Hot Duda Dan Perawan Tua

Hot Duda Dan Perawan Tua
Gelang Nama.


__ADS_3

Bonusss up.👇👇👇👇👇


...****************...


Sekitar 18 tahun silam, Tino menyadari antar dirinya dengan Megan sedang terlibat perasaan saling suka. Tiba di suatu moment, Tino sedang gencar ingin menyatakan perasaannya tapi entah kenapa, ditengah prosesnya Lisa muncul memberi silau yang berbeda hingga mengalihkan dunia Tino sampai akhirnya terjadilah sesuatu diluar batas dan menyebabkan Lisa mengandung Robian, buah dari malam panas mereka berdua.


Sakit hati dalam diam mengantar Megan keluar dan sampailah ia di Miami, disana lah Megan melanjutkan pendidikannya hingga selesai, disanalah juga ia bertemu dengan seorang pria yang lagi - lagi membuatnya menunggu dalam ketidakjelasan.


Megan merenungi nasib percintannya yang rasanya benar-bebar tidak seindah kisah orang lain. Pada akhirnya, Megan memutuskan jika setelah usia 31 tidak juga menikah, maka Megan tidak akan lagi berharap untuk hal itu. Menikah tidak penting, berkencan saja tidaklah buruk.


Tapi siapa sangka di perjalanan usianya yang hampir kadaluarsa, Morgan hadir bersama dua pangerannya masuk kedalam hidup Megan, memberi rasa dan warna lain bagi hari - hari Megan belakangan ini.


Seperti saat ini, bersama tiga orang ini Megan tengah menikmati liburan yang sangat menyenangkan. Meski begitu, rasa takut masih saja tiba - tiba datang. Takut jika ketiga orang ini mungkin memiliki seseorang sebagai pemilik mereka yang sesungguhnya di luar sana.


Tidak, apa yang kupikirkan? Mereka adalah milikku dan tetap milikku. Begitulah cara Megan meneguhkan hatinya agar tetap kuat.


"Sayang, kemarilah!"


Megan yang sejak tadi hanya berdiri dari jarak jauh tertegun memandang ketiga pria kesayangannya sedang asik bermain domino. Keseruan yang ia saksikan sebenarnya tidak tega untuk ia ganggu, tapi Morgan terlanjur memanggilnya.


Bukan menghampiri ketiganya, wanita itu malah berbelok ke arah pantri.


"Ini permainan rakyat jelata. Bunda pasti tidak mengerti cara memainkannya."


"Kau bilang apa?" Erick yakin tidak salah dengar barusan.


"Aku? Bilang apa?" David menunjuk wajahnya sendiri. Sama sekali tidak sadar sudah menyebutkan kata bunda. Wajah polosnya terlihat sangat menyebalkan di mata Erick.

__ADS_1


"Kau menyebut dia bunda."


"Hah? Oh, tapi dia memang bunda kita, kan? Kebetulan aku belum pernah punya ibu. Dia juga tidak buruk. Ayah, aku putuskan saat ini kalau aku akan mencoba belajar menerima wanita itu."


"Terserah kau saja. Silakan coba dulu kalau masih ragu." sahut Morgan.


"Ehmmm!" Megan mendekat dengan empat gelas minuman coklat manis hangat.


"Waktunya minuman coklat manis," Megan letakkan nampan minuman itu, lama dua remaja itu menatap gelas berisi susu coklat manis buatan ibunya. Menatap itu dengan raut wajah tidak yakin.


"Jangan khawatir. Minuman ini sudah biasa bunda buat untuk ayah kalian." Megan mematahkan rasa curiga kedua anak itu dengan pernyataan yang diangguk pelan oleh Morgan sebagai tanda pembenaran.


Malam ini adalah malam terakhir di Bali. Keluarga ini hanya banyak habiskan waktu di sekitar vila dan pantai saja. David dan Erick bahkan tidak betah berlama-lama berada di pantai dengan alasan hampir semua perempuan yang berkeliaran disana tidak kenal cara berpakaian dengan normal.


Malam sudah sangat larut, kedua remaja itu sudah terbang di alam mimpi. Karena belum mengantuk, Megan hendak menikmati dinginnya malam di pantai. Morgan tidak mungkin melepas istrinya pergi sendirian, walau tidak seberapa suka dengan angin malam Morgan harus menemaninya.


"Nona Megan,"


"Hmmm?"


"Apa kira - kira ... kita berdua bisa terus bersama sampai akhir? Bagaimana menurutmu?"


Megan berhenti melangkah. Keduanya lalu berhadapan.


"Daripada seperti itu, seharusnya pertanyaanmu begini, ... Megan, apakah kau mau terus bersamaku sampai akhir hidupku?"


Morgan memang ingin bertanya seperti itu, akan tetapi dia tidak punya rasa percaya diri yang tinggi mengingat dirinya yang tak seberapa ini.

__ADS_1


"Kalau itu bertanyaanku, kau akan jawab apa?"


Megan tersenyum dengan tatapan tulus kemudian berkata "aku mau, aku bersedia menjalani suka duka denganmu selamanya, Pak Dokter."


Morgan lalu menarik tubuh istrinya, memeluknya sangat erat. Menikmati terpaan angin malam dengan saling memeluk.


.


Puas dengan pusat keindahan Bali, keluarga kecil itu kini siap untuk cabut dari vila menuju bandara.


"Ayah," David menghadang keduanya di depan pintu kamar.


"Ya ... ada apa?"


"Ini untuk kalian." menyerahkan dua gelang yang berukirkan masing- masing nama Megan dan Morgan.


"Wah! Manis sekali, dimana kau dapatkan ini, sayang?" Megan menerima itu dengan senang hati. Sungguh perhatian, batinnya.


"Apa ayah harus pakai ini?" Morgan tampak setengah hati mengenakan gelang ke tangannya.


"Tentu saja. Ini namanya kenang - kenangan. Pakailah sampai rusak, ayah."


"Tapi David, bisa kau yang pasangkan ke tangan bunda?" kali ini David tidak banyak protes dan hanya menurut saja.


"Tunggu, bukankah lebih baik kalau begini," Megan menukar miliknya dengan milik Morgan dan sebaliknya Morgan akan memakai gelang dengan tulisan nama Megan.


"Tidak apa, kan, kalau bunda mengenakan milik ayahmu?"

__ADS_1


"Ini tangan tante dan bukan tanganku. Jadi terserah saja." jawab anak itu.


__ADS_2