Hot Duda Dan Perawan Tua

Hot Duda Dan Perawan Tua
Interogasi


__ADS_3

Suasana di perusahaan berubah heboh setelah desas desus yang mengatakan bahwa Megan Berlian diboyong ke kantor polisi menggunakan borgol.


Perusahan peninggalan kedua orangtuanya yang bergerak dalam bidang industri batu bara itu ikut heboh setelah kabar miring ini tersiar.


Semua karyawan mulai begosip.


"Padahal dia masih pengantin baru."


"Bagaimana mungkin Nona Megan seperti itu, meninggalkan korbannya tergeletak dijalanan gelap."


"Astaga! Aku tidak bisa membayangkan bagaimana malunya suaminya itu, apa lagi anak-anaknya."


"Aku bisa menebak, pasti pernikahan mereka akan berakhir. "


Bermacam opini beradu dari tiap-tiap orang yang dengan bebas mereka kemukakan. Tidak sedikit juga yang memgambil sikap tenang, mengharapkan agar Megan bisa menyelesaikan masalahnya.


Para pihak pemegang saham ketar - ketir saat mengetahui hal ini. Megan yang adalah sosok pembawa keberhasilan sekaligus pemimpin perusahaan ini, siapa yang menyangka bahwa dia adalah orang yang tidak punya hati seperti berita yang beredar.


Pihak perusahaan milik ayah, nenek dan juga Megan Berlian Jewerly dimana Megan terlibat di dalam ketiganya, dengan tegas memperingatkan bahwa tidak ada yabg boleh menyebar berita ini keluar dari perusahaan, karena hanya akan berdampak buruk bagi kestabilan seluruh perusahaan dan semua orang yang bekerja didalamnya.


.


Megan di dampingi oleh Morgan kini duduk di kursi interogasi berhadapan dengan pihak polisi.


"Maaf, Dokter Morgan, jadi nona ini ... istri Anda rupanya?" sebelum interogasi dimulai, pak polisi malah menyapa Morgan dengan ramah, mengetahui Morgan sebagai orang yang memberi pertolongan pertama kepada dua korban tabrak lari malam tadi.


Morgan mengiyakan pertanyaan itu sambil terus menggenggam erat jemari istrinya, Megan menerima itu dalam diam sambil berharap semoga ini sebuah ketulusan yang benar - bebar datang dari hati, bukan hanya karena Morgan merasa kasihan padanya.


"Maaf Pak, demi kelancaran interogasi, kami mohon Anda menunggu di luar." Morgan tidak diperbolehkan mendampingi istrinya. Dengan berat hati ia pun melepas tangan itu setelah menatap istrinya beberapa saat. Megan bahkan tidak membalas tatapannya.


"Aku ada diluar. Jangan takut," Morgan pun keluar dari ruangan itu.


.


.


Diposisi lain ada seseorang yang sedang tertawa jahat. Orang itu tidak lain ialah Lisa, kakak sepupu Megan.


"Bukan Gea, bukan juga Megan. Akulah yang akan menjadi pemenang di mata nenek." Lisa meraih tas jinjingnya.


"Waktunya aku untuk bersenang - senang!" berlenggang keluar dari kamar setelah puas menertawakan kesialan Megan kali ini.


"Sayang! Baby! Suamiku, putraku yang tampan!" Lisa menghampiri Robian putranya yang sedang duduk di ruang tengah dengan sang ayah, sibuk memainkan ponsel masing-masing.


"Aku akan ke rumah nenek. Habis dari sana akan langsung ke salon kecantikan. Apa kalian berdua mau menemani?"

__ADS_1


"Tidak sayang. Aku ada sedikit pekerjaan. Kau pergilah." sahut suaminya, Tino.


"Mama pergilah. Salam buat nenek buyut, ya Ma..." timpal Robian.


Tino menatap kepergian sang istri, wanita yang lima tahun lebih tua darinya itu. Selepas mobil wanita itu jauh dari pekarangan, Tino pun berpamitan pada putranya itu keluar untuk mengerjakan beberapa pekerjaan.


"Oke Pah, hati-hati." Robian kembali fokus pada ponselnya.


[Rana! Kau sudah dengar kabar? Tante Megan masuk buih. Kira-kira bagaimana kabar anak tirinya itu?] tulis Robian, mengirim pesan teks pada Terana, sepupunya.


[Wah! Benarkah Bian? Mama belum memberirahuku soal ini. Baguslah, Saingan kita jadi berkurang jika ayahnya meninggalkan tante Megan. Kau tahu, aku pernah tidak sengaja mendengar mama mengatakan ini, bahwa nenek akan membagi-bagi saham miliknya untuk semua cucu cicit, termasuk si David dan ayahnya akan mendapat bagian.]


[Hah! Silakan bermimpi saja. Aku tidak akan biarkan anak itu hidup nyaman kalau itu sampai terjadi.]


[Aku juga, enak saja dia dapat pembagian. Memangnya dia siapa? Robian, kuserahkan padamu semuanya, biar kau yang eksekusi. Apa lagi, dia didaftarkan di sekolah yang sama dengan kita. Jadi sangat mudah mengurusnya.]


Robian terasa memanas ketika baru tahu kalau David akan belajar di sekolah yang sama dengannya.


Awas saja anak itu, aku akan menggorengnya di sekolah.


.


.


Siapa lagi ini?


Morgan menjawabnya dari pada penasaran.


[Halo, Megan, aku akan memberitahumu satu hal. Mobilmu, maksudku kamera dashboard mobilmu tidak merekam apapun saat kejadian itu. Aku curiga seseorang telah menukar memorinya.]


[Ini aku, suaminya. Bisa kah kita bertemu?] Morgan mengajak orang yang bernama Riko untuk bertemu di sebuah kafe yang tidak jauh dari kantor polisi.


Beberapa menit kemudian keduanya benar-benar bertemu, lalu berkenalan.


Cukup muda dan memiliki pesona, Morgan bertanya-tanya dalam hati hubungan seperti apa yang orang ini jalani dengan istrinya.


"Megan memintamu mengurus masalah ini?"


"Iya."


"Lalu apa kau bermaksud kejadian ini disengaja?"


"Untuk saat ini saya belum menemukan titik terang. Tapi ... ada beberapa kejanggalan yang sedang aku selidiki."


"Baiklah, semoga saja kau berhasil membantu istriku. Korban bersaksi dan mengatakan mobil istriku menabrak mereka yang hendak menyeberang jalan. Sayang sekali rekaman kamera dashboardnya tidak ada."

__ADS_1


Cukup lama keduanya berbincang.


.


Di posisi lain, ada Tino yang diam-diam masuk ke ruang rawat kedua pasien tabrak lari itu.


Keduanya di rawat di ruangan yang sama.


"Siapa anda?" tanya keduanya yang tidak mengenal Tino.


"Katakan, apa wanita ini yang mengutus kalian berdua sehingga dicelakai oleh Nona Megan?" Tino memperlihatkan selembar foto ditangannya.


Kedua lelaki itu terlihat saling melempar pandang sejenak.


.


.


Di rumah Morgan, David sedang menemani terapi kakak kesayangan satu-satunya, sekedar melatihnya berjalan.


"Kak, bersemangatlah sedikit! Kenapa juga kakimu gemetar begini? keluh David, seraya menggeleng, tidak sabar menuntun kaki sang kakak. "Oh, apa mungkin ini akibatnya karena dulu kau sering membangunkanku dengan kakimu ini?"


"Kau tidak berniat membantuku? Dasar adik tidak berakhlak. Kau akan merasakan tendangan kakiku kalau sudah sembuh nanti." sudah tahu kakaknya masih sensi dengan keadaan ini, David malah menambah bad moodnya dengan mengatakan hal-hal yang tak berguna.


"Berhenti mengomeliku atau kaki rusakmu ini tidak akan sembuh. Berhentilah berkhayak bisa menendangku lagi. Cepat melangkah!"


"Ada apa ini? Kalian berdua selalu saja ribut kalau ditinggal berdua." Morgan datang dengan membawa cemilan pesanan Erick ditangannya.


"Kenapa ayah baru pulang saat matahari sudah hampir tenggelam?" Erick yang sudah menunggu hampir seharian cemilan kesukaannya itu memasang muka manyun seperti seorang anak TK.


"Lalu dimana wanita itu?" David menimpali bahkan sebelum ayahnya sempat menjawab Erick.


"Malam ini bunda kalian akan pulang ke rumahnya."


"Sudah ku duga. Dia tidak akan tahan tinggal di rumah kita." David menyimpan sedikit rasa kecewa yang ia sembunyikan di dasar hatinya.


Bingung dengan otakku. Kalau dia tidak ada, pikiranku selalu mencarinya.


.


.


Bersambung...


Guys! Jan lupa dukungan klean yaa. Makasih🥰

__ADS_1


__ADS_2