Hot Duda Dan Perawan Tua

Hot Duda Dan Perawan Tua
Jangan Sakit Lagi, Bunda


__ADS_3

Kalian, ya... kalian, penunggu kisah ini, ga ada yang ingin aku sampaikan selain, selamat membaca🤭🤭


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Masih dini hari, Erick terbangun dari tidurnya. Dengan mata tertutup ia meraba keberadaan ponselnya. Mau bergerak saja rasanya sulit karena ada kaki seseorang yang menindisnya.


Beginilah kalau berani ambil resiko tidur berdua dengan David yang saat tidur akan bergerak bebas, berbanding terbalik saat dia sedang sadar.


[Rick, bunda sudah bangun.]


Brukh


"Aaaw! Shhhh!" David sangat terkejut dibangunkan dengan cara sebar-bar ini.


Spontan bergerak setelah membaca pesan dari ayahnya, Erick melupakan keberadaan sang adik di sisi ranjang.


"Kaaaak! Apa Kau ada dendam terhadapku?"


"Sorry, Kau jatuh ya?"


"Masih tanya lagi. Apa kau tidak melihat?" David beranjak setelah pegal di bokongnya sedikit mereda. Kakaknya benar-benar harus diberi pelajaran kali ini.


"Eit! Stop! Jangan membalasku! Ayo ke rumah sakit, bunda sudah bangun!"


Pernyataan yang baru didengarnya seketika membuat kekesalannya terlupakan. Tak ada yang lebih membahagiakan dari ini.


Berlari keluar dari kamar utama ke kamar masing-masing, untuk bersiap. Kedua remaja itu sepakat hanya menyikat gigi dan cuci muka. Meski begitu, tetap saja terlihat fresh.


Masih pagi buta keduanya melaju membelah jalan. David merasa sedikit tenang menumpang di mobil sang kakak, karena menilai Erick sudah mahir menyetir.


Dua remaja yang mengenakan seragam sekolah berbeda itu berjalan beriringan dengan langkah besar melintasi lorong rumah sakit itu.


"Hubungi pelayan unntuk membereskan kamar utama. Jangan sampai ketahuan kita berdua sudah tidur di kamar ayah bunda."


David mengangguk pasti.


"Kak, apa kau suka dengan rumah itu?"


"Suka, rumah itu memiliki aura positif dan aku merasa nyaman tinggal disana."


"Aku setuju dengan pendapatmu, Kak. Oia, bagaimana dengan Baby M? Kau tidak penasaran bagaimana wujudnya?"


"Skip dulu tentang dia. Pastikan dulu kondisi bunda. Aku tidak penasaran, yang pasti dia tidak mirip denganku." ketus Erick dengan muka datar.


"Dari wajah mungkin saja tidak mirip denganmu. Sudah jelas cetakannya berbeda."


Di hadapan pintu ruangan dimana ibu mereka berada, "Kak, jangan bersuara. Bisa saja bunda sedang istirahat."


Erick membuka pintu perlahan seperti saran adiknya.


"Biar aku duluan yang masuk untuk memastikan keadaan di dalam." Erick meminta adiknya menunggu di luar entah apa maksudnya.


"Tidak bisa." David mencegah dengan menahan tangan Erick. "Yang paling ditunggu bunda adalah aku, anak bungsu kebanggaannya."


Erick menahan napas. Jelas ini bukan tentang siapa yang paling ditunggu. "Anak bungsu apanya? Kau lupa siapa yang ada di ruangan sebelah?"

__ADS_1


David diam sejenak dengan mata berkedip-kedip. Ia menoleh ke arah pintu yang dimaksud kakaknya.


Benar, Baby M ada di ruangan itu, dia pasti sedang enak-enakan tidur nyenyak tanpa memikirkan kondisi perekonomian negara dan naiknya harga mie instan.


Asik dengan pikirannya, David tersadar saat kak Erick benar-benar sudah masuk lebih dulu. "Si kurang ajar ini." David mengumpat kakaknya yang mengesalkan. Dari semua kakak yang ada, Erick mungkin satu-satunya kakak di dunia ini yang tidak pernah rela mengalah untuk seorang adik.


Disusulnya abangnya itu masuk. Dilihatnya Erick berdiri menahan langkah seperti patung.


Ayah dan ibu mereka terlihat masih menikmati tidur nyaman sambil bergandeng tangan, sungguh pemandangan yang sangat manis. Tidak aneh lagi, kedua remaja ini memang sudah terbiasa melihat ayah ibu mereka saling menggenggam tangan.


Erick memberi kode untuk bergeser ke sofa yang ada, "ayo pura-pura tidur" menyadari waktu masih pukul tiga dini hari, keduanya tidak tega untuk bangunkan bunda. Pada akhirnya, mereka pun tertidur.


Pukul enam pagi, Morgan terbangun, hampir bersamaan dengan masuknya tim medis yang bertugas untuk memeriksakondisi istrinya.


"Selamat pagi, Pak Dokter," sapa sang dokter perempuan itu dengan ramah.


Morgan membangunkan istrinya hanya dengan menyentuh bagian kepala dengan lembut pastinya.


Dokter pergi setelah melakukan tugasnya.


Morgan baru menyadari keberadaan dua putranya setelah kepergian tim dokter.


"Sayang, sejak kapan mereka disitu?" tanya Megan yang tidak menyangka kedua jagoannya berada di ruangan ini pada pukul sebegini, mengenakan seragam sekolah lengkap.


"Entahlah, aku juga baru bangun."


"Apa aku sudah boleh duduk?" Megan rasa kondisinya sudah sangat membaik.


"Kalau sudah tidak pusing, boleh duduk. Aku akan mengatur ranjangmu." Morgan membantu agar istrinya bisa duduk dengan nyaman.


"Woaah!" Morgan tertegun sebentar sebelum akhirnya membuat wajah mereka saling berhadapan. "Hei... ini saja tidak cukup. Apa aku boleh membalasnya?"


Merasa sedang ditantang, Megan memberi serangan tepat sasaran.


Aktifitas saling memberi dan menerima air liur terjadi begitu saja membuat keduanya lupa akan situasi yang ada.


"Ayah, ada apa dengan bunda?" suara David dengan nada khas baru bangunnya. Dia yang masih polos tidaklah berpikir jauh sampai ke mana-mana saat baru saja bangun.


Terbelalak, Morgan segera merutuki kelakuannya.


"Sayang, kau sudah bangun?" Seolah tidak terjadi apa-apa, Megan bertanya santai tanpa salah tingkah.


David mendekat. "Bunda baik-baik saja?"


Megan mengangguk dengan senyum khasnya yang sangat dirindukan David.


"Lalu tadi kalian berdua sedang apa?" David bertanya dengan tatapan polosnya.


"Mata ayah tadi kemasukan sesuatu. Jadi bunda membantu meniupnya keluar." jawab Megan.


"Bunda, aku merindukanmu setiap hari." David semakin mendekat dengan wajah kakunya, ia duduk di sebelah bunda. "Bunda aku akan biarkan bunda memelukku sebentar."


"Hati-hati, bekas jahitan di perut bunda belum sembuh."


David balas memeluk wanita kesayangannya ini dengan sepenuh hati, namun berhati-hati seperti kata ayahnya.

__ADS_1


"Bunda juga merindukanmu sayang, sangat rindu pangeran bungsu bunda ini. Apa kau makan dengan benar?" Megan menyudahi pelukan.


"Aku makan seperti biasa. Tapi Bunda tahu, kakak membuatku kesal. Dia menghabiskan stok camilan. Bunda harus marahi dia."


"Baiklah, bunda akan marahi kakakmu."


Morgan hanya menjadi saksi bisu melihat kedekatan istri dan putranya ini. Tidak pernah berpikir mereka akan bisa sedekat ini.


"Eh, minggir..." seperti melerai sebuah pertengkaran, Erick merebut tempat adiknya di sebelah bunda.


Morgan hanya menggeleng tanpa komentar.


Megan merentang tangan, tidak sabar memeberi Erick pelukan juga.


"Sayang, bunda dengar dari ayahmu, kau yang membawa bunda ke rumah sakit? Terima kasih ya sayang. Kau adalah penyelamat bunda."


"Bunda, tolong jangan sakit lagi. Bunda membuatku sangat takut. Aku tidak selera makan selama beberapa hari. Lihatlah, aku sudah kehilangan banyak berat badan." lapor Erick, terdengar seperti mendumel.


"Iya, sayang ... maaf membuatmu khawatir. Tapi ... bukankah sekarang waktunya ke sekolah?"


Kompak kedua remaja itu menggeleng. "Bolehkah hari ini tidak ke sekolah?"


Megan gantian menggeleng. "Tidak boleh. Datanglah lagi saat pulang sekolah. Jangan lupa bawalah hadiah untuk adik kalian. Kita akan jenguk dia. Kalian mau kan?"


Hening, akhirnya kedua remaja itu mengangguk pelan.


Keduanya mengangkat ransel sekolah setelah berpamitan. Tidak lupa pula mengucapkan "I love you, Bunda." lalu pergi.


"Katanya kehilangan selera makan tapi menghabiskan stok cemilan." Megan Morgan tertawa bersama melihat kepergian Erick Erlangga bersama adiknya.


.


Pulang sekolah. Demi ibunya, Erick memasuki sebuah toko yang menyediakan berbagai hadiah untuk bayi dan anak-anak. Mulai dari pakaian, perlengkapan hingga mainan tersedia disana.


Tidak sengaja penglihatan Erick menangkap sosok seseorang yang sedang membayar di kasir.


"Rana?"


Tidak hanya dipikiranku, tapi Rana ada dimana-mana. Langkah kaki membawanya menuju sepupu tirinya itu.


"Ini, biar aku yang bayar tagihannya." seorang remaja laki-laki menyerahkan sebuah kartu berwarna gold kepada mbak kasir untuk membayar semua tagihan Rana. Langkah Erick terhenti. Ia tersadar dan merasa minder untuk mendekat.


Kenapa dia sangat keren? Dia bebas menggunakan kartu untuk membayar belanjaan orang lain. Sedangkan aku hanya punya uang tunai. Itupun hanya tabungan sisa uang jajan.


Sadar diri, Erick mengurungkan niat untuk menyapa Rana. Ia berbalik, melangkahkan kaki ke arah banyak mainan anak-anak.


Setelah bolak balik memilih, akhirnya pilihan jatuh pada mainan mobil-mobilan berbattry isi ulang seharga tiga puluh lima ribu rupiah.


"Semoga bunda senang dengan hadiah ini. Huh, baby M, ini adalah hadiah pertama dan terakhir dariku, untukmu. Kau suka atau tidak, terserahmu saja. Asal kau tahu, aku merelakan tabunganku demi hadiah ini"


.


.


Bestyyyy... makasih udah mampir🥰

__ADS_1


__ADS_2