Hot Duda Dan Perawan Tua

Hot Duda Dan Perawan Tua
Kedatangan Yana


__ADS_3

[Ayah, bisa jemput aku di sekolah? Uangku tidak cukup untuk membayar ojek.]


[Ojek? Bunda tidak menjemputmu?]


[Aku tidak tahu. Sudah saatnya pulang satu jam lalu tapi istri ayah tidak bisa dihubungi. Mungkin dia sudah bosan mengantar-jemput aku.]


[Baik, tunggulah!]


Baru saja mengantar Erick pulang dari sekolah, Morgan lalu melaju untuk jemput si bungsu.


Di perjalanan pulang.


"Ayah, apa kau bertengkar dengannya?" meski David tidak menyebutnya bunda, istri ayah, tante Megan ataupun wanita itu, Morgan sangat tahu siapa yang dimaksud oleh putranya ini.


"Kami baik-baik saja. Mungkin dia memang sedang banyak urusan." jawab Morgan, santai.


"Biasanya dia menjemputku atau meminta supir yang jemput tanpa pernah terlambat. Ayah, apa dia mulai berubah pikiran dan tidak peduli lagi padaku?"


"Jangan berpikir terlalu jauh. Bundamu punya banyak macam kesibukan."


David tidak lagi mengatakan apapun setelah mencerna dengan baik semua yang dikatakan ayahnya.


"Ayah akan pulang besok pagi karena teman ayah sedang cuti." beritahu Morgan saat mobil sudah tiba di depan rumah.


"Ayah jangan terlalu lelah. Nanti bisa sakit." meski tidak banyak bicara, David cukup perhatian pada ayahnya.


"Tenang sja. Ayah ini laki-laki. Lagi pula ayah punya tiga tanggungan sekarang, jadi harus bekerja lebih giat." jawab Morgan, asal.


"Hah! Kenapa harus menanggung tante Megan? Dia punya uang yang banyak.".  protes David dengan wajah seriusnya.


"Tapi dia tetap istri ayah dan ayah harus bertanggung jawab atas dirinya."


"ya ya ya..." David menyahut seraya turun dari mobil.


"Biasanya dia selalu bersemangat mengurus anak itu. Lalu kenapa sekarang tidak memberi kabar kalau tidak bisa menjemput?" Morgan bergumam sambil melaju pergi. Ia bahkan tidak berniat sedikitpun memberitahukan tentang mantan istrinya kepada anak-anak.

__ADS_1


Dulu, ayahnya memang kerab menghabiskan waktu di rumah sakit dengan alasan pasienlah, inilah, itulah, dan hampir tiap ayahnya itu tidak pulang saat malam hari, David akan diam - diam menangis di kamarnya sendirian. Tapi berbeda kali ini, bocah itu sudah besar. Dan lagi, kini ada seorang ibu yang tidak pernah lupa memberi perhatian tulus.


"Kenapa kau baru pulang? Hah, wanita itu pasti sudah bosan jadi ibumu. Apa aku bilang, hanya ayah yang harus kita andalkan." baru juga David membuka pintu sudah mendengar ejekan halus dari kakaknya.


"Kak, lebih baik diam saja atau kakimu akan rusak selamanya." ia teruskan langkah menuju kamar, tidak peduli betapa kesalnya wajah Erick. Niat ingin membuat adiknya panas, malah hatinya yang merasakan hal itu.


"Selamat malam, sayang ..."


Menikmati makanan ringan sambil menonton siaran televisi, Erick yang sedang duduk santai ditemani tongkat penyanggahnya, tidak menyadari kepulangan wanita yang berstatus sebagai istri ayahnya itu. Ia pun menoleh setelah mendengar sapaan untuknya.


Oh, ternyata dia masih ingat pulang. ku kira sudah lupa.


"Hmmm." meski hanya disambut dengan kata yang ogah - ogahan, Megan  menghampiri remaja itu dan mengulurkan tangannya. Erick mengerutkan alis dengan wajah bingung, kemudian mendekatkan bungkusan makanan yang hanya tersisa sedikit. "Sorry, sudah hampir habis."


"Bukan makanannya. Kau lupa harus menyalami tangan bunda?"


"oh, emmm." menyambut tangan halus Megan untuk sekedar ia tempelkan ke hidungnya secara terpaksa.


"Anak pitarku yang penurut," kembali Megan mengacak rambut Erick yang sudah lama tidak ia lakukan.


Muka jengah itu hanya bisa berpasrah. Nyatanya, ia tidak bisa lari kemana - mana.


"Rick,"


"Emmmm."


"Aku jadi teringat bahu papa dan mamaku. Hmmm. Seandainya mereka masih ada,"


"Sebenarnya tante menganggapku sebagai anak atau sebagai orang tua?"


Megan sontak tertawa renyah. Ada saja perkataan protes anak -anak yang terdengar sangat lucu baginya. Sayangnya, tertawaannya tidak pernah menular ke anak - anaknya.


"tentu saja kau ini anakku. Anak pertamaku."


Dia terdengar sangat bersungguh - sungguh. Kenapa ... bukan dia yang melahirkan aku? Kenapa dia harus menjadi ibu tiri? Tidak pernah satu hari pun dia mengandungku di perutnya. Tapi kenapa dia harus bersikap baik padaku? Apa dia benar -benar tulus? Atau ... dia sedang memberontak melawan hatinya yang sebenarnya tidak ingin seperti ini?

__ADS_1


Erick menoleh, ditatapnya wajah Megan yang sedang menutup mata, masih bersandar dengan nyaman di bahunya.


"Bunda ... jangan pergi, Bun! Jangan tinggalkan Erick. Bunda...!" Ingatan Erick kembali ke sepuluh tahun lalu saat usianya masih tujuh tahun. Tidak peduli betapa kecang ia menagis dan menahan tangan ibunya bahkan ikut terseret oleh langkah yang membawa wanita kesayangannya itu pergi, pada akhirnya ia tetap kehilangan bundanya itu, sampai hari ini. Menjadi satu - satunya orang yang menyaksikan kepergian ibunya, Erick merasa begitu terpukul. Mengingat kembali sakit hatinya, setetes air mata terjatuh begitu saja.


Maafkan aku, kakak. Aku berkeras tidak ingin menerimamu sepenuhnya karena ... aku tidak ingin terluka lagi. Wanita yang telah melahirkanku saja tega meninggalkanku, apa lagi dirimu, yang hanya ibu sambung.


Suara alarm dari bell pintu terdengar, menyadarkan Megan dari sandaran nyamannya. David pun muncul dari arah kamarnya. Begitu melihat ibu sambungnya sudah di rumah, David merasa legah.


"Biar aku yang membukanya." David berjalan ke arah pintu. Megan berdiri ditempat dengan jantungnya yang merasa gugup, juga takut.


Pintu terbuka.


David sungguh tidak mengenal orang ini. "Tante cari siapa?"


"David," wanita itu mendekat sangat perlahan, siring itu pula ada air matanya yangturun dengan deras. Ia sentuh wajah David dengan tangan bergetar. "Anakku, anakku sangat tampan." .


Dia adalah Mariyana, wanita yang telah melahirkan David dan Erick tentunya. Kini ia memeluk tubuh remaja itu tanpa permisi. "Maafkan bunda sayang ... bunda meninggalkanmu begitu lama..." David mematung tidak dapat melakukan atau mengatakan apapun.


Mariyana terus memeluk tubuh anak yang sangat ia rindukan itu sambil menangis kencang hingga kedua matanya tertutup menahan air mata yang terus mengalir.


"David!" sudah berdiri sosok tampan  dengan tongkat penyanggah kiri dan kanan, sedang menyorot dengan pandangan tajam dari kedua matanya. Yana melepas pelukannya. David terlihat masih kebingungan dengan wajah polosnya.


"E...rick, Erick, anak bunda ..."


"jangan mendekat!" langkah Yana yang tertatih dipaksa berhenti oleh larangan Erick.


"Sepertinya kalian berdua punya tamu penting. Silakan bicara dengan leluasa tanpaku." Megan berlalu keluar dan tidak lupa menutup pintu,


Setelah kepergian Megan, Yana mengusap habis air matanya lalu berusaha membuat suasana lebih tenang. "Nak, ayo bicara di dalam. Bunda sangat merindukan kalian berdua."


"Pergi dari sini!" baru saja tangan wanita itu akan menuntunnya, Erick sudah mencegah dengan nada yang cukup tenang, tidak membiarkan itu terjadi. "Pergilah dan jangan pernah kembali. Ibu kami hanya satu, wanita yang tadi baru saja menutup pintu itu." Erick menatap nanar pintu utama rumahnya seolah sedang melihat ke arah Megan yang baru menghilang di balik pintu itu.


David yang masih dilanda kebingungan, menjadi terpaku menatap wajah kakaknya yang baru mengakui bahwa bunda Megan adalah ibu mereka.


.

__ADS_1


__ADS_2