
Erick merasa sangat tidak fokus. Perkataan bunda yang mengatakan 'tidak peduli' lagi terhadapnya terus mengganggu. Dua hari sudah Megan tidak menegur atau menyapa seperti biasa. Bahkan susu coklat hangat tidak lagi Erick dapatkan dari ibu sambungnya itu.
Tangan Erick menggantung di udara ketika hendak menyalami tangan bundanya saat berpisah di pagi hari. Wanita itu seperti tidak melihat dirinya. Megan melewati Erick begitu saja. Benar - benar diabaikan.
"David, bundamu masih marah padaku, ya?"
David hanya menggidik bahu tak mengerti.
Rasanya tidak nyaman seperti ini.
"David, kau beritahu bunda, aku akan menemui bunda Yana." diam-diam berharap interaksi dengan Megan akan membaik setelah ini.
"Baiklah akan kusampaikan."
Sepulang dari sekolah, Erick mengirim pesan ke bunda Megan.
[Kak]
Dengan cepat ia ralat sapaannya itu,
[Bunda, aku akan menemui mantan istri ayah hari ini. Aku tunggu di pos security sekarang. Bisa mengantarku?]
Tak lama ada mobil berhenti di depan gerbang sekolah. Seseorang yang sudah sangat dikenal datang menghampirinya.
Kenapa supir yang menjemput?
Erick merasa sedikit kecewa bukan Megan yang menjemputnya.
Sang supir membawa Erick ke sebuah restoran. Remaja itu turun dari mobil dengan perasaan tidak senang. Hatinya merasa tidak senang karena bunda Megan mengabaikannya, ditambah lagi saat ini ia akan bertemu dengan ibu yang tidak ingin ia lihat lagi.
Tiba di sebuah ruangan, hanya ada Yana dengan makanan yang sudah tertata rapi di atas meja. Uap panas terlihat melayang-layang diatas sajian itu, menandakan bahwa baru saja disiapkan.
Maryana masih terlihat begitu cantik meskipun usianya sudah 40 tahun. Tidak heran jika Erick dan David memiliki wajah rupawan yang diwariskan dari wajah Morgan dan Yana. Baik, lupakan itu.
"Duduk Nak," Yana melayani putranya itu dengan baik. Ia tidak menyangka Erick akan benar-benar memenuhi permohonannya.
"Ibuku memaksaku untuk datang ke sini."
"Okey, tak masalah jika hanya terpaksa, Nak, ayo makanlah dulu."
Meskipun rasanya sangat mengiris ketika putranya menyebut Megan sebagai ibu, Tapi Yana sebaik mungkin mengkondisikan raut mukanya untuk tetap terlihat baik-baik saja. Inilah konsekuansi yang harus ia jalani.
"Mau bertemu bunda lagi, ini sudah sangat membahagiakan. Erick, makanlah yang banyak Nak."
Erick mulai mengangkat sendok. Ia mengunyah makanan itu pelan, seperti tidak memiliki selera.
Namun demikian, ia menghabiskan bagiannya.
"Apa makanannya enak sayang?" Yana tidak berhenti membangun suasana.
__ADS_1
"Aku sedang belajar menerima bunda Megan untuk menjadi ibuku. Jadi setelah ini, kuharap kita tidak bertemu lagi. Hiduplah bahagia. Aku ... juga akan bahagia."
Tidak mudah bagi Erick untuk mengatakan ini kepada ibu kandungnya sendiri, terutama trauma yang sudah wanita ini berikan untuknya. Rasa cintanya terhadap wanita ini benar-benar sudah menjadi puing-puing kecil yang sudah tidak layak untuk dipulihkan.
"Bunda mengerti bagaimana perasaanmu, sayang. Tapi ... bolehkah bunda menemui kalian kapanpun bunda ingin?"
"Bundaku sangat serius menginginkan kami meski kami tidak terlahir darinya. Jadi ... aku tidak ingin perasaannya terganggu jika kita terus bertemu."
Yana kembali mendengar penolakan dari putra pertamanya. Ini sudah diprediksi oleh Yana bahwa tidak mudah bagi anak-anak menerimanya kembali setelah apa yang telah dia lakukan di masa lalu. Tapi Yana teguh pada apa yang diinginkan oleh hatinya. Cukuplah 10 tahun terakhir ia abaikan kedua putranya, sekarang adalah waktunya untuk kembali merajut kasih sayang bersama keduanya.
"Jangan halangi jalanku."
Erick yang sudah berdiri hendak pergi dari sana setelah merasa semuanya cukup. Namun, siapa sangka ibu yang telah lama pergi ini sedang belutut dihadapannya sambil memohon untuk dimaafkan.
"Maafkan bunda, Nak... bunda mohon."
Seorang anak dibagian bumi manapun tidak akan sanggup ketika seorang ibu seperti ini. Yana tersungkur di dekat kaki Erick, memohon untuk sesuatu yang bernama 'maaf'.
"Sebelumnya sangat sulit bagiku untuk menerima orang lain masuk ke hidup kami. Tapi saat aku memutuskan untuk menerima bunda Megan, aku pun telah memaafkanmu dalam hatiku, Bunda. Aku tidak ingin kehidupan baru yang kujalani dihantui oleh rasa benci terhadapmu. Aku bahkan berharap agar kita tidak bertemu lagi."
Yana menangis sejadi-jadinya. Pengakuan ini terasa sangat menyakitkan lebih dari apapun.
"Bangunlah bunda. Jangan seperti ini." Dengan setengah membungkuk Erick menyentuh bahu ibunya.
Yana pun berdiri lalu memeluk Erick. Akhirnya kesampaian juga ia peluk buah hati pertamanya ini lagi.
"Tapi itu tidak berarti aku menerimamu kembali Bunda."
"Ya, tak apa sayang, hanya maaf saja juga sudah sangat membahagiakan bunda. Okey, bunda akan hidup bahagia tanpa kalian berdua disisi bunda. Bunda janji tidak akan berharap lebih." Yana mengusap pipi putranya dimana air mata sedang mengalir seperti anak sungai.
.
Pulang ke rumah, Erick tidak mengira akan merasa benar-benar legah setelah mengucapkan kata maaf untuk ibu kandungnya itu.
Ia raih ponselnya lalu mengetik beberapa kata.
[Aku sudah menemui bunda Yana. Aku memaafkannya] ia kirim teks singkat itu kepada Megan.
Meski sudah melakukan hal besar ini, Megan tetap mengacuhkannya. Tidak ada respon sama sekali.
Apa dia masih marah padaku?
Erick menyentuh dadanya kemudian. Saat memikirkan bahwa Megan terasa semakin jauh darinya, ada sedikit ketakutan yang ia rasakan. Apa dia benar telah terjebak dengan kenyamanan dari perilaku Megan selama ini? Erick kembali bertanya dalam hati, apa aku sudah benar-benar menganggap dia ibuku?
"Kak. Kau jadi ketemu ibumu tadi?"
David menyambut kepulangan kakaknya dengan sepenggal pertanyaan.
"Ya."
__ADS_1
"Jadi bagaimana?"
"Kami makan bersama dan saling memaafkan."
"Apa? Secepat itu? Aku ikut senang kak." David kemudian lanjut mencari keberadaan topi kesayangannya.
"Terakhir kau yang memakainya, kak. Ada di kamarmu, kan?"
"Topi putih? Oh, maaf itu ketinggalan di vila Miami." jawaban enteng kakaknya seketika membuat darah mendidih. David megoceh dengan rasa kesal.
"Sore sayang..." bunda Megan muncul bersama Morgan. Wajah kedua remaja itu sumringah seketika. Lagi-lagi Megan tidak menganggap keberadaan Erick. Ia hanya menghampiri David dan anak itu menyalaminya seperti biasa.
"Bunda aku sudah siap. Tapi aku mencari topi kesukaanku karena ingin memakainya. Kakak malah meninggalkannya di Miami."
"Oh, beli yang baru saja. Ayo kita jalan. Oh, tunggulah di mobil. Bunda mau ganti baju." Megan berbelok ke kamar menyusul Morgan.
"Sayang, hati-hati di jalan. Kalau lelah, jangan paksa menyetir. Telpon supirmu." dasar tidak romantis, Morgan lebih merekomendasikan supir dari pada dirinya sebagai suami.
Megan sudah siap dengan outfit kerennya.
"Cantiknya istriku ini. Tapi tunggu. Bukankah terlalu kejam kau abaikan anak itu berhari-hari? Wajahnya terlihat memprihatinkan."
Megan terbahak.
"Tunggulah sampai besok sayang. Aku suka melihatnya muka kasihanya itu. Tapi sepertinya ini bukan keinginanku. Baby M mungkin sedang menghukum kakaknya."
Megan pergi setelah ritual rutin sayang-sayangan bersama Morgan berakhir. Meski hanya tipis-tipis tapi itu wajib jika akan berjauhan walau sebentar.
Apa aku masih punya kesalahan? Melihat kepergian Megan yang tidak juga menyapa dirinya, Erick berdiri ditempat. Ia tidak tahan. Rasanya harus mengejar wanita itu, wanita yang terlanjur ia beri ruang dihatinya, wanita yang selama ini begitu gigih berjuang mendapatkan hatinya, wanita yang sama yang selalu memberinya kasih sayang layaknya seorang ibu.
Suara mesin mobil berlalu meninggalkan pekarangan rumah itu. Seketika itu juga Erick tersadar kakinya sedang berdiri tanpa tongkat penyanggah.
"Ayah! Ayah!" Erick menjerit memanggil Morgan.
Morgan keluar dari kamar. "Kau kenapa bereriak?"
tanpa menyadari keadaan putranya.
"Ayah, aku berdiri tanpa tongkat. Ayah, aku sembuh!"
Morgan terdiam di tempat. Sorotan matanya berjalan ke pijakan kaki putranya. Benar, kedua kaki itu berdiri dengan sempurna. Morgan berjalan kr arahnya. Memberi anak itu pelukan selamat. Hampir saja ia menangis terharu.
Benarkah Erick sembuh? Dia bahkan belum mencoba melangkah.
.
.
Semangat senin bestoy... lope kalian😁
__ADS_1