Hot Duda Dan Perawan Tua

Hot Duda Dan Perawan Tua
Sorry Bunda


__ADS_3

Megan menolak untuk menjawab apapun tentang Rana, membuat Erick semakin yakin untuk menuduh ibunya.


"Bunda tidak bisa jawab, jadi itu benar?"


"Rick, kau masih sangat muda dan polos. Abaikan tentang Rana, pikirkan saja tentang sekolah dan masa depanmu. Kalau kelak sudah menjadi orang sukses, ada banyak gadis yang jauh lebih baik untukmu." bermaksud menasihati, namun terdengar membentak.


"Bunda! Ini bukan soal aku suka Rana atau tidak. Tapi jangan sampai Bunda menyebabkan dia kenapa-kenapa!" balas Erick dengan nada setengah membentak.


Mungkinkah Megan akan sejahat itu pada keponakannya sendiri? Seolah-olah Erick sedang menuduh Megan yang bukan - bukan.


"Baik, terserah kau mau bilang apa. Pikirlah sesukamu! Dan satu lagi, Kau tidak perlu berangkat ke Jerman kalau tidak mau." bukan menyayangkan biaya mahal yang sudah ia keluarkan untuk uang pendaftaran dan lain-lain, Megan terdengar sedih di ujung kalimatnya. Karena, dia hanya baru tersadar bahwa dirinya memang tidak punya hak penuh untuk mengatur seluruhnya tentang anak-anak sambungnya ini.


"Bunda lupa bahwa ... bunda ini hanya ibu yang tidak pantas segala memikirkan tujuan hidupmu." Megan pergi, sedang Erick berubah membeku.


Bukankah yang dikatakan bunda sedikit keterlaluan? Tapi, apa yang dilihat Erick kali ini bukanlah seperti bunda yang dikenalnya selama ini. Tidak biasanya bunda Megan mengalah atas apa yang dikehendakinya.


Menghilangnya Megan dari pandangan, Erick menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Kembali ia tatap layar ponselnya, duduk di tepi ranjang.


Bunda, bangun! Aku janji akan mengabulkan semua keinginan bunda, asalkan bunda bangun dan jangan tinggalkan aku... Air mata Erick menetes, teringat kembali kejadian saat Megan sakit dan tidak sadarkan diri menjelang lahirnya baby M. Betapa dirinya bersedih sampai harus mengucapkan janji.


Aku sudah berjanji akan memenuhi apapun yang bunda inginkan, tapi kenapa aku seolah melupakannya dan menyerang bunda dengan rasa marahku?


Apa perkataanku tadi ... terlalu kasar dan melukai perasaan Bunda? Erick kembali memikirkan semuanya.


.


Morgan baru saja tiba di rumah. Terasa berbeda, tidak terlihat seorangpun. Sepi, sunyi.


Sampailah Morgan di kamarnya yang ternyata ada baby M disana bersama Megan. Rasa lelah menghilang seketika saat bertemu dua perempuan kesayangannya ini.


"Baby M, kau tidak lihat ayah pulang ?..." menyindir Megan yang bahkan tidak menyadari kehadirannya. Wanitanya ini terlihat sangat aneh dan tidak seoerti biasa, hanya fokus menyusui baby M seraya mengelus kepala kecil bayi itu.

__ADS_1


"Sayang, tumben sekali baby M betah di kamar kita? Apa kedua kakaknya tidak ada di rumah?" dari belakang Morgan memberi kecupan serta pelukan sayang untuk istri tercintanya.


"Megan, Kau kenapa?" baru menyadari bahwa kedua mata istrinya penuh dengan linangan air mata. Morgan menunjukkan kepekaannya dengan mengambil alih baby M yang sudah melepas botol ASI-nya.


Bayi yang kini terlelap itu Morgan tempatkan di bagian tengah ranjang. Megan yang masih diam saja membuat Morgan khawatir.


"Morgan, aku minta maaf." Megan terisak dalam dekapan Morgan yang saat ini memberinya pelukan.


"Ada apa, sayang?" menangis sambil meminta maaf, Morgan yakin istrinya sedang tidak baik-baik saja. Dan ini adalah sikap yang sangat aneh menurut Morgan.


"Kenapa minta maaf? Antara kita berdua tidak ada masalah apaoun. Ataukah ... kau bermain gila dibelakangku?" Morgan dengan tenang bertanya, ia terus memberi pelukan hangatnya.


"Sayang, aku diam-diam mendaftarkan Erick untuk belajar di Jerman. Pemberitahuan masuk ke ponselnya dan dia pulang tidak menyapaku dan ... dia ... marah - marah saat aku bertanya." seperti seorang anak kecil, Megan mengadu sambil sesegukan.


Morgan mulai melepaskan pelukan dan membuat wajah sedih istrinya untuk saling berhadapan. "Kau, mendaftarkan dia untuk kulia di Jerman? Megan, aku saja terkejut mendengar ini, apa lagi dia." dengan nada sedikit meninggi dan raut wajah bertanya, Morgan menatap kedua mata istrinya dengan perasaan tidak percaya.


"Aku tahu kau juga pasti tidak akan setuju aku mengirimnya jauh, itu sebabbya aku mendaftarkannya diam-diam. Kupikir ini akan mudah tapi rupanya sulit untuk kupaksakan." Megan menghapus air matanya. Ia pun mengatakan pada Morgan bahwa sebagai ibu sambung dirinya tidak seharusnya bertindak sejauh ini.


"Tentu saja aku punya tujuan. Disana aku punya teman baik yang akan membimbing dia untuk mengenal cara kerja perusahaan." Megan harus terbuka, Morgan terdiam dengan tatapan intens.


"Morgan, kau tahu sendiri kalau di masa depan aku tidak punya siapa-siapa selain anak-anak ini. Aku ingin membentuk mereka menjadi penerusku, di masa depan, mereka harus mampu memegang kendali semua yang menjadi tanggung jawabku sekarang. Tapi kalau mereka menolak, aku harus bagaimana, Morgan?"


Begitu rupanya, panjang lebar istrinya mengutarakan semua niatnya dengan tatapan memohon bahkan putus asa, Morgan merasa prihatin. Diraihnya kedua lengan istrinya itu membawanya lebih dekat.


"Sayang, Erick masih anak-anak. Dia tidak akan mengerti semua keinginanmu. Dan lagi, coba kau pikirkan. Status kalian berdua adalah anak dan ibu sambung. Apa kau tidak berpikir apa kata orang nanti kalau suatu saat dia menggantikanmu? Dan lagi, kau tidak boleh mempercayakan anak-anakku begitu saja."


"Anak-anak apanya? Dia sudah tahu pacar-pacaran. Lalu kenapa kalau dia hanya anak tiriku? Morgan, aku tidak perlu peduli dengan apa kata orang. Dan Morgan, aku harus memberi mereka tanggung jawab karena mempercayai mereka sebagai anakku." baru saja sesegukan, Megan berhasil keluar dari kesedihannya karena perkataan Morgan yang sedikit menjengkelkan.


"Sayang, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi suatu saat nanti. Bagaimana kalau mereka khilaf dan menimbulkan kerugian besar?" pelan tapi serius, Morgan mengutarakan semua isi pikirannya.


"Baby M. Mereka adalah kakak yang sangat menyayangi Baby M. Mereka punya alasan untuk tidak mengecewakan adik kecilnya. Meski aku tidak melahirkan mereka, tapi aku sangat yakin dengan ketulusan mereka terhadapku. Lalu bagaimana kau bisa tidak yakin?"

__ADS_1


"Tapi ada banyak kampus di negara ini, kan? Haruskah sampai ke Jerman?" kembali Morgan membahas soal kampus.


"Morgan, induk perusahaan kita ada di Jerman. Itulah sebabnya dia harus terjun langsung ke sana." Morgan baru tahu akan hal ini. Dikiranya Panama adalah tempat berdirinya perusahaan mendiang ayah mertuanya, ternyata di Negara itu merupakan salah satu cabang selain Indonesia. Luar biasa sekali peninggalan mendiang ayah mertuanya.


Hebatnya lagi, ia meninggal saat sudah berhasil mencapai kepemilikan 80 % saham dari Perusahaannya tersebut yang otomatis Megan-lah pemiliknya sekarang.


"Bunda ..."


Tiba-tiba terdengar suara Erick dari arah pintu. Morgan dan Megan menoleh bersama.


Mata dan hidungnya yang merah seperti habis menangis terlihat semakin jelas ketika ia melangkah semakin dekat.


"I'm sorry, Bunda.." hanya ucapan singkat itu yang ia ucapkan dan tepat setelahnya ia memeberi ibunya itu pelukan.


Dengan pelukan ini, Megan percaya kalau anak sulung ini sedang berusaha memperbaiki ketegangan yang ada.


Erick terus terisak, membuat Megan yang air matanya sudah mengering kembali menetes lagi. "Kamu tidak bersalah, sayang ... bunda yang salah. Maaf ya, Nak,"


Morgan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Suasana kembali mengharukan, hanya terdengar suara isak tangis.


Kenapa mereka berdua jadi cengeng?


"Rick, jangan terlalu lama kau peluk istri ayah." berniat menghibur, Morgan malah harus beralih dengan suara tangis baby M yang sengaja diabaikan oleh istrinya.


Si sulung memang selalu terbiasa jadi prioritas utama Megan, bahkan setelah ada baby M.


"Bunda ... aku akan pergi. Ke ujung dunia manapun, akan kuturuti. Tapi ... bunda harus mengantarku."


.


.

__ADS_1


Abis ya...


__ADS_2