
"Ada yang harus dibicarakan?" Morgan muncul dengan sesuatu di tangannya.
"Ayah, aku sudah lama berpikir tentang Baby M. Aku telah menerimanya selama ini tapi belum sempat mengatakannya. Kurasa ... dia tidak buruk untuk kujadikan adikku." David mengutarakan kalimatnya yang terangkai rapi sedemikian rupa.
"Mau buruk atau tidak, dia tetap adikmu dan kalian berdua wajib menerimanya, ayah tidak menerima alasan penolakan."
"Jadi ayah juga benar-benar menerima dia?" dengan wajah antusias Erick bertanya.
"Tentu." jawab Morgan pula.
"Em ... lalu, mana hadiah dari kalian berdua buat baby M kita?" Megan baru teringat akan pesannya tadi pagi untuk membawa hadiah.
Merasa hadiah yang dibawanya bukanlah untuk seorang bayi perempuan, "silakan hadiah yang Ayah bawa lebih dulu." Erick menyinggung tentang 8bawaan ayahnya.
"Ayah tidak membawa hadiah untuknya. Ini untuk bunda kalian." Morgan menyerahkan sebuah paperbag kecil kepada istrinya. "Ini hadiahmu, terima kasih karena memberiku seorang bayi perempuan."
Megan menerimanya dengan senyum malu. "Trima kasih, sayang. Boleh aku membukanya sekarang?"
"Terserah, kapan saja itu hakmu."
Enak saja terserah kapan, Megan yang jarang menerima hadiah tentu saja sangat bersemangat dan penasaran ingin segera melihat apa isinya.
Di dalam tas kecil itu Megan menemukan sebuah box kecil mirip tempat perhiasan. Sebagai seseorang yang menjual perhiasan tentu Megan sangat sering menjumpai barang seperti ini.
Megan membukanya dengan hati-hati, penuh perasaan. Ia tengah mempersiapkan hati dan perasaannya untuk tidak kecewa jika hadiah ini tidak sesuai ekspektasi-nya.
Suamiku hanya seorang dokter yang mendapatkan gaji 1 atau 2 kali setiap bulan. Tidak seperti aku yang memiliki uang yang tak terhingga jumlahnya. Dia tidak mungkin mampu memenuhi standar dari seleraku. Aku akan berbesar hati menerima apapun darinya tanpa banyak menuntut. Cinta tulusnya padaku sudah lebih dari cukup.
Megan membuka itu dan seketika senyumnya merekah tanpa perintah.
Hening...
Kedua remaja itu hanya memandang dari tempatnya.
Bukan sesuatu yang berkilau seperti kilauan berlian, ini hanya sebuah gelang berlapis emas kuning mengkilat dengan buah berbentuk hati sebagai pemanisnya. Terukir pula nama Morgan disana, membuat nilai gelang ini memiliki posisi tersendiri di hati Megan.
"Sayang, bisakah bantu pasangkan ini?"
Permintaan istrinya membuat Morgan mendekat. Diambilnya benda itu. "Aku tidak pandai dalam hal menghadiahi seseorang. Tadinya ... aku harus berpikir keras karena aku sangat ingin memberimu hadiah. Tapi ... aku sedikit bingung mengingat kau sudah memiliki segalanya. Maaf, pemberian dariku ini ... mungkin tidak akan pernah malampaui harapanmu dan mungkin ini terburuk dari yang pernah kau terima dari orang lain." Morgan selalu saja merendah saat memberikan sesuatu pada istrinya.
"Pak Dokter, bisakah Kau tidak mengatakan itu? Aku sangat senang menerima hadiah darimu jadi jangan membuatku bersedih dengan kata-katamu."
"Baiklah aku tidak akan katakan itu lagi." Morgan memberi pelukan sayang setelah gelang itu sudah terpasang pada tempatnya.
Wajah kedua remaja itu tampak resah dan salah tingkah. Haruskah mereka menyaksikan moment sayang-sayangan ini? David yang masih terlalu polos hanya mampu menggaruk kepala, sementara Erick mengalihkan pandangan ke lain arah.
"Sayang,"
"Hmmm..."
"Trima kasih, Kau istri yang pengertian." pipi Megan dibuat menghangat atas pujian ini.
__ADS_1
"Itu karena suamiku seorang penyayang sepertimu. Kau banyak mengajariku hal-hal sederhana. Mencintaimu sepenuh hatiku saja rasanya tidak cukup. Morgan, katakan padaku, apa yang harus aku lakukan untukmu, aku ingin kau bahagia denganku."
"Kau sudah memberi segalanya. Semuanya sudah lebih dari cukup. Aku bahagia hidup denganmu. Akupun ingin kau bahagia denganku, jadi ibu yang bijak untuk anak-anak kita, ajari anak-anak menjadi manusia berguna dikemudian hari."
"Aku pasti akan jadi ibu yang baik, agar anak-anakku kelak menjadi orang-orang baik." pelukan keduanya menjadi kian erat, bergantian saling memberi kiss. Hanya kiss pipi, bukan kissing yang tidak layak dipertontonkan pada dua remaja itu.
"Ehmmm!" suara deheman seseorang mengalihkan semua perhatian.
"Nenek!" nenek Monic datang bersama si buyut yang terlihat semakin menua termakan usia.
"Tidak malu kalian berdua bermesraan di depan bocah?" nenek buyut yang belum terbiasa melihat kemesraan ini tentu merasa aneh. Kedua remaja itu menghampiri kedua sepu keluarganya dengan menyalami tangan keduanya.
"Untuk apa malu, Nek. Anak-anak harus tahu dengan jelas kalau hubungan kedua orangtuanya harmonis." Megan menyela komentar sang buyut sementara Morgan sama sekali tidak bersuara.
"Baby M, ini buyut sama nenek datang melihatmu." kedua orang tua itu mengeluarkan hadia bawaan mereka dan meletakkannya tidak jauh dari posisi tempat baby M berada. Ingin segera menggendong tubuh mungil itu tapi tidak tega untuk membuatnya terbangun.
"Waaah, trima kasih, nenek, buyut," Megan mewakili putrinya mengucapkan terima kasih dan tidak lupa ia singgung kembali mengenai kado dari dua abangnya baby M yang tak kunjung mengeluarkan hadiah yang katanya ada.
Setelah menarik napas berat, David meraba isi ranselnya dengan wajah datar seperti biasa. Tak lama kado darinya pun keluar dan yang terjadi adalah ekspresi dari mereka yang berada di ruangan itu, sangat tidak mengenakkan, kompak menahan tawa namun tidak tega untuk tertawa.
"Aku sebenarnya sedikit bingung memilih hadiah untuknya." David menjelaskan dengan salah tingkah. "Ini baby M, lima tahun lagi aku akan mengajarimu memainkan ini." kado berupa 'mainan ular tangga' lengkap dengan dadu-nya itu ia letakkan di samping adiknya.
Semua orang mengangguk paham saja kearahnya sambil membatin, tunggulah lima tahun lagi baby M.
Megan mendekat karena penasaran, mainan macam apa yang dijadikan kado buat bayi imutnya ini. "Sayang, mainan apa ini? Dimana kau membelinya?"
"Oh, aku membelinya di penjual mainan keliling. Apa Bunda pernah melihat penjual semacam itu?" Megan menggeleng ragu sambil berpikir.
"Lalu dimana kado darimu, kak?" tanya David pula, sengaja menyinggung.
"Aku belum sempat mampir untuk membelinya. Lupakan tentang itu, aku akan membawanya besok. Ayo bermain ular tangga saja." bohong Erick yang terlihat sangat jelas.
"Tapi aku tadi melihat mobilmu berpakir di depan toko mainan. Mustahil kau tidak membeli apapun dari sana." David terus memaksa.
"Bunda, sebenarnya siapa nama bayi ini? Apa namanya hanya terdiri dari satu huruf M saja?" Erick mengalihkan pembicaraan yang berhasil menuai tawa nenek dan si buyut.
"Jangan alihkan pembahasan sayang, mana hadiah darimu?" Megan menadah tangan dihadapan Erick.
"Huffff" Erick terpaksa melepas ransel sekolah itu dari pundaknya. Sebuah mainan berbungkus plastik transparan ia letakkan di tangan ibunya.
"Apa ini? Mobil? Ya ampun! Bukankah ini mainan anak laki-laki?" tanggapan Megan membuat lagi-lagi duo wanita tua itu tertawa, bahkan Morgan dan David menahan tawa mereka seraya menyentuh dahi sambil menggeleng.
"Bagaimana mungkin cicit cantikku ini diberikan kado mobil-mobilan?"
"Tadinya aku tidak tahu kalau dia seorang bayi perempuan. Kukira kami sama saja. Tapi kalian harus lihat ini, bisa menghasilkan bunyi dan bergerak kesana kemari." Erick berusaha menjelaskan tentang mainan yang ia beli, bahkan membuktikannya secara langsung.
Terbukti menghasilkan suara, sampai-sampai baby M terkejut dan menangis seketika dibuat mobil mainannya itu.
"Waduh! cukup, matikan itu ...! Sini sayang kecilku, nenek akan menggendongmu..." Monic akhirnya punya kesempatan untuk menggendong cucu perempuannya untuk pertama kali.
"Sorry, Bunda ..." Erick meminta maaf dengan wajah tidak enak.
__ADS_1
"Tak apa, sayang. Tapi lain kali berikan hadiah yang sesuai untuk adikmu."
...----------------...
Kebahagiaan tak terhingga untuk keluarga kecil Megan - Morgan. Malam ini kediaman keluarga ini sedang ramai didatangi oleh banyak orang yang datang memenuhi undangan pesta syukuran lahirnya baby M ke tengah keluarga.
Mervi Berlian Erlangga, nama lengkapnya.
M untuk inisial nama ayah bundanya, Ervi untuk gabungan kedua nama abangnya.
Seluruh keluarga turut hadir, tak terkecuali Rana yang datang dengan ibunya.
Berbeda dengan waktu-waktu sebelumnya, kali ini wajahnya tampak kuatir tidak seperti biasanya.
Selain desakkan sang mama untuk dekati Erick, perasaan Rana tengah dilanda dengan perasaan gelisah sebab pacar yang ia kencani beberapa minggu terakhir ini, lagi gencar-gencarnya menagih ciu*man yang selalu berhasil Rana hindari.
Ciu*man pertamaku harus aku lakukan dengan seseorang yang benar-benar aku sukai. Dan orang itu adalah kak Erick yang sudah menolakku dengan tegas.
"Dapatkan si Erick itu. Dia suami masa depanmu, Rana." Lagi-lagi, kalimat itu yang didengar Rana dari ibunya. Mama bahkan tidak peduli jika Erick telah menolak Rana satu kali.
Mama benar mendukung perasaanku padanya, tapi ... dia sudah menolakku tanpa pikir panjang. Kenapa aku harus terjebak perasaan dengan motif buruk mama ini?
Erick yang sedang mencari angin segar dan keluar dari pesta yang hampir berakhir, tak sengaja menemukan keberadaan Rana yang sedang duduk menyendiri. Tanpa permisi, ia pun duduk disebelah Rana.
Rana menoleh sekilas namun tidak berselera untuk menyapa lebih dulu.
"Rana, aku ingin minta maaf atas sikapku sebelumnya yang tidak ramah." Erick pikir, inilah kesempatan untuk berbaikan dengan adik sepupunya ini.
"Ya ..." jawab Rana, menggantung. "Kak, apa ... kau tulus meminta maaf?"
"Ya, tentu ..."
"Kalau begitu ... bisa lakukan sesuatu denganku?"
"Apa itu?"
"Tutup matamu." polosnya Erick, mau menutup mata.
Hening... hening dalam beberapa saat.
Erick yang masih menutup mata, tetiba merasakan sesuatu terjadi dengan bibirnya.
Inikah yang dinamakan berci*uman? Kenapa Rana melakukan ini padaku? Dengan kesadaran penuh, Erick melupakan segalanya dan fokus untuk membalas itu.
"Erick! Apa-apaan ini?!"
Erick maupun Rana dibuat terkejut bukan main.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung....
__ADS_1