
Bukan karena penyesalan, bukan karena perasaan masih sama, tapi hanya karena rasa kasihan, Megan menangisi mantan terindahnya itu. Demikian pula dengan Farrel, dia menangis.
Tangis haru menyelimuti keduanya di lobi hotel yang kebetulan sedang sepi.
"Farrel," Dirasa sudah lebih dari cukup, Megan menyudahi drama antara dirinya dengan Farrel.
"Kau memaklumi keadaanku, kan? Aku yakin Kau pasti pengertian. Aku janji tidak akan pergi lagi, kita berdua akan memulai dari awal lagi, sayang-" Farrel menggenggam jemari Megan.
"Lalu apa? Kau ingin aku mengakhiri pernikahanku?" Megan menatap serius. Farrel terlihat takut dengan apa yang akan dikatakan Megan selanjutnya.
"Apapun kondisimu saat ini, tidak bisa mengubah apapun. Aku sudah menikah. Aku menyayangi suamiku, Farrel."
Farrel terbungkam dengan lidah yang terasa keluh tak mampu untuk ia gerakkan. Wajah pria itu tampak sangat kasihan.
"Farrel. Aku minta maaf. Aku tidak akan membuat alasan apapun untuk membela diri. Inilah kondisinya sekarang."
Megan pergi dan melangkah pasti ingin segera bertemu suaminya. Dia yakin Morgan sudah menyaksikan pertemuan antar dirinya dengan Farrel, terbukti dari tidakadanya pria itu di restoran.
Maafkan aku, pak Dokter. Megan sedikit merasa bersalah. Cepat cepat dan cepat dia melangkah seraya mengumpulkan ketenangan hatinya yang masih terasa kacau.
Keluar dari lift. Megan melihat Morgan di ujung sana. Kebetulan keduanya menempati kamar paling ujung lorong ini.
__ADS_1
"Megan, tunggu aku! Farrel ternyata menyusul lewat tangga darurat. Langkah cepat Megan terhenti lalu ia berbalik. Farrel terlihat mandi keringat seperti habis maraton, dadanya naik turun karena napas yang tersengal.
Sungguh perjuangan yang tidak main-main saat Farrel dengan rela menaiki tangga darurat dari lantai dasar hingga ke lantai sepuluh.
Apa Megan harus luluh? Ternyata tidak. Megan malah berbalik dan meninggalkan Farrel dengan setengah berlari menuju suaminya.
"Pak Dokter,"
Morgan yang sedari tadi memandang keluar melalui tembok kaca, lantas menoleh ketika namanya dipanggil. Selain istrinya, ia juga melihat ada pria tadi. Pria yang sama yang berada di lobi bersama Megan.
Melihat wajah suaminya yang seperti hendak bertanya apa yang sedang terjadi, tanpa diminta Megan berjinjit untuk menggapai bibir suaminya. Morgan membalasnya. Ia berpikir, hubungan mereka harus diperjelas pada orang yang baru datang dari masa lalu.
Salah sendiri masih betah berdiri disana, Farrel harus merasakan sakitnya hati karena cintanya telah menjadi milik pria lain.
Keduanya sama-sama memberi dan menerima dan dengan sendirinya mengambil inisiatif untuk bergerak semakin dalam.
Hah! Perawan tua apanya? Dia sangat agresif terhadapku. Baik, inilah saatnya.
Tanpa suara, tanpa tawar menawar dengan segala macam basa-basi, semua terjadi dengan sendirinya. Sekarang, tidak ada lagi satu helai pun benang yang menutupi keduanya.
Selamat tinggal perawan tua. Megan kini berada dibawah suaminya. Rasa malu tanpa busana terlihat oleh pria ini sudah ia tepis jauh-jauh. Lagipula, Morgan tidak lagi bisa menahan dirinya.
__ADS_1
Jeritan istrinya saat dia mulai masuk juga tidak dihiraukan oleh Morgan. Hasrat ingin melahap istrinya sedang mendominasi dan suara jerit kesakitan itu ia anggap sebagai kode untuk mengundang kegilaannya.
"Nona Megan, akan kubuat kau melupakan rasa yang pernah kau dapatkan dari pria-pria masalalumu."
Pria-pria masalalu matamu! Ini sangat sakit. Bisakah kau tidak memaksa masuk?
Megan ingin menolak tapi ini sudah hampir terjadi. Suaminya benar-benar terlihat ingin membuktikan kehebatannya.
"Pelan-pelan, Dok."
"Apa sakit?"
"Iya." Megan mengangguk.
"Jangan bertingkah seolah masih perawan. Aku tidak akan protes karena kita sama-sama bekas orang dimasa lalu."
.
.
Duh, Panas nih, lama gak disemangatin ayang.
__ADS_1
Tinggalkan jejeak guys...