Hot Duda Dan Perawan Tua

Hot Duda Dan Perawan Tua
Mobil Sport


__ADS_3

“David, bisa tolong temani Rana?” Megan memberi kode lewat


gerakan matanya menunjuk Rana yang sedang duduk manis di ruang keluarga.


“kenapa dia harus ditemani?”


“Dia minta kamu temani ke mall. Oia, besok adalah ulang tahun nenek buyut. Kalian harus membeli kado.


“apa itu wajib? Ayah belum memberiku uang.”


David yang enggan menanggapi Rana, sibuk memikirkan berbagai alasan agar bisa menghindari sepupunya itu. Pasalnya, terlihat jelas dari gerak geriknya bahwa Rana selalu mencari cela untuk mengajaknya berbincang. David


tidak nyaman.


“Ini kartu unlimited punya bunda. Kamu bisa pakai berbelanja


apapun yang kamu mau.” Sebuah kartu berwarna hitam Megan serahkan ke tangan David.


Setelah mendengus malas, akhirnya David mengiyakan. “Ayo jalan, tapi jangan lama – lama karena aku ada kompetisi pukul dua siang nanti.”


Rana terlihat senang. “Terima kasih tante Megan,” menyalami tangan Megan sebelum pergi, lalu menyusul David yang sudah menghilang dari pandangan.


Di dalam perjalanan...


“David, tanteku baik, kan? Kamu bruntung punya mama seperti tante Megan.”


David yang hanya membisu, tidak tertarik untuk memulai basa-basi sepertinya harus merespon.


“Kenapa membahas dia?”


David sepertinya tidak menyukai tante Megan.


“Tentu saja dia baik, karena ayahku tidak akan asal menikahi orang.”


Demi apa pun, David sungguh terpaksa mengatakan ini. Tapi demi nama baik keluarganya, ia tidak akan bicara sembarangan.


.

__ADS_1


.


Dari gerai jewerly, Megan memantau aktifitas kartu kreditnya yang sejak sepuluh menit lalu memberi notif beberapa kali terkait barang apa saja yang berhasil dibayar oleh David.


Dari daftar barang yang Megan lihat semuanya tidak tanggung-tanggung, berasal dari merek-merek ternama. Megan hanya menggeleng dengan bibir tersenyum sinis.


Gea, Gea ... rupanya kau mewariskan sifat serakahmu ke Rana.


Di pusat perbelanjaan, Rana kalap. Ia harus memanfaatkan kartu yang David dapatkan dari tante Megan. Ada begitu banyak barang belanjaan Rana. David terpaku melihatnya. Beruntung ada pengawal yang bisa mereka


tugaskan untuk membawa barang-barang itni.


Tak berselang lama, supir datang dan mengatakan sudah waktunya mengantar David ke tempat kompetisi.


David tidak menyangka telah menghabiskan banyak waktu hanya untuk membayar tagihan   Rana di kasir. Dirinya sendiri hanya membeli satu untuk hadiah.


“David, makasih, ya ... aku cukup puas belanja hari ini.” Dengan entengnya Rana berucap seraya menggandeng lengan David, manja. Belum lagi wajah polosnya yang tampak tidak ada beban sama sekali setelah menghabiskan ratusan juta.


Anak orang kaya kebanyakan sakit jiwa. Batin David.


[Anakku, semoga kamu menang, semangat ya ...] Megan begitu perhatian. David membaca pesan ibu sambungnya itu dengan perasaan campur aduk. Baru wanita ini yang menyapanya dengan sapaan ‘anakku.’


Serangkaian acara turnamen catur akhirnya usai. Dan lagi-lagi, sudah menjadi hal yang sangat biasa, David kembali meraih juara pertama.


Dengan bangga ia keluar dari tempat acara membawa berbagai jenis hadiah, mulai dari piagam, piala dan uang tunai yang tidak sedikit baginya.


Tin tin! Suara klakson cukup mengejutkannya.


Bunda Megan sudah siap menjemput rupanya.


Baiklah, karena hari ini adalahhari baik, aku harus bersikap baik padanya.


Megan merentangkan tangan dan memberi anaknya itu pelukan selamat. Ia ikut bangga atas kehebatan putranya dalam bermain catur.


David hanya menerima itu tanpa ingin membalasnya. Pelukan yang cukup menenangkan, pikirnya.


“Ayo, Bunda ada hadiah buat kamu.” Megan melajukan mobil membelah keramaian.

__ADS_1


Tiba di sebuah gedung bertembokkan kaca, Megan mengajak


David masuk.


“Silahkan pilih, mau yang mana,”


David yang sedikit polos, hanya menatap dengan tatapan heran. Aneka mobil sport terpampang nyata di depannya dan dia bebas memilih yang mana.


“tunggu! Apa maksud tante?”


“Nak, sebentar lagi kau akan masuk sekolah. Sudah waktunya belajar menyetir biar nanti turun sekolah tidak lagi diantar seperti anak SD.”


“Wah! Keterlaluan, ya, apa tante bahkan tahu berapa usiaku? Ibu macam apa ini?”


“Hei! Bukankah seharusnya kau senang? Sampai ke pelosok negeri pun kau tidak akan menemukan ibu yang murah hati seperti bundamu ini.”


David berusaha menahan kekesalannya yang hampir mencuat ke permukaan. Perlahan ia hembuskan napas panjang dengan mata tertutup.


Ia ambil ponselnya lalu menghubungi sang ayah.


[iya, David?] jawab Morgan dari kejauhan dan dapat di dengar juga oleh telinga Megan.


[Ayah, apa seorang remaja dibawah usia 17 boleh menyetir?]


[tidak boleh sama sekali. Itu berbahaya.] jawab Morgan, tenang.


Megan tiba-tiba merasa buruk. Anak ini tidak segan untuk melapor apapun pada ayahnya terang-terangan.


[istri ayah ini, Ayah tahu, dia menawarkan mobil sport untukku dan mengatakan aku harus belajar menyetir. sepertinya dia memang berencana untuk mencelakai aku. Aku mau tanya ayah sekali lagi, apa ayah masih


yakin tante Megan adalah ibu yang baik?]


.


.


Bersambung guys....

__ADS_1


__ADS_2