya aku tau, aku mengaku salah. Ini tuh karena saking senangnya bisa datang ke apartemen kakak, soalnya bagus banget terus nyaman lagi. Aku jadi lupa deh ngasih tau ke kalian. Maaf ya!" Jawab Sahila dengan senyum khasnya.


"Anak ini gak pernah berubah ya.. Masih aja suka cengengesan." Gerutu Farah menatap wajah anaknya.


"Peace..." Ucap sahila sambil mengacungkan dua jarinya.


Dalam kegelisahanya selalu luntur begitu melihat keluarganya. Namun, di satu sisi ia juga merasa bersalah pada mereka, terutama untuk orang tuanya. Ia tahu betul apa yang di harapkan oleh mereka namun hingga kini masih belum bisa mewujudkanya.


"Eh kak, kakak tau gak soal brand A Cosmetic?" Tanya Sahila di tengah bincang keluarga.


"A Cosmetic? apa itu? kakak gak tau, kenapa emangnya?" Jujur Rama.


"Tau gak, kalau pemilik perusahaan itu tinggal di apartemen yang sama dengan kakak." Cerita Sahila dengan antusias.


"Kamu ini lho dari tadi ngomongin itu mulu, emang dia itu siapa sih?" Timpal Farah melihat ke antusiaan anaknya.

__ADS_1


"Kan aku udah bilang kalau dia itu idolaku, dia itu pemilik dari perusahaan A Cosmetic, brand kosmetik dan parfum dia sudah mendunia. Keren kan!" Jelas Sahila dengan antusias.


"Meski papa gak tau siapa dia, tapi itu bagus juga buat kamu, kamu mengidolakan orang yang tepat, coba belajar dari dia, belajar caranya bisa sukses seperti dia." Timpal Wardana pada Sahila anaknya.


"Ok. Siap boss." Saut Sahila dengan semangat.


"Jangan ok-ok aja, tapi di praktek kan." Timpal Farah.


"Iya Ma." Jawab Sahila dengan nada rendah begitu mamanya ikut menimpali.


Karena tak tau aka hal tersebut, Rama hanya bisa diam saja mendengarkan semua perkataan adiknya.


"Kak, aku boleh kan ya datang lagi ke apartemen kakak."


"Siapa bilang boleh!" Saut Farah dengan wajah tajam menatap anaknya.


"Ah mama, ini tuh strategi tau.. agar aku bisa ketemu sama idolaku lagi. Dia kan tinggal di apartemen yang sama dengan kakak." Ucap Sahila penuh percaya diri.


"Kamu kok tau dia tinggal di apartemen yang sama kaya kakak?" Tanya Rama.


"Yah soalnya aku ketemu sama dia, terus aku tanya deh dan dia bilang dia tinggal di situ."


"Ok." Seru Sahila senang.


Di tengah kesibukan dan juga kesuntukanya, hal pertama yang akan ia lakukan adalah dengan pulang ke rumah orang tuanya. Meski ia sudah dewasa, ada kalanya ia tetap bisa bersikap manja dan membutuhkan bantuan dari orang tuanya.


Seperti ketika memutuskan sesuatu hal yang sangat sulit ia putuskan atau masalah yang sulit ia hadapi, jika sudah bicara dengan kedua orang tuanya kadang kala itu membuat ia jadi tercerahkan.


Kini hanya tersisa ia dengan ayahnya di ruang keluarga. Rama menatap ragu ayahnya, ia ingin menanyakan sesuatu namun agak ragu untu mengatakanya.


"Yah.." Panggilnya kemudian.


"Em, kenapa?"


"Soal pasien di ruang cempaka no 27.." Rama mengehentikan perkataanya sejenak.


"Bagaimana keadaanya?" Lanjutnya lagi.


"Ruang cempaka?" Ayah mencoba mengingatnya.

__ADS_1


"Oh.. kondisinya sudah mulai membaik, kenapa?"


"Nggak kok, aku hanya tanya aja."


"Kamu kenal dia?"


Rama terdiam.


"Jadi kamu kenal dia?" Tanya ayah lagi.


"Iya, dia teman satu sekolahku dulu." Jawab Rama kemudian.


"Kamu tertarik sama dia?"


"Eh.." Rama tampak kaget dengan pertanyaan tiba-tiba dari ayahnya.


Bukanya menjawab, Rama terlihat agak bingung dengan pertanyaan mendadak dari ayahnya.


"Ayah pikir kamu suka sama Diana, ternyata tidak ya? Apa ayah yang salah!" Ucap ayah lagi.


"Bukan gitu, aku hanya agak kaget melihat dia di rawat waktu memberikan amplop pada suster Anna." Jawab Rama yang tak sepenuhnya bohong.


"Oh.. dia habis operasi usus buntu, tapi keadaanya baik-baik saja setelah operasi. Dia anak yang tidak banyak bicara ya!"


"Iya, dari dulu dia memang anak yang tidak terlalu banyak bicara." Balas Rama tanpa sadar menyunggingkan senyum kecilnya begitu cerita soal Anjani.


Ekspresinya tersebut tak luput dari pengamatan ayahnya.


"Kamu saja yang menangani pasien itu mulai besok!" Kata ayah yang seakan memberikan jalan bagi Rama mendekat pada Anjani.


"Apa maksud ayah! aku kan gak bertugas di rumah sakit itu." Bingung Rama.


"Apa susahnya, kalau begitu mulai besok kamu bertugas disana saja." Ucap ayah tenang.


"Mana bisa begitu! aku kan juga banyak pasien disana!" Kata Rama merujuk pada rumah sakit tempatnya praktek.


"Memangnya disana gak ada dokter? Sudah, nanti biar ayah yang akan bilang ke Herman soal kepindahanmu. Lagian kamu ini di suruh ke rumah sakit sendiri malah gak mau." Kata ayah berlalu masuk ke dalam kamar.


Rama yang di tinggal sendirian masih tampak bingung dengan sikap ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2