Hot Duda Dan Perawan Tua

Hot Duda Dan Perawan Tua
Tangkapan Besar


__ADS_3

Kuakui, bunda Megan sangat berjasa atas harga diriku barusan. Dia bahkan mengabaikan keluarga besarnya dan membawaku pergi dari hadapan mereka. Aku salut dengan istri ayah kali ini. Lebih memilih membelaku yang adalah orang asing.


David menyimpan sedikit kekagumannya pada Megan setelah apa yang ibu barunya itu lakukan. David sangat puas melihat wajah sombong dari cucu cicit nenek buyut yang berubah seketika saat Megan beraksi untuknya.


"Perkenalkan, dia David Erlangga, anakku."


Megan sudah berbaur dengan para sepu yang merupakan tamu undangan sang nenek. Dengan ramah ia menyapa setiap mereka dan kesana kemari menyeret anaknya itu, takut terlepas. Karena jika anak ini dibiarkan sendiri, dia hanya akan menyendiri jangan harap dia akan menyapa orang lain lebih dulu.


"Beri salam sapa pada mereka." bahkan bersikap ramah pun harus diarahkan oleh ibunya. Syukurnya dia masih dalam mode yang baik jadi sedikit penurut.


Tak jarang dari setiap tamu yang memuji keserasian keduanya sebagai ibu yang cantik dan anak yang tampan rupawan.


"Nona Megan, kau memang pantas menjadi ibunya."


Mendengar pujian untuk ibunya itu David tersenyum tipis.


Aku memang tampan dari lahir, bahkan jika tidak mengenakan pakaian semahal ini aku tetaplah tampan.


David mengatakan itu, tapi dalam hati saja.


Tak berselang lama, seluruh keluarga datang bersama nenek. Mereka terlihat sangat bahagia. Megan kembali membawa David mendekati mereka, wajah Megan tidak lagi tampak menakutkan, ia berbasa-basi dengan seluruh keluarga memperlihatkan ekspresi yang sangat normal, seolah tidak ada ketegangan yang telah terjadi diantara mereka.


Pesta berlangsung dengan lancar. Nenek sangat bahagia melihat semua cucu-cicit berkumpul di kediamannya.


Nenek juga lega, Megan bertindak makin dewasa. Dia bukan lagi Megan yang akan menampakkan rasa tidak sukanya bahkan di depan tamu sekali pun seperti kebiasaan buruknya sebelum ini.


Melihat Megan yang dengan tenang berinteraksi padahal baru beberapa saat lalu sedang kesal, membuat Nenek semakin yakin untuk menetapkan Megan sebagai pemegang kendali perusahaan setelah dirinya tiada nanti.


Nenek sangat mengenal karakter satu per satu dari tiap cucunya. Namun dia tetaplah nenek bagi mereka semua, dan dia tidak pernah pilih kasih meski mengetahui kebusukan hati sebagian cucunya dan menganggap itu hanyalah kekurangan yang keturunannya itu miliki.


"Hei! Megan, jadi benar kau sudah menikah?"


Seorang nyonya tua menghampiri Megan yang sedang duduk mendampingi sang nenek.


"Iya, Nek. Dan ini anak kami."


David yang dimaksud hanya mengangguk saat wanita tua ini menatap wajahnya. Remaja itu rada bingung harus bersikap bagaimana lagi. Ia lelah dengan situasi ini. Ibunya terus memperkenalkannya pada siapapun sejak tadi.

__ADS_1


Bunda Megan benar-benar menghayati perannya sebagai ibu. Aku bosan berkenalan sejak tadi. Hah! Coba saja ada ayah dan kakak, aku tidak akan menanggung ini sendirian. Remaja itu mengeluh dalam hati, tanpa ia sadari telah menyebut wanita itu dengan nama bunda Megan.


"Wah, kau hebat sayang, baru menikah tapi anakmu sudah sebesar ini. Tapi dimana suamimu?" Wanita tua yang datangnya dari kota yang sangat jauh itu terlihat ingin tahu bagaimana wujud Morgan.


"Suamiku sedang mendampingi pengobatan putra sulung kami, Nek. Sayang sekali kau tidak bisa berkenalan dengannya."


"Hei! Putra sulung? Jadi ada lagi anak tang lebih besar?"


"Iya, Nek. David adalah anak bungsu kami. Kakaknya berusia dua tahun diatasnya."


Wanita tua itu mengedarkan pandangan protes yang terlihat lucu. "Bagaimana mungkin yang ini putra bungsu? Apa kau tidak berniat melahirkan anak?"


Megan tersenyum dan tanpa basa-basi mengatakan, "Nenek benar. Aku tidak akan lahirkan anak. Dua saja cukup, bukan?"


Wanita tua itu menggeleng dibuatnya. "Kau ini ada - ada saja, Megan." ucapnya heran.


Acara hampir usai. Setiap orang sedang asik menikmati hidangan yang ada.


"Tante Megan," Rana menyapa Megan dengan tingkah manisnya.


"Hai Rana, sudah makan kamu?" Megan yang sedang mengunyah menawarkan Rana untuk menikmati hidangan.


"Oh, jadi begitu ... apa David baik padamu?"


"Iya, tante. Dia meminta Rana untuk ambil apapun yang Rana suka dan membayar semua tagihannya."


Megan berhenti mengunyah untuk beberapa saat, lalu tersenyum kembali. "Wah, tante tidak menyangka David akan bermurah hati padamu. Baguslah,"


"Bagus? Apa tante tidak kebaratan akan itu?"


Seorang pelayan menghampiri Megan dan berbisik, membuat ekspresi wajah wanita itu berubah tegang. Setelah menatap sang pelayan hampir lima detik lamanya, ia lalu menggerakkan kaki untuk melangkah. Ia tidak lagi semoat menanggapi Rana.


David yang melihat Megan pergi meninggalkan tempat, pun juga menyusul ibunya itu. Kali saja ada skandal yang terjadi setelah ini, pikirnya. Dan itu bagus untuk digunakan sebagai alat yang bisa membubarkan rumah tangga ayahnya ini. Kenapa? Karena semakin kesini, David merasa setiap orang dalam keluarga ini tidak ada yang beres. Rasanya mengerikan jika harus tinggal lama dan berdampingan dengan orang-orang kacau di keluarga ini.


Megan terus berjalan hingga ke luar. Pas di pintu gerbang yang cukup gelap berdiri sosok tinggi seorang pria.


David yang mengikuti diam-diam, bertanya dalam hati, siapa gerangan orang yang sepertinya sedang ingin menemui ibunya itu.

__ADS_1


Semoga ini adalah tangkapan besar. Batinnya.


David melihat ibunya itu semakin melangkah dengan pasti ke arah sosok itu.


Wah! Apa yang wanita itu lakukan?


Megan memeluk orang itu. Dapat dipastikan David bahwa orang itu juga membalas pelukan Megan.


Siapa pun dia, sepertinya langit sedang menolongku membuka mata ayah kali ini.


Morgan akan sangat marah jika mengetahui istrinya berpelukan dengan pria lain. David yakin itu. Dua kali sudah ayahnya itu dikhianati dan mungkin saja ini yang ke tiga kalinya.


Sorry, ayah! Aku turut prihatin tapi ... kau terpaksa harus terluka lagi karena wanitamu.


Asik membatin, David dibuat tercekat saat melihat Megan dan orang itu melakukan hal tak senonoh.


Mereka berc*iuman? David spontan memalingkan wajahnya. Ia tersadar bahwa hal ini seharusnya bukan tontonan seorang remaja dibawah umur sepertinya.


Tante Megan, beraninya kau mengotori kesucian mataku!


David meraba ponsel di saku kanannya. Meski layarnya retak, tapi pinsel miliknya ini masih mampu mengambil gambar. Hanya karena faktor minimnya cahaya jadi hasil tangkapan kameranya sedikit amburadul.


Ini benar-benar tangkapan besar. Tante Megan, bersiaplah untuk mendengarkan ucapan selamat tinggal dari ayahku!


Di posisinya, Megan menyudahi aktifitas silahturahmi bibir yang telah ia mulai tadi. "Kenapa kau disini? Dan kenapa tidak masuk?"


Bukannya menjawab, pria di depannya malah melepaskan jaket lalu dengan baik hatinya memasangkan jaket itu ke tubuh Megan.


"Pakai jaket ini untuk menghindari masuk angin. Pakaianmu sangat terbuka."


.


.


GUYSSS! maaf bgt karena baru up😌


Kira² sapa tu yang datangi emak tirinya David?

__ADS_1


.


Jangan lupa dukungannya cintaaaa🥰


__ADS_2