
Situasi di tempat tinggal buyut menjadi ramai atas kedatangan cucu cicitnya.
"Nenek, dimana cicit sambungmu? Kenapa dia tidak terlihat?"
"Dia pulang ke rumah lamanya bersama ayahnya." tau pertanyaan itu hanya basa -basi, sang buyut pun menjawabnya dengan santai.
"Oh, jadi ... setelah ibu tirinya menjadi tahanan polisi, bukannya berempati tapi mereka malah memilih meninggalkan nenek?" Gea yang mulutnya terbiasa menyala seperti kompor, ikut berkomentar.
"Jangan bicara asal. Tidak seperti itu!"
Segenap cucu cicitnya terpaku malas. Nenek masih saja membela cucu menantunya dan mereka mengatakan bahwa bahkan Morgan tidak tahu melakukan apapun untuk menolong Megan.
"Jika kalian peduli, kenapa bukan kalian yang membantu dia bebas?"
"Nek, sudahlah. Biar Megan membayar kesalahannya agar tidak kebiasaan meremehkan hukum." Lisa menyahut.
"Lantas kenapa menyalahkan Morgan yang tidak bisa menolongnya? Sudahlah, jangan banyak berkomentar. Tiga hari lagi persiapkan diri kalan semua, aku akan membagi saham Antami milikku, cucu cicit semuanya akan mendapat bagian, termasuk Morgan, David dan Erick.
"Siapa itu Erick?" serempak para cicit menanyakan nama itu.
"Oh, ada yang belum mengenalnya? Dia kakaknya David." Ketiga cicit saling melempar tatapan malas. Dapat ditebak isi hati mereka yang sudah pasti merasa keberatan. Rupanya David saja tidak cukup, malah tambah satu lagi saingan dalam perebutan saham sang buyut yang bernilai fantastis itu.
"Nek, bukankah ini terlalu berlebihan? Mereka baru saja bergabung di keluarga kita tapi dengan mudahnya mendapat bagian." semua orang menyetujui apa yang Gea katakan.
"Nek, bahkan si Erick itu kakinya lumpuh. Dia tidak akan tau mau diapakan bagiannya." Lisa berusaha agar sang nenek mengubah rencananya.
__ADS_1
"Bagaimanapun kondisinya, Megan menyayanginya sebagai anak sendiri. Sebagai putra dari cucuku sudah pasti ada jatahnya." nenek benar-benar tidak bisa diajak berkompromi.
"Tidak ada yang bisa merubah apa yang sudah aku tetapkan. Minda, Gea, Lisa, kalian bertiga adalah calon kandidat yanga akan menggantikanku. Para eksekutif bersatu untuk menghapus nama Megan, jadi siapapun nanti yang terpilih, aku harap jangan mengecewakan aku dan Antami Grup."
Tiga wanita yang namanya disebutkan itu saling menatap aneh. Seperti sedang berbicara sambil tertawa remeh dalam hatinya masing - masing.
.
.
.
Bermalam di balik jeruji kantor polisi, sungguh adalah hal yang tidak pernah dibayangkan oleh Megan Berlian. Sehebat-hebatnya Megan Berlian, dia ternyata bukanlah orang yang kebal hukum.
Sedih, mungkin tidak, mengingat dirinya tidak akan tinggal lama di sini. Tapi, lantai dingin ini membuat Megan tidak berani untuk duduk, apa lagi berbaring.
Ditengah lamunanya, seseorang datang. Dialah Morgan Erlangga, yang tadi sudah pamit pergi namun entah kenapa pria itu muncul lagi.
"Pak Dokter,"
"Iya, aku datang."
Megan membuka tangannya memberi aba - aba sedang meminta pelukan.
"Dokter, kenapa kembali? Bagaimana anak - anak?" Megan sudah memeluk erat Morgan, tak peduli jeruji tengah membatasi.
__ADS_1
"Aku mengkhawatirkanmu, jadi aku kembali. Anak -anak tidak tahu. Kau tenang saja. Dan tadi, David menanyakanmu." Morgan tentu membalas pelukan itu, tidak hanya memeluk, juga memberi ciu*man di kening istrinya.
"Benarkah? Apa mungkin dia mulai merasakan kerinduan padaku?"
"Aku tidak tahu, bisa jadi."
"Dok,"
"Hmmm,"
Ayo berlibur saat aku sudah keluar dari sini.
"Oke, sayang. Berdua saja?"
"Berempat. Aku ingin kita berdua lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan anak-anak. Kau tahu, kebersamaan keluarga begitu berharga."
"Baiklah sayang, berlibur tidaklah buruk."
.
Sorry guys, pendek ni soalnya author lg kurse (kurang sehat)
.
Novel Tamat.
__ADS_1
Yuk mampir...