Hot Duda Dan Perawan Tua

Hot Duda Dan Perawan Tua
Tidak Berperasaan?


__ADS_3

"David, Erick, selamat pagi ...!"


Megan kini bergabung di ruang makan. Disana masih tersisa sepiring nasi goreng yang belum tersentuh.


"Bukan main ya, apa tante pikir disini ada pelayan? Setidaknya bangunlah lebih pagi untuk membuat sarapan bagi keluarga."


Nada ketus dari si putra bungsu membuat jantung Megan merasa tertembak. Bisa dibilang mulut pedas anak itu berhasil mengusir selera makannya.


Megan, tahan... tahan ... anak-anak memang begini. Megan menguatkan hatinya sendiri dalam diam. Ia tidak boleh marah.


"Maaf, sayang ... bunda belum terbiasa. Janji, besok bunda akan bangun lebih pagi, oke!"


"Apa kakak akan menetap di rumah ini juga?" Erick yang tadi hanya menyimak akhirnya buka suara.


"Kenapa? Kau keberatan bunda disini?"


"Buk-bukan begitu..."


"Ya sudah, mari kita hidup dengan rukun, layaknya keluarga bahagia, anak-anakku," Megan memungut piring di hadapan dua remaja itu untuk membereskannya.


"Apa kakak mencintai ayah?" entah karena terlalu kompak atau apa, kedua remaja itu sampai terlihat salah tingkah setelah mempertanyakan hal yang sama dalam waktu bersamaan pula.


Sebelum menjawab, Megan menoleh ke sekeliling, memastikan keberadaan Morgan. "Tentu saja cinta. Sepertinya ... bunda tidak bisa lagi pergi jauh dari ayah kalian."


Pak dokter, sayang sekali kau tidak mendengar pengakuanku ini. Tapi kau pasti bisa mual seketika jika mendengarnya. Megan membawa piring kotor untuk mencucinya. Senyum jahilnya melebar membayangkan perasaan kedua remaja itu.


Anak-anak sekarang, tahu apa mereka soal cinta? Apa dia pikir cinta itu akan selalu indah? Megan menggeleng heran.


.


Sebelum berangkat kerja, Megan menemui ibu mertuanya.


"Mah,"


"Oh Megan, kemarilah Nak." Monic menggeser tempat duduknya memberi ruang untuk Megan.


"Mah, maaf sebelumnya dan tolong jangan tersinggung ya, aku memanggil dua pelayanku untuk beres-beres rumah dan memasak di rumah ini."


"Megan, mamah bisa melakukan semuanya. Tidak perlu menyibukkan pelayan di rumah besarmu."


"Tidak bisa, Mah. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Kalau mama yang mengurus semuanya kasihan mama. Biar nanti mereka yang menyuci pakaian kotor, membersihkan rumah dan memasak. Mama fokus temani cucu mama saja."


Mama Monic mengangguk, "baiklah sayang,"


"Nona Megan, haruskah aku mengantarmu?" Morgan menyusul ketika Megan sudah berada di dekat mobilnya.


"Tidak perlu, Pak dokter." Megan hendak memasuki mobilnya tapi terhenti saat Morgan menghampiri bagian depan mobil itu.


"Apa itu?"


Morgan hendak menggapai sesuatu disana tapi tangan Megan mendahuluinya.


Wanita itu merasa kembali gugup dengan apa yang sedang disembunyikan tangannya saat ini.


"Ini bukan apa-apa. Masuklah, aku akan jalan sekarang.

__ADS_1


Megan masuk ke dalam mobil, membuat Morgan mencurigai gerak geriknya yang sangat aneh.


Morgan juga melihat ada sedikit keanehan pada moncong mobil mulus itu.


Megan sudah melaju. Morgan masih berdiri mematung.


Di pemberhentian lampu merah, Megan membuka tangannya yang berkeringat dingin sejat tadi. Ia menatap lurus potongan kain yang tadi ia genggam erat.


"Ini pasti potongan pakaian pria tadi malam. Gawat! Dia bisa curiga."


Suara ponselnya cukup mengejutkan. Tertera nama Riko sedang memanggilnya. Megan segera menjawab.


[Ya Riko?]


[Boss! Ini sekedar pemberitahuan, Polisi mengamankan kartu nama anda.]


[Apa? Tunggu, Riko! Aku memang sengaja menjatuhkannya tapi tujuannya adalah agar pihak rumah sakit menghubungiku. Bukan malah polisi. Kenapa aku sangat ceroboh?] Megan menyesali keputusan cerobohnya. Saking semangat ingin bertemu Morgan, ia sampai lupa berpikir jernih.


[Oia boss,]


[Tunggu Riko, bisakah panggil namaku saja? Kita ini berteman.]


[Okey, Megan, tadi sangat kebetulan aku melibat ada kakakmu di sekitar ruangan kedua pasien itu.]


[Apa? Kak Gea?]


[Bukan! Dia ... Lisa.]


Akhirnya Megan harus curiga. Kak Lisaaaa! Kau mau apa?


Panggilan berakhir dan mobil kembali melaju. Megan memilih untuk membengkel mobilnya lebih dulu lalu menghubungi supir untuk mengantarkan mobil lain untuknya.


.


Pukul sebelas siang Morgan mendapatkan panggilan dari pihak polisi untuk dimintai keterangan.


"Selamat datang, Pak, silakan duduk!" Morgan disambut dengan baik.


Ia ditanyai beberapa pertanyaan dan Morgan hanya menjawab tidak tahu. Memang benar dirinya bukanlah saksi mata peristowa itu.


"Saya hanya kebetulan lewat dan saat itu tidak ada siapapun." terang Morgan.


"Baiklah, terima kasih atas kerja sama anda, Dokter."


.


Hari ini Megan tidak bisa fokus. Banyak sekali yang mengganggu pikirannya. Ditengah pikirannya yang sedang kacau, ponselnya berdering.


Melihat nama suaminya sedang memanggil, Megan menarik napas dalam seraya menjawabnya.


[Ya ... Pak Dokter?]


[Sedang dimana?]


[Di kantorku, kenapa? Kau rindu?]

__ADS_1


Panggilan terputus begitu saja. Meski kurang beretika, Megan hanya menganggap itu kesalahan jaringan.


Ia rogoh tas kecilnya mengambil pil anti hamil dari sana lalu meminumnya, bersiap karena ia yakin suaminya akan datang.


Cssst cssst cssst. Tidak lupa mengaplikasikan wewangian kesukaan Morgan di beberapa titik tubuhnya.


Puluhan menit menunggu, seseorang mumbuka pintu tanpa mengetuk.


Morgan datang. Suaminya itu kembali menutup pintu dan menguncinya. Megan menyambutnya dengan senyuman nakal lalu menghampiri.


Bukan lagi memeluk, Megan berjinjit dan mengecup bibir suaminya dengan tidak tahu malu.


Tuhan, wanita macam apa yang telah kau tempatkan disisiku ini? Wanita seperti apa dia ini sebenarnya?


Morgan membisu. Aksi istrinya ini sangat menggoda, tapi ...


Wanita ini ... aku sungguh tidak mengenalnya. Dia mencelakai orang lain dan pergi begitu saja yanpa perasaan. Kenapa isteriku semengerikan ini?


Megan menarik tangan Morgan dan membawanya duduk di sofa, tanpa basa -basi duduk dipangkuan prianya itu dalam posisi berhadapan.


Morgan bahkan tidak mengatakan sedang rindu, dengan percaya dirinya Megan mengatakan "aku juga merindukanmu, Pak Dokter."


Megan kembali membuat bibir mereka menempel, dia terus bermain sendiri meski Morgan belum merespon aksinya. Sambil terus menghisap dan memberi gigitan-gigitan kecil, tangannya dengan aktif membuka kancing demi kancing kemeja suaminya.


Hampir saja keagresifannya membuka dengan kasar kemeja itu, membuat kancing-kancing kecil berserakan, namun otaknya memintanya bekerja lebih perlahan.


Pikiran Morgan tidak ditempat ini. Dia masih memikirkan apa yang baru ia ketahui saat di kantor polisi. Pilisi memegang kartu indentitas istrinya sebagai barang bukti.


Adanya sobekan pakaian dan mobil istrinya yang dalam keadaan sedikit penyok, mengapa semua ini terasa sangat kebetulan? Kenapa semua kebetulan mengarah kepada Megan? Ini sangat menyita pikiran dan perasaan Morgan.


"Kau masih sanggup melakukan ini setelah apa yang terjadi?" Morgan menahan kedua lengan Megan.


Kedua pasang mata mereka saling beradu untuk sejenak.


Megan sungguh benci ketika hasratnya dihentikan. "Pak dokter, apa maksudmu?" Kembali ia lanjutkan aksinya dengan mengelus rambut suaminya.


"Megan Berlian! Bisa kau berhenti?"


Degh...


Sepertinya situasi ini seerius. Megan kembali teringat akan kejadian semalam dan menebak bahwa Morgan sedang membahas soal itu.


"Megan, dua orang sedang terbaring di rumah sakit karena ulahmu, kau masih sanggup bersenang-senang? Dimana perasaanmu?"


Benarlah dugaan Megan. Morgan telah mengetahuinya. Nasi sudah menjadi bubur, dirinya sudah ketahuan.


Sadar bahwa ini harus tertunda, Megan lalu merapikan kembali kemeja suaminya yang sudah berantakan. "Pak Dokter, ... mereka berdua ... memang cari mati."


.


.


Bersambung....


guys! jan lupa dukungannya🤭

__ADS_1


__ADS_2