Hot Duda Dan Perawan Tua

Hot Duda Dan Perawan Tua
Hal Mudah Pun, Tak Bisa


__ADS_3

Sebuah resort ternama yang terdiri dari banyak vila menjadi tempat keluarga ini tinggal selama di Bali. Satu vila ditempati oleh keluarga kecil itu.


"Apa tempat ini juga milik tante?" entah apa maksud si bungsu, Megan menjawabnya dengan santai.


"Bukan, tapi kalau kau mau, kita bisa memilikinya."


"Tidak perlu. Jangan terus membuang uang dengan hal - hal yang tidak penting." si raja hemat itu menyambar perkataan Megan.


"Baiklah, sekarang pergilah ke kamar kalian masing - masing untuk beristirahat lebih dulu."


"Masing - masing?" Erick mengulang perkataan Megan hingga wanita itu langsung tersadar bahwa si sulung sedang mengingatkan tentang kondisi kakinya yang tidak bisa berjalan normal.


Sementara David, remaja itu sudah menghilang setelah mendengar perintah untuk memilih kamar yang disukai.


"Oh, bukan begitu sayang, maaf, bunda melupakan tentang kakimu."


"Biar aku saja." Morgan mengambil alih kursi roda yang sudah siap di dorong Megan.


Megan mengikuti keduanya dari belakang.


"Waaaw! Indah sekali disini, Ayah!" seru Erick, mengungkapkan kekagumannya akan keindahan alam yang terlihat.


Posisi vila yang memang strategis membuat pemandangan pantai yang indah dapat terlihat langsung dari vila. Dan bonus keindahan lainnya adalah para wisatawan yang berkeliaran di area pantai dengan hanya mengenakan bikini.


Wah! Gawat, pemandangan ini bisa merusak polosnya mata anak - anakku. batin Morgan.


Erick minta duduk di sofa panjang yang terlihat sangat nyaman untuk diduduki maupun sambil tiduran. Morgan lalu memindahkannya ketempat yang anak itu mau, sedangkan Megan mengambil selimut untuk diberikan kepada remaja itu.


"Ayah! Ayah!" David memanggil dengan heboh. Tentu saja itu membuat semua orang merespon. Wajah dan tubuhnya berkeringat seperti habis joging.


"Ayah! Kamar yang aku tempati terlihat seperti kuburan. Ada banyak sekali taburan bunga. Baik di atas tempat tidur, di seluruh lantai bahkan sampai di kamar mandi. Bantu aku untuk membersihkannya."


Ketiga orang yang mendengar pengaduan itu sejenak membisu. Morgan yang telah mengatur hal itu sebagai surprise istrinya hanya mampu menahan napas dengan cara menggigit bibir seraya memikirkan harus mengatakan apa. Gagal sudah kejutan yang ia siapkan melihat senyum Megan yang sudah tak terkondisikan.


"Itu kamar utama untuk ayah dengan bunda. Artinya kau harus pindah ke kamar lain."


Jawaban Morgan membuat giliran David membisu. Setelah menggaruk pipinya yang tak gatal, ia lalu berbalik untuk mengangkut kopernya dari sana.


Tiba di kamar mereka, Megan dan Morgan tak bisa menahan tawa. Dekorasi khas bulan madu yang seharusnya tertata sedemikian rupa, sudah habis berantakan karena polosnya David Erlangga.

__ADS_1


"Hufff!" Morgan membuang napas panjang.


"Tak apa Pak Dokter, ini lebih mengejutkan." sindir Megan dengan halus. Situasi tak beraturan ini memang membuatnya sangat terkejut.


"Membuat kejutan memang bukan gayaku. Ini kejutan pertama yang aku rancang tapi malah gagal. Kau tidak kecewa kan?"


"Aku tidak kecewa sama sekali." Megan mendekat dan menghadiahi suaminya itu kecupan di pipi.


"Ini masih sore. Jangan memancingku."


.


Malam pertama, keempatnya menghabiskan malam dengan lomba memasak dengan tema memanggang daging.


Mereka terbagi dalam dua tim, yang mana satu tim terdapat dua orang. Morgan berpasangan dengan David sedangkan Megan berpasangan dengan Erick.


Baru di awal saja David sudah memandang remeh tim lawannya itu. Dua orang yang bisanya tinggal makan, pasti akan menjadi tim yang sangat kompak. Ledeknya dalam hati.


"Kakak yakin bisa memanggang? Kalau tidak bisa lebih baik menyerah saja jangan bikin malu." Erick merasa kurang yakin dengan Megan sebagai patnernya.


"Tenang saja. Hasil tidak akan menghianati usaha." dengan percaya diri penuh Megan menabur berbagai rempah untuk membumbui olahannya.


Akhirnya daging panggang telah siap.


"Aku sangat penasaran bagaimana rasanya. Sepertinya ini lezat." Megan memotong beberapa. Ia sendiri sangat penasaran akan masakan pertamanya.


"Ini, cicip masakanku lebih dulu." Morgan menyuapi istrinya dengan sepotong daging menggunakan garpu. Dengan senang hati Megan membuka mulutnya setelah melirik dua remaja itu sekilas.


"Waaah, rasanya sangat nikmat. Aku memberi nilai 100 untuk buatanmu ini." puji Megan. "Kau juga harus memberi nilai untuk masakanku. Tapi biar aku sendiri yang cicipi dulu."


Raut wajah Megan berubah ketika baru saja sepotong daging masuk ke mulutnya.


"Rick, apa tadi kau membaca resep dengan benar?"


"Apa seenak itu? Coba aku rasa." David yang penasaran ingin mencoba, tercekat saat tangannya dicekal oleh Megan.


"Jangan cicip. Ini bukan makanan." Kompak ayah dan dua putranya itu menatap wajah Megan. Kalau bukan makanan lalu apa?


"Tekstur luarnya sedikit keras dan gosong, namun bagian dalam masih mentah dan amis, rasa yang tidak bisa dijabarkan. Aku akan mengakui, sebenarnya aku tidak pernah memasak apapun." Megan lalu membereskan itu dan memindahkannya kedalam tempat sampah.

__ADS_1


"Jadi saat itu kakak menipuku? Sarapan pagi khas orang barat di Miami yang katanya buatan kakak, itu hanya tipuan?"


"Ya ...kau benar. Maafkan aku. Jadi ayo makan buatan ayah kalian saja."


Erick tak habis pikir Megan sampai menipunya untuk hal yang hanya sekecil ini.


Keluarga kecil itu menikmati makan malam dengan keheningan. Megan hanya banyak tertunduk, tidak lagi seperti biasanya dia. Ada rasa malu dan kecewa pada diri sendiri ketika tidak mampu melakukan sesuatu yang sangat mudah dilakukan oleh seorang ibu dan sebagai istri.


Kukira dia wanita sempurna yang bisa segalanya. Tapi rupanya ... Erick hanya bisa memaklumi wanita yang kini berstatus sebagai ibu sambungnya ini.


.


.


"Tinoooo! Tega - teganya kau permainkan aku? Gara - gara kau aku gagal! Kau yang membuat Megan keluar dari penjara, ya kan?" Lisa pulang dengan membentak dan mengamuk pada suaminya. Setelah mengetahui Tino ikut campur dengan urusannya, Lisa sangat marah.


Tino yang sabar, hanya diam mendengarkan teriakan istrinya.


"Sayang, jangan teriak. Bicara baik -baik kan bisa."


"Bicara baik - baik katamu? Kenapa kau lakukan ini padaku? Kau masih menyukai Megan? Hah? Masih suka dia?"


"Dengar Lisa, aku ini mencintaimu. Tapi aku menyayangi Megan. Aku tidak ingin dia dan kau tersakiti."


Pyaaaar....


Lisa menjatuhkan benda apapun yang ada disekitarnya. "Kau jahat, Tino! Bisa - bisanya kau menyimpan rasa pada perempuan selain istrimu!"


Bruak! Lisa membanting pintu kamar membiarkan suaminya sendiri di ruang keluarga. Ia kunci pintu dari dalam kemudian menangis sedih disana. Ia tidak habis pikir suaminya tega mengakui bahwa masih menyayangi Megan.


Tino masih berdiri pasrah menatap pintu yang baru saja dibanting dengan kasar.


Kalau dulu tidak terjerat dalam godaanmu, tidak mungkin aku mengabaikan perasaanku pada Megan. Aku gagal memiliki dia karena kau sangat giat menggodaku.


.


Yuk guysss semangat.


Makasih suportnya ya, sayang kalian semua🥰

__ADS_1


__ADS_2