Hot Duda Dan Perawan Tua

Hot Duda Dan Perawan Tua
Masih Bisa Dibicarakan


__ADS_3

Lagi-lagi kembali ke rumah sakit, David bersemangat ingin mengetahui bagaimana kondisi ibunya saat ini.


"Apa kau butuh bantuan kursi roda sayang?" Morgan memberi penawaran terbaik untuk memudahkan istrinya berjalan dalam kondisi yang belum begitu stabil.


"Tidak perlu. Aku sudah sehat." biasalah Megan, sudah kembali ke mode awal. Ia telah melupakan sikap manjanya selama mengandung baby M.


Baby M, bunda datang ingin menemuimu, nak. Akankah kau senang bertemu bunda yang jahat ini? Baby M, maafkan bunda, sayang ...


Masih berdiri di depan pintu ruangan khusus bayinya itu, Megan berubah emosional. Air matanya turun tanpa permisi, disusul isak tangis kecilnya.


"Sayang, aku tahu kau sangat bahagia akan bertemu dia." Morgan menganggap istrinya sedang merasa terharu dalam kebahgiaan. Hanya memeluknya saja yang bisa Morgan lakukan.


"Aku malu bertemu dia... aku, bukan ibu yang baik. Dia, pasti tidak suka melihatku."


"Tidak akan seperti itu, sayang, dia sudah memaafkan kita sejak lama. Itu sebabnya dia lahir dengan selamat dan sehat."


Terdengar suara tangis bayi dari dalam. Sudah pasti suara itu berasal dari mulut mungil baby M dan itu berhasil membuat Megan semakin terbawa perasaan.


"Morgan, kenapa dia menangis? Apa jangan-jangan dia kesakitan?" pertanyaan yang polos dari seorang ibu baru.


"Bayi memang begitu, sayang. Hanya bisa menangis karena tidak pandai bicara. Mungkin dia lapar. Sekarang, ayo kita masuk karena kau harus memberi dia minum secara langsung."


Menjumpai baby M untuk pertama kalinya. Bayi kecil itu sedang tiduran di dalam ranjang kecil berpagar besi. "Morgan, apakah bayi ini benar telah aku lahirkan? Kenapa dia terlihat menggemaskan?" Megan seperti hendak menyentuh pipi kecil itu tapi seakan ada yang menahan tangannya.



Tadi menangis, sekarang tertidur. Itulah bayi dengan dunianya.


Morgan mengambil bayi itu untuk diserahkan pada istrinya. "Duduklah disana."


Ponselnya yang berdering membuat Morgan permisi untuk menyingkir keluar. Biarlah baby M menikmati waktu banyak bersama ibunya.


"O.... sayang kecil bunda ini... baby M, ini bunda Megan sayang... baby M ingat bunda, kan?"


Mendekap bayi kecilnya, Megan kembali berlinang air mata.

__ADS_1


Kenapa bisa aku sangat kejam terhadapmu? Bagaimana mungkin aku setega itu ingin melenyapkan bayi seimut ini? Sayang, bunda berjanji akan menerimamu dengan sepenuh hati.


Menatapnya lebih lama, membawa ketenangan yang baru bagi jiwa dan raga.


.


David keluar dari mobil yang mengantarnya, bersamaan pula dengan munculnya Rana bersama seorang teman pria.


"Hai David,"


"Ya ..."


"Aku juga mau jenguk adik baru kita."


David melirik dan memberi senyum kilat, mengangguk. Mereka pergi bersama.


Rana mengetuk pintu ruangan baby M lalu membuka pintu.


"Selamat sore, Tante ..." sapa Rana, mewakili ketiganya.


"Rana, kamu datang dengan siapa ini?"


"Oh, hai tante, saya Adrian." ramah pula remaja itu menyapa. Wajahnya cukup memiliki karisma yang khas.


"Oh, pacarnya Rana, ya?" pertanyaan Megan ini diangguki oleh Adrian, sementara Rana terlihat datar saja.


David sudah berdiri di sebelah ibunya. Keningnya auto mengerut kala bertemu dengan sosok kecil dalam pelukan ibunya ini. Matanya yang berkedip hebat menunjukkan bahwa ia tengah menajamkan penglihatannya.


"Tante, ini Rana bawa hadiah buat baby M kita." gadis itu serahkan hadiahnya yang berupa sebuah jaket kecil berwarna peach lembut.


"Waa, terima kasih, Rana," Megan menerima itu dengan senang hati.


Tidak lama berbincang, Rana pamit untuk pulang. Saat baru saja menyentuh gangang pintu, seseorabg membukanya dari luar.


Erick Erlangga. Dia datang tepat saat Rana akan pergi. Dalam waktu tiga detik mereka berdua saling beradu pandang.

__ADS_1


"Ayo pergi Adrian," Rana bersama pacarnya pergi.


Lagi - lagi Erick harus merasakan dasar hatinya terganggu.


"Baby M, itu abang Erick datang..." suara ibunya membuat Erick tersadar dari pikiran yang mengganggunya.


Erick mendekat. Terlihat bunda sudah sangat akrab dengan baby M. David pun terlihat betah menatap baby M yang berada di dalam pembaringan kecilnya. Erick bingung harus bagaimana bersikap.


Ragu-ragu matanya melirik bayi itu.


Apa? Baby girl?


Erick terkejut ketika tak sengaja tulisan pada papan keterangan terbaca olehnya. Dengan spontan ia mendekat, menatap lekat bayi mungil yang dikabarkan sebagai adiknya itu. Benar sekali, dominasi warna lembut cukup menjelaskan bahwa adiknya ini seorang bayi perempuan.


Sama dengan David yang belum mengatakan apapun, Erick seolah terbius dalam pesona baby M yang begitu mengesankan. Terlupakan sudah perasaan tentang Rana yang baru saja mengganggunya.


"Bunda, bayi ini, lupakan tentang membuangnya ke panti asuhan." ujar David, masih betah memandangi adik kecilnya itu.


"Bunda, bayi ini terlihat seperti beruang kecil. Sangat lucu." tanpa sadar Erick berkomentar. Perasaannya begitu tenang dan bahagia melihat betapa cantik dan imutnya baby M.


Megan melihat bahwa pesona baby M berhasil membuat kedua abangnya jatuh hati.


"Apa kalian yakin dengan ucapan kalian? Bunda berpikir besok akan mengirimnya ke dinas sosial." tentu saja Megan hanya ingin menikmati reaksi dua putranya ini, ingin melihat sejauh mana keduanya menginginkan baby M.


"Jangan, Bunda!" kompak keduanya melarang.


Erick menarik napas panjang lalu mengatakan,


"Karena dia sangat imut dan seorang adik perempuan, maka ... masih bisa dibicarakan lagi baik-baik."


.


.


Semangat besti... Merdeka!

__ADS_1


__ADS_2