Hot Duda Dan Perawan Tua

Hot Duda Dan Perawan Tua
Buka Hati Untuknya


__ADS_3

Morgan merasa legah ketika ketegangan tidak lagi terasa. raut wajah nenek pun sudah berubah tenang. Ia mengangguk ke arah Morgan, seperti mengisyaratkan bahwa semua sudah baik-baik saja.


"Mau sampai kapan kalaian berdua seperti ini?" Morgan mendekati istrinya yang masih betah saling berpelukan dengan putra bungsu mereka. Ia rangkul dua orang itu bersama dalam satu pelukannya.


Melihat pemandangan itu, Erick mengusap wajah seraya menarik dan  membuang napas panjang.


Kenapa lagi ayah ikut menempel? Mereka tidak menganggap keberadaanku?


Erick merasa panik memandang adegan itu dari lantai bawah. Tiga orang yang terlihat saling menyayangi, saling memberi dan menerima. Itulah yang ia simpulkan. Apa mereka lupa kalau aku ini masih hidup?  Remaja itu bergerak menuju sofa, merasa lelah berderi sejak tadi.


Nada dering ponsel tiba-tiba membuat fokus semua orang teralihkan.


Apa yang sedang kulakukan? David keluar dari dekapan ibunya, membuat rangkulan sang ayah ikut terlepas.


Si buyut meraba isi tas kecilnya dan meraih ponselnya disana lalu menjawab panggilan.


"Ehmmm. Sudah waktunya aku minum obat rupanya. Aku pergi dulu." nenek berbalik untuk menuruni tangga. Perasaannya sudah kembali tenang meskipun di dasar hatinya masih ada kesedihan yang terasa. Sedih akan sikap cucunya sendiri yang tidak ingin menerima keadaan.


Megan berlari saat nenek sudah tiba di lantai bawah, menuruni tangga menyusul wanita tua itu. "Nenek, maafkan aku." dipeluknya sang nenek dari belakang. Aku minta maaf Nenek. Maaf..."


Nenek menangis terharu lalu berbalik. Diusapnya air mata Megan yang juga terjatuh begitu saja. "Jangan mengulangi rencana jahatmu itu lagi, maka nenek akan memaafkanmu." Megan mengangguk. Setelah melepas pelukan, Nenek berpamitan kemudian berpesan untuk menjaga kandungan itu dengan baik. "Jangan sekali-sekali berpikir untuk membuangnya lagi. Dia tidak salah apa-apa. Biarkan dia lahir dan melihat dunia. Kalian harus belajar menerima dia." Tidak satupun diantara anggota keluarga kecil itu yang menyahuti perkataan nenek, semua sibuk dengan pikiran masing-masing hingga sang nenek pergi, membiarkan mereka merenungi perkataannya.


Kepergian sang nenek membuat suasana berubah canggung. Hanya ada Morgan, Megan, dan kedua remaja itu. Suara helikopter juga telah menghilang.


Keempatnya duduk di ruang tengah, di atas sofa yang berbentuk lingkaran besar. Masing- masing dari mereka duduk terpencar, cukup berjarak.


"Ayah, bagaimana kau bisa lakukan ini padaku?" Erick bersuara dengan wajah tertunduk, putus asa.


"Jadi kau masih permasalahkan ini? Kau tidak mendengarkan pesan buyutmu?" Morgan balik bertanya. Sesungguhnya hal ini juga membingungkan baginya.


Erick mengusap wajah, kasar. "Jadi aku harus menerimanya? Aku sudah bilang dari awal bahwa aku tidak menginginkan adik, kalian juga menyepakati hal itu. Lalu kenapa bisa-" ucapan Erick menggantung, rasanya ia harus menjeda kalimatnya. "Aku sudah sebesar ini dan memiliki adik bayi rasanya -"


"Sudahlah, kak! Nenek sudah bilang biarkan dia lahir. Dia tidak harus menjadi adik kita." sela David. Apa yang dikatakannya ini menuai tatapan serius dari Megan dan Morgan.


"Kalau bukan adik kita memangnya apa namanya?"


"Ada dinas sosial dan panti asuhan. Mereka yang akan mengurusnya nanti." Entengnya David mengatakan itu tanpa perasaan.

__ADS_1


"Baiklah! Aku hanya bisa setuju dengan pendapatmu. Biarkan dia lahir dan melihat dunia. Setelah itu kita pikirkan dimana dia harus tinggal, asalkan tidak serumah denganku." mendengar penuturan Erick, Morgan lalu angkat bicara.


"Kita masih punya waktu untuk menata hati dan pikiran sebelum dia lahir. Tapi ... ayah minta kalian berdua harus belajar menyenangkan perasaan bunda, karena orang hamil tidak boleh stress."


"kalau itu untuk bunda, aku bersedia. Bunda, tadi aku sudah terlanjur berjanji menganggapmu sebagai ibuku, jadi ,,, aku akan berusaha menyenangkan hatimu mulai besok."


"Besok? Apa maksudmu dengan besok?" Megan menyahut dengan tatapan bingung.


Suasana canggung berubah sedikit menenangkan.


"Ya karna, karena ... tadi aku memohon karena kepepet. Sebenarnya aku tidak berencana mengakuinya."


"tunggu, kau ... pengakuanmu tadi tidak sungguh -sungguh?"


"Bukan begitu, Bunda. Aku sungguh-sungguh. Bahkan tidak hanya aku. Kakak juga mengakui kau adalah ibunya. Jadi aku sedang meniru kakak"


Mendengar dirinya disangkut paut, Erick menoleh tajam. "Kenapa bawa-bawa aku?"


"Yah? Bu-bukankah kau mengatakan itu pada mantan bundamu semalam? Kau bilang kalau bunda Megan satu-satunya ib-" beum sempat ia selesaikan kalimatnya, David terdiam ketika merasakan sakit tiba-tiba di perutnya. Erick memukul dengan tongkat penyanggahnya.


Sssssshhhhh... "Kak, kau sadar apa yang kau lakukan barusan?" Erick tak bergeming. Megan dan Morgan mulai terganggu. Kenapa lagi dua anak ini?


"Ayah, sepertinya tulang rusukku patah. Ayah harus bertindak."


"Patah apanya? Aku hanya memukul perutmu!" perdebatan terjadi begitu saja, membuat iklim dirumah ini berubah-ubah.


"Bunda, Ayah, rumah siapa ini? Ayo kita pulang,aku ingin berbaring. Asssssshhhh.. aku merasa kesakitan."


"Ayo nak, bunda akan mengantarmu ke kamar. Ini rumah kita, sayang. Tidak perlu sungkan." Megan beranjak dari tempat duduknya lalu menuntun David berdiri.


Saat melewati Erick, David sangat ingin membalas pukulan tadi dengan tendangan tapi ia ragu harus menendang bagian mana. Seharusnya sasaran empuk adalah kaki abangnya itu, tapi ... hah, sudahlah, Lebih baik aku mengatakan sesuatu yang menyakitkan bagi telinganya.


"Serahkan saja kakak ke mantan ibu kandungnya. Aku tidak  butuh seorang kakak pemarah seperti Erick Erlangga."


Morgan dan Erick sama-sama menatap kepergian Megan bersama David yang kini menaiki tangga.


Ditinggalkan empat mata saja bersama putra sulungnya, Morgan tidak melewatkan moment begitu saja. Ini waktunya berbicara dari hati ke hati.

__ADS_1


"Erick, jangan disimpan ke hati ucapan adikmu barusan. Tapi .. apapun alasannya, jangan memukul adikmu lagi seperti tadi. Dia kesakitan."


"Jangan basa-basi. Apa yang ingin ayah katakan? Katakan saja, aku akan dengar."


Morgan beranjak sambil mengangguk-angguk, duduk disamping Erick. "Ayah minta maaf karena hal yang tak kau inginkan ini terjadi. Ayah tidak sengaja menghamili bundamu."


"hah! benarkah? Bukankah ayah diam -diam senang mendapatkan anak dari istri ayah itu? Aku curiga ayah memang ingin menyingkirkan anak-anak ayah setelah punya anak yang baru. Ayah kan yang mengizinkan wanita itu datang ke rumah menemui kami saat ayah tidak ada? Kenapa? Apa ayah ingin wanita itu mengambil kami?"


"Ayah tidak mengerti kenapa bisa kau menuduh ayah seperti ini. Satu yang harus kau pahami, ayah tidak akan membiarkan Yana mengambil kalian. Dia memang ibu kandung kalian, tapi dia hanya ibu yang melahirkan."


Di kamar. David benar-benar berbaring terlentang. Bukan bercanda, ia serius merasakan sakit di bekas pukulan abangnya.


"Istirahatlah, sayang, bunda akan siapkan kamar untuk kakakmu."


David mengangguk dengan mata tertutup. "Bunda jaga kesehatan ya, jangan terlalu lelah. Aku katakan ini demi Bunda, bukan untuk adik itu."


.


"Istirahat saja  dullu di kamar ini, Kita akan pulang besok." Erick hanya bisa menurut perkataan ayahnya, karena tidak mungkin baginya untuk pulang seorang diri. meski kamar ini asing baginya, tapi terlihat sangat myaman untuk dihuni.


"Bunda sama ayah akan mengurus makan malam untuk kita. Kau istirahat saja ya, nak. Jangan pikirkan masalah apapun lagi." Megan membawa pergi Morgan dari kamar itu, membiarkan Erick sendirian dengan tenang.


"Apa katamu? Menyiapkan makan malam? Semua orang tahu kau tidak pandai memasak. Kau pikir anak itu percaya?" Morgan menciptakan suasana setelah berdua saja dengan istrinya.


"Ayo cari tempat nyaman. Urusan kita belum selesai. Soal makanan, aku sudah memesannya." jawab Megan dengan enteng. Ia tarik lengan suaminya itu masuk ke kamar. Megan ingin mengatakan apapun dengan leluasa kepada suaminya.


"Urusan apa lagi? Bukankah semua sudah beres? Kita hanya perlu menjalani hari-hari sambil menunggu lahirnya anak itu."


"Semua ini adalah salahmu. Sprite yang sudah kuhabiskan, tidak bekerja sama sekali. Kau ini dokter atau apa? Harusnya kau tahu banyak tentang cara-cara alami agar janin tidak berkembang. Morgan Erlangga, Aku tidak habis pikir kenapa kau bisa jadi seorang dokter kebanggaan rumah sakit itu. Hal sekecil ini saja kau tidak bisa mengatasinya."


"Dari pada kau mengomel, bagaimana kalau begini saja?" Morgan dengan santai meraih tubuh istrinya itu,  "Pelan - pelan sayang, buka hati untuknya pelan-pelan saja. Aku janji, dia akan menjadi anak bungsu kita." Morgan mengusap perut yang masih rata itu dengan hati-hati.


"Pak Dokter, jangan sentuh dia. Peluk aku saja."


.


.

__ADS_1


bersambung guysss....


__ADS_2