
Morgan dan Megan akhirnya bicara secara langsung melalui telepon.
[Sayang, kenapa ini? Bukan begini caranya kalau mau mengambil hati anak.]
Morgan terdengar seolah sedang memarahi Megan. David merasa puas ketika ibu sambungnya itu hanya bisa menuruti perkataan Morgan.
Rupanya dia tidak berani membantah ayah. Ayah, kau sudah berhasil menjinankkan wanita ini. David bermonolog dalam hati.
keduanya pun keluar dari sana begitu saja. Meskipun batal untuk bertransaksi, pihak showroom tetap melayani degan senyuman. Mereka bahkan ditawari untuk sekedar minum teh tapi ditolak oleh Megan.
Pulang adalah tujuan keduanya kali ini. David memang susah diajak bernegosiasi, padahal Megan sangat ingin menghabiskan waktu berkualitas dengannya, akan tetapi anak itu tidak mau.
.
.
Persiapan pesta ulang tahun nenek buyut sudah finis. Tinggal menanti malam datang maka pesta akan terlaksana.
Megan tengah sibuk memilihkan outfit yang akan dikenakan oleh David di acara sebantar malam. Bukannya apa, apa kata orang nanti kalau penampilan anaknya jabuk sedangkan Megan sudah pasti em... sudah pasti best of the best.
Anak itu fokus bermain game di ponselnya tanpa merasa terganggu oleh aktifitas ibunya yang sibuk menggeser-geser pintu lemari pakaian miliknya.
"Pakai ini nanti malam ya..." Megan letakkan itu di atas tempat tidur anak itu.
David hanya menjawab dengan "emm" terus sibuk saling tembak menembak dengan lawannya.
Megan keluar untuk bersiap diri. Pertama yang ia lakukan adalah mandi tentunya. Baru saja masuk ke kamar mandi, ponselnya berdering. Terpaksa ia keluar lagi.
Pak Dokter memanggil. Ini merupakan panggilan video.
Megan menggeser tanda hijau untuk menjawab.
[Hai!] Morgan menyapanya.
[Hai! Dok,]
[Apa ini, kau sedang apa? Kenapa telan*jang?]
__ADS_1
[Bukan. Aku memakai handuk.]
[Sudah mandi?]
[Baru mau mandi, Dokter...]
[Ya sudah aku temani.]
[Jangan!]
[Apa masalahnya?]
[Aku ingin berendam lama.]
[Ya sudah, aku temani, sayang...]
[Dok, apa-apaan kau ini?]
[Aku hanya ingin melihatmu mandi.]
"Dokter, sudah ya, aku mau mandi, jangan ganggu."
Megan dengan sadis mengakhiri panggilan.
Maaf sayang, aku tidak tega membuatmu tersiksa. Tunggu saja, aku akan mengantar diriku lagi untukmu.
Sungguh Megan teramat rindu pada suaminya tapi apa daya, keadaan mengharuskan mereka untuk berjarak jauh. Entah bagaimana dengan pria itu, apa dia juga merindukan kebersamaan dengannya, ataukah hanya membutuhkan tubuhnya ini untuk menuntaskan hasrat berc*inta, tapi apapun itu bukanlah persoalan bagi Megan.
.
.
Malam datang. Pesta akan dilaksanakan. Nenek sudah bersiap tentunya.
Megan lagi-lagi harus mendatangi kamar putranya, anak itu telah bersiap atau belum, harus dipastikan.
"Sayang..."
__ADS_1
Megan membuka pintu setelah mengetuk.
"Oh Tuhan! Sayang, kamu sangat tampan!" Megan memuji dengan tatapan yang begitu tulus.
David mendengus. Pujian ini sudah sering terdengar dari mulut wanita ini, membosankan..
"Anakku, kau benar-benar terlihat seperti ayahmu kalau sudah berpakaian seperti ini." Megan teringat akan wajah suaminya dan menyimpan rasa rindu dalam hati. Megan berjanji pada dirinya, dalam waktu tiga hari dia akan kembali ke Miami lagi agar bisa bertemu hot dudanya itu.
Para cucu cicit terlihat sangat kompak sampai datang menjemput nenek di kamar.
David yang menyusul ibunya hendak menuju kamar sang buyut, memilih berhenti melangkah saat melihat gerombolan masuk kesana. Ya... dia cukup sadar siapa dirinya.
"Hey! David, kemarilah!" salah seorang diantara mereka memanggilnya dengan akrab. Ya sudah David menghampiri mereka yang sudah mengelilingi wanita yang sudah sepuh itu.
"Tolong fotokan kami bersama nenek."
Dia adalah tante Lisa, kakak sepupu Megan. Namanya disuruh orang tua mau tidak mau David harus lakukan. Ia keluarkan ponselnya siap untuk menjepret keluarga besar itu.
"Tunggu! Singkirkan ponselmu yang buruk itu. Pakai punyaku saja." Robian, putranya Lisa yang juga seusia dengan David, memberikan ponselnya pada David dengan cara mengambungnya. David dengan sigap menangkapnya sampai ponselnya sendiri terlepas dari tangannya. Terdengar tawa kecil dari sebagian mereka.
Apa mereka sedang cari gara-gara? Ini penghinaan. Memangnya mereka anggap apa anak bungsuku ini?
Megan berdiri dan menghampiri David. Ponsel yang baru saja jatuh? Retak sudah. Megan Menahan amarahnya yang terasa ingin meledak.
"Kalian berfoto saja tanpaku. Kami akan menunggu di tempat acara." Megan mengambil ponsel dari tangan David dan melemparnya ke arah Robian. Beruntung tangan remaja itu sedikit sigap menangkap, kalau tidak, bisa saja terkena kepala Lisa, ibunya yang duduk membelakanginya siap berpose bersama.
Megan Berlian yang luar biasa. Cara melemparnya saja terlalu elegan. Batin sang nenek.
"Ayo pergi Nak," Megan menggenggam pergelangan anaknya itu dan melangkah membawanya pergi meninggalkan kamar sang nenek.
Bukannya merasa sedih, nenek hanya mengulum senyum melihat kepergian keduanya.
.
.
Oke, cukup sekian dulu, diusahakan doble up. Tapi mungkin malam ya guys! yuk semangat. 🥰
__ADS_1