Hot Duda Dan Perawan Tua

Hot Duda Dan Perawan Tua
Ayo Bersama


__ADS_3

Aku tidak perlu berusaha melakukan ini dan itu, tapi dengan mudahnya aku berhasil menjadi penguasa Antami.


Nenek, Megan, terima kasih sudah dengan ringan tangan memberi hal besar ini padaku. Aku memang akan lakukan yang terbaik, hingga suatu saat Antami akan menjadi milikku seluruhnya. Seluruhnya.


Minda, sedang berada di ruangan yang mulai besok akan menjadi ruang kerjanya. Perlahan ia menjatuhkan semua hal yang merupakan milik sang nenek, membuatnya berpindah ke dalam sebuah box besar.


.


.


Keluarga kecil dari pasangan Megan dan Morgan tiba di luar gedung Antami. Dua mobil sudah siap untuk mengantar mereka.


Megan dan Morgan masuk ke mobil yang terpisah dari dua remaja itu.


"Ini pemborosan. Kenapa harus dengan mobil terpisah? Bukankah kita berempat muat dalam satu mobil?" David tidak bisa diam saja ketika membayangkan berapa pemakaian energi yang dihabiskan untuk dua mobil keluaran Inggris yang sudah pasti mengkonsumsi Pertamax Turbo sebagai bahan bakarnya ini. Lagi pula, mengingat bumi ini sudah tua dan tentu saja energi yang dihasilkannya semakin sedikit.


"Untuk itulah menghemat energi diajarkan sejak kita belajar di SD dulu."


"Terserah, wanita itu orang kaya. Jangan banyak protes." sahut Erick yang duduk di sebelahnya. Supir yang mengemudi untuk keduanya hanya tersenyum merasa terhibur mendengar obrolan dua tuannya ini.


Tiba di rumah, rupanya Monic sudah memasak berbagai menu lezat.


"Mah," Megan menyapa ibu Mertuanya yang menyambut kepulangan mereka. Monic memberinya pelukan hangat.


"Kamu sehat kan, Nak?" Megan menjawab dengan anggukan. Kembali mereka berpelukan. "Pelukan mamaku rasanya seperti ini." kenang Megan akan pelukan sang ibu yang masih melekat dihatinya.


"Ayo kita ke dapur, mama sudah memasak banyak."


"Waaaw! Apa Nenek yang memasak? Aromanya tercium sampai ke luar." David terlihat tidak sabar untuk segera mencicipi makanan di atas meja.


"Nenek sendiri yang masak, sayang. Nenek sengaja membuatnya untuk menyambut kalian membawa bundamu pulang."


"Ayah yang membawanya pulang, Nek." sahut Erick.


Keluarga itu sudah mengelilingi meja makan. Megan Berlian yang biasanya anggun dan terlihat sangat tenang ketika berurusan dengan makanan, kali ini terlihat sangat berbeda. Tangannya bergerak memasukkan makanan ke dalam piring makannya, tidak lagi mengingat ada pelayan yang sudah dia utus ke rumah ini dan biasanya mereka lah yang akan melakukan itu untuknya, bahkan mengatur tata letak menu di piring makannya sekalipun.


Morgan memberi kode pada pelayan untuk tidak perlu repot. Sepertinya istrinya ini sedang kelaparan. Bahkan tidak lagi menghiraukan keberadaan mertua di hadapannya.

__ADS_1


Dalam sekian detik, keluarga itu hanya menatap Megan dengan rasa heran, juga prihatin. Megan terus melahap makanannya tanpa peduli apapun. David setengsh mati menyadarkan ingatannya tentang wanita ini, tapi orang yang ada dihadapannya ini benar - benar tidak seperti istri ayahnya itu.


"Apa tante sangat lapar?" singgung David, akhirnya menegur cara makan ibu barunya itu, seperti orang yang tidak makan selama berhari - hari.


Ting, ketukan sendok dipiringnya terhenti. Megan jadi tersadar akan situasi. Suami dan anak -anak serta ibu Mertua bahkan belum memiliki satu makananpun di piring makannya masing - masing, sementara dirinya sendiri sedang makan dengan lahap.


"Oh, ka-kalian belum makan? Menoleh ke arah Morgan dengan rasa malu. Tangannya lalu bergerak untuk menyentong nasi ke atas piring milik suaminya. "Sorry, karena sangat kelaparan aku jadi melewatkanmu."


Morgan menahan tangan Megan. "Makanlah saja. Aku punya tangan dan bisa lakukan sendiri."


Keluarga itu mulai memasukkan makanan kedalam piring masing -masing.


"Maaf, mah, sayang, kamu memang benar, bunda sangat kelaparan dan belun menyentuh makanan selama tiga hari."


Mendengar pengakuan itu, siapapun pasti akan tersentuh, termasuk Erick Erlangga. Wanita yang masih belum bisa ia terima sebagai ibunya ini, dipenjara selama tiga hari dan tidak makan pula.


"Iya Nak. Jadi makanlah, jangan pedulikan apapun." jawab Mama Monic.


Acara makan pun kembali berlangsung. Megan adalah orang yang menghabiskan paling banyak, seolah sedang balas dendam karena tidak bisa makan selama tiga hari.


Kamar milik Erick terlihat lebih sempit lagi.


Dengan susah payah David membantu kakaknya supaya naik ke ranjang. Ia lalu duduk di samping kakaknya itu sambil mengatur napas.


"Ada apa?" Megan yang sudah berdiri di depan pintu ditanya hanya dengan dua kata dari David.


Megan tersenyum lembut lalu melangkah.


"Geser, bunda mau duduk di tengah." David bergeser sesuai perintah. Megan yang sudah duduk diantara kakak beradik itu lalu memulai perkataannya.


Menoleh kiri kanan menatap dua remaja itu bergantian. Betapa bersyukurnya dia memiliki dua anak yang sudah sebesar ini.


"Sayang, maafkan bunda ya, ini memang memalukan karena bunda kalian pernah tinggal dipenjara. Bunda mungkin memang bukan orang baik, tapi untuk kalian, bunda akan jadi yang terbaik." bunda mengambil satu tangan dari masing - masing anaknya.


Tak bisa dibohongi, perasaan dua anak itu berdesir hangat ketika disentuh oleh ibunya ini.


"Ayo tinggal bersama dan jangan pernah berpikir menghilangkan bunda dari kehidupan kalian. Bagi kalian bunda Megan ini mungkin masih seperti orang asing. Tapi bagi bunda, kalian adalah kesayangan." Dua remaja itu sepertinya sedang dilanda kebingungan. Menggaruk pipi adalah ciri khas ketika keduanya sedang berperang melawan hati dan pikiran.

__ADS_1


"Sayang!" suara Morgan memanggil membuat dua anaknya itu kompak menarik tangannya yang masih berada di dalam pegangan lembut sang mama baru.


"Kau disini rupanya. Apa yang sedang kalian bahas?"


"Tidak ada, ayo ke kamar kita. Anak - anak, bunda tinggal, ya.."


.


"Pak Dokter, aku mau seperti ini saja dulu. Aku rindu." Megan memeluk Morgan dari belakang saat baru saja tiba di kamar.


Morgan membiarkan pelukan itu semakin erat. Tidak bisa bohong, Morgan bahagia.


"Pak Dokter,"


"Hmm?"


"Selama tiga hari ini kau tidak bermain gila dibelakangku kan?"


"Pikiranmu yang gila, untuk apa aku berselingkuh!"


"Baguslah, aku senang. Dok, Riko bilang kau ikut andil membantuku. Trima kasih ya,"


"Itu hanya kebetulan. Aku tidak punya keahlian semacam itu. Tapi yang aku dengar, dulu kau pernah saling suka dengan Tino?"


"Itu dulu. Sekarang tidak lagi."


.


.


Yuk tetap semangat guys! makasih atas dukungan kalian🥰


Novel Pertama yg udah tamat. Yuk maraton.👇



__ADS_1


__ADS_2