
Jangan Menyukaiku?
Kalimat yang cukup sederhana dan singkat itu ternyata bisa menjadi sebuah Kalimat yang menyakitkan bagi seseorang.
Karena sebuah kalimat yang sederhana tersebut, membuat Rama terngiang jelas di dalam pikirannya. Ia masih tak bisa melupakan obrolanya dengan Anjani sewaktu di rumah sakit.
Meski ia sudah berbagi masalah dengan Johan, nyatanya ia masih tetap saja kepikiran begitu sampai di apartemen.
Tak ada yang berjalan baik seperti harapanya dan kembali menimbulkan kekacauan dalam pikirannya.
"Kenapa? kenapa kamu tidak mau di dekati?" Gumamnya memikirkan Anjani yang bersikeras menolak kehadiranya, bahkan hanya sekedar untuk dekat dan akrab.
Mungkin benar, aku tidak bisa melupakanmu karena aku masih menyukaimu. Benar kan ini rasa suka! Kalau benar, apa yang harus aku lakukan! padamu yang tak mau aku mendekat.
Rama seakan tersadar akan perasaanya yang selama ini membuatnya bingung. Meski ia masih ragu akan hal itu, namun sepertinya itu adalah jawaban yang selama ini ia cari, bahwa ia masih tak bisa melupakan cinta pertamanya.
Ia menyunggingkan senyum tipisnya dengan ekspresi mengasihani dirinya sendiri. Menghela nafas agak berat dengan mengingat kembali dirinya yang selama ini merasa terombang ambing tak tau apa yang harus ia lakukan.
Apa benar itu rasa suka? Ataukah hanya rasa penasaran akan dirinya? Apa yang harus aku lakukan? Aku... benar-benar tidak tahu..
...****************...
Cinta itu bukan hanya sekedar kau menyukai dan menginginkanya, tapi seberapa besar kau memahaminya.
"Apa yang buat ibu bertahan? apa ibu gak lelah di pukuli terus?."
__ADS_1
"Kamu pikir aku mau begini! aku juga tidak tau akan begini, aku.. hanya tidak tau harus melakukan apa."
Mendengarnya, membuat Anjani memasang wajah tak percaya.
"Apa ibu bodoh? bajingan itu tidak akan pernah sadar, jadi buat apa di pertahankan, apa ibu gak punya prinsip dan pergi meninggalkanya, si bodoh itu tidak pantas untuk di sebut seorang suami maupun ayah."
"Cukup." Teriak Ibu frustrasi.
Anjani terdiam menatap ibunya.
"Aku.. tidak pernah menyukai kalian berdua, bagiku kalian adalah orang tua terburuk yang egois dan hanya memikirkan diri kalian sendiri. Hari ini adalah hari kelulusanku, aku akan pergi dari sini dan tidak akan pernah menemui kalian lagi." Ucap Anjani dengan penuh tekad dan beranjak meninggalkan rumah.
Baru beberapa langkah ia akan pergi, tanganya di tahan oleh sang ibu hingga membuatnya menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sang ibu.
Melihat pemandangan yang sudah menjadi keseharianya, membuat Anjani mendecak kesal menatap ayahnya, lalu menghempaskan tangan ibunya kasar dan kembali melangkah keluar meninggalkan rumah.
"Woi, anak pembawa sial, mau pergi kemana kamu. Beri aku uang." Tahan sang ayah pada Anjani yang hendak keluar dengan kondisi tubuh yang sempoyongan.
"Lepas, tanganmu kotor." Balasnya menatap jijik sang ayah.
"Brengsek, anak gak tau diri."
Plakk, sebuah tamparan mendarat di pipi Anjani dengan keras hingga membuat pipinya merah dan sedikit mengeluarkan darah dari sudut bibirnya. Dengan memegang pipinya yang sakit karena tamparan, ia menatap tajam wajah ayahnya dengan ekspresi jijik.
Ekpresinya tampak memantik amarah ayahnya dan sebuah pukulan akan mendarat kembali pada dirinya, namun di gagalkan oleh sang ibu dan membuat sang ibu yang harus menerima pukulan tersebut untuk menggantikannya.
__ADS_1
Hari yang kacau dan penuh dengan tekanan, di tambah dengan suasana yang mencekam. Hari yang harusnya menjadi awal yang baru dengan berita kelulusanya, menjadi hari yang kelam bagi dirinya.
"Mau kemana kamu, masih untung tidak ku bunuh, dasar istri sialan, gak tau di untung."
Praang..
Suara benda yang nyaring menghentikan kekacauan.
Dan menjadi hari dimana ia di cap sebagai seorang pembunuh di usianya yang baru 18 tahun. Anjani, tampak terlihat kacau setiap kali mengingat kenangan buruk tersebut.
*Apa aku pantas bahagia? bagiku, kebahagiaan itu hanya untuk mereka yang tak pernah mengalami penderitaan sepertiku.
Dunia kita jelas berbeda, tak ada kata bahagia dalam kamus hidupku. Aku bertahan hanya untuk menebus kesalahanku.
Rasa bersalah pada diriku sendiri dan pada ibu yang selama ini ku benci.
Apa boleh aku bahagia! setelah aku membunuh orang tuaku, apa itu masih pantas untuk diriku, aku rasa Tuhan juga tau akan hal itu*.
...****************...
Meski sudah bertekad, namun tak akan ada yang tau ke depan. Meski berusaha mengelak dan berusaha menjauh sekalipun, jika itu adalah takdir dari tuhan, mereka tak akan bisa menghindarinya.
Perasaan tak akan bisa membohongi, seberapa besar mengelak dan menghindarinya, tak akan pernah bisa lepas jika itu sudah takdir bagi mereka.
Bukankah itu sudah pasti? karena sejatinya mereka sudah terikat akan sebuah takdir. Entah itu takdir buruk atau baik bagi mereka.
__ADS_1