Hot Duda Dan Perawan Tua

Hot Duda Dan Perawan Tua
Pregnant, Ini gawat ayah!


__ADS_3

Guys! dalam beberapa hari othor punya kesibukan mengikuti Workshop Kurikulum baru, jadi maaf jika ... ehm.. makasih masih menunggu! Tetap semangat, akan diusahakan up lg tar sore. Akan diusahakan ya bestieee! 🥰


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Morgan benar - benar pulang saat pagi sudah tiba, bertemu dua putranya sedang sarapan, berdua saja tanpa ibu mereka. Dari raut wajah keduanya, seperti ada yang sudah terjadi. Tak ada sapaan untuknya.


"Apa bunda belum bangun?" Morgan meraih piring di atas meja untuk ikut sarapan bersama.


Kedua anak itu menggeleng tanpa suara.


"Ayah, seseorang yang mengaku sebagai ibu kandung kami. mendatangi rumah kita tadi malam."


Baru saja Morgan menyelesaikan sarapannya kemudian berdiri, kakinya batal untuk bergerak. Jadi inilah yang membat raut wajah anak-anaknya berbeda. "Benarkah yang dikatakan adikmu, Erick?" yang ditanya sepertinya tidak berminat dengan pembahasan ini.


"Ya... tapi itu tidak penting karena dia bukan lagi ibuku. Aku merasa tidak pernah mengenalnya." masih terasa sisa-sisa kemarahan Erick dari semalam. Ia tidak pernah berharap akan bertemu lagi dengan wanita itu. Menyelesaikan sarapan, Erick lalu meraih tas dan dan kedua tongkat penyanggahnya, siap untuk berangkat sekolah.


Jelas sekali terlihat bahwa Erick sedang menyimpan kemarahan pada ibunya itu.


Bib,


Morgan membaca pesan singkat yang dikirim dari kontak bernama 'Wanita Kesayangan' yang entah berapa kali sudah ia ubah nama istrinya di daftar kontak.


[Aku ada pekerjaan di luar dalam beberapa hari] hanya kalimat itu, seperti sebuah pemberitahuan.


Morgan setengah mati mengingat, adakah masalah antara dirinya dengan Megan? Kenapa ia merasa istrinya ini sedang menghindar? Dan dari sepotong kalimat ini, benar-benar tidak seperti biasanya.


"Ayah, aku ikut dengan kalian karena bunda tidak bisa mengantarku. Ada banyak sekali yang harus dia kerjakan."


David cepat-cepat berlari ke kamar untuk menjemput tas sekolahnya.


.


.


[Riko, apa kau menyanggupi permintaanku kali ini?]


[Megan, tapi ... rasanya aku tidak sanggup memikirkan kau melakukan kejahatan ini. Jelas ini adalah pembunuhan berencana.]


[Pembunuhan kepalamu! Dia masih janin berbentuk bulat seperti telur. Kau bayangkan saja seperti membuang telur ayam]


[Megan! Ayolah buka matamu. Dia bakal anakmu! jangan membuangnya!]

__ADS_1


[Selagi dia tidak berwujud seperti manusia, maka tidak bisa dibilang manusia. Aku tunggu kabar darimu, bawa orang itu segera ke alamat yang sudah aku kirim, titik!] Megan yang keras kepala, tidak mau mendengar nasihat Riko. Semalaman penuh Megan telah mencari informasi tentang seseorang yang ahli dalam bidang menggugurkan janin. Setelah menemukan informasi yang tepat, Ia harus mati - matian lagi meminta bantuan Riko.Ingin meminta Morgan bekerja sama untuk hal ini, tapi Megan masih enggan untuk bertemu pria itu. Ia kesal telah menghabiskan empat botol sprite waktu atas saran Morgan dan rupanya tidak berguna sama sekali, ia tetap hamil dan semua ini gara - gara Morgan. Pria itu yang membuat hasratnya menggebu-gebu hingga melupakan pil andalannya.


Megan kini duduk berhadapan dengan bingkai gambar kedua orang tuanya. Benar, dirinya pulang ke rumah lama dan akan melepaskan janin kecil itu di rumah ini. Apapun yang ia lakukan ini, kedua orang tuanya tidak akan melarang. Mereka hanya akan menuruti apapun keinginan putri satu - satunya.


"Mama ... Pa ... bersiaplah karena aku akan mengirimnya untuk bermain bersama kalian disana. Tapi ... dia belum berwujud seperti manusia. Mungkin dia akan tumbuh kelak, kuharap kalian berdua menerimanya. Keputusan ini sudah bulat. Aku, suamiku, anak-anakku, kami semua tidak bisa menerima kehadirannya. Dari pada dia lahir tanpa kasih sayang, lebih baik dia jangan melihat dunia." Megan kemudian berjalan ke lantai atas menuju kamar miliknya.


Membuka lemari pakaiannya dan mengambil sebuah kotak kayu dari sana. ia buka kotak itu. Disana terdapat banyak barang-barang unik termasuk selembar foto. Terlihat dua gadis cantik tersenyum bahagia dalam foto itu.


"Caty Shan... apa kabar?" baru mengeluarkan sepotong kalimat tanya sudah membuat Megan menangis.


Ya ... dua gadis cantik itu adalah Megan  bersama Cattysha, sahabatnya saat menempuh pendidikan di Miami. Keduanya menjalin kisah persahabatan yang luar biasa. Catty yang periang mampu mengubah Megan Berlian yang selalu murung, menikmati masa muda dengan bahagia dan penuh warna. Tapi ... kenyataan berkata lain setelah Catty memilih menikah lalu mengandung. Saat tiba waktu persalinan, Catty menghembus napas terakhir bersama putri cantiknya. Sungguh menyedihkan bagi Megan, lagi -lagi kehilangan orang yang disayanginya untuk selama - lamanya.


"Catty, apa kau sedang bermain dengan putrimu? Apa rasanya membahagiakan? Catt, ... aku belum tahu janinku ini laki - laki ataukah perempuan. Aku tidak menginginkannya. Apa ini kejahatan?" Megan terus menangis, mencurahkan isi hatinya kepada sang sahabat yang wujudnya pun tidak kelihatan.


.


.


Pulang dari sekolah, David tidak lagi minta di jemput siapapun, anak itu memanggil ojek untuk mengantarnya ke suatu tempat, yaitu galeri perhiasan milik istri dari ayahnya itu.


Ditanya tentang apa tujuannya ke tempat ini, David tidak bisa menjawab. Wajahnya yang setengah menunduk mengukir raut bingung disana. Benar, remaja ini pun tidak mengerti apa tujuannya mendatangi ibu sambungnya.


"Aku harus menjawab apa kalau istri ayah menanyakan tentang kedatanganku? David, apa yang membuatmu datang kemari?" David memukul-mukul kepalanya, menyalahkan pikirannya sendiri."haruskah aku bilang saja kebetulan lewat?'


Setelah mendengar laporan sang manejer tentang kedatangan David, Megan membuka laptop untuk terhubung dengan CCTV langsung di ruang kerjanya.


Anak itu terlihat duduk santai bermain ponsel. Megan tersenyum dari kejauhan. "Anak bungsuku" gumamnya.


Tidak! Apa dia datang untuk membicarakan soal pertemuannya dengan ibu kandungnya? Megan dibuat panik oleh pemikiranya sendiri, dengan reflek ia menutup laptopnya.


.


.


Morgan kembali menghubungi istrinya.Terpon terhubung tapi wanita itu tidak menjawab.


"Apa dia tidak merindukanku sama sekali?" Morgan dibuat terheran kenapa istri yang biasa selalu menggodanya saat ditelpon, kini mengabaikan panggilannya bahkan sampai puluhan kali.


.Ditengah gerutunya, panggilan telpon masuk dari David.


[Ya ... jemputkah?]

__ADS_1


[Ayah ... aku ... sedang di toileti.]


Morgan menahan napas, seakan tidakt terbiasa dengan putranya yang tidak punya skil dalam menjelaskan sesuatu. [Lalu apa hubungannya dengan ayah?]


[Aku ... menemukan sebuah benda, mirip alat pengukur suhu.]


Morgan kembali harus menahan napasnya.


[David, ayah sedang sibuk. Bicara langsung saja jangan dipotong - potong!]


[Sepertinya ini milik bunda. benda ini, memiliki keterangan Pregnant dan Not Pregnant. Ayah, sepertinya istrimu sedang mengandung. benda ini memiliki dua garis yang berarti Pregnant.]


[Ap - ap - apa? Bicara yang jelas, kau ada di mana?]


[Aku sedang berada di toilet bangunan yang menjual banyak perhiasan. Istri ayah tidak disini tapi aku temukan benda kecil ini i toilet pribadinya. Ini gawat ayah.]


Apa? hamil? Ah... tidak mungkin! Ini tidak mungkin.Kenapa aku harus mempercayai kepolosan David? Bisa saja itu ...


Morgan memang terkejut, tapi sebisa mungkin ia tenangkan hati dan pikirannya.


Bib, sebuah pesan gambar masuk ke ponselnya. David mengirimkan foto bukti benda itu ada ditangannya.


Dengan cepat Morgan menghubungi seseorang.


[Iya Morgan?]


[Nek, apa istriku ada ditempatmu?]


[Tidak ada. Dia ... berada di rumah masa kecilnya. Morgan, bisa kau kesana dan seret wanita jahat itu ke hadapanku sekarang juga? Sebelum dia membunuh janin tak berdosa itu, aku yang akan menghajar dia lebih dulu.]


Dari nadanya, Nenek terdengar sedang menahan amarah.


Membunuh janin? Mogan tak percaya ini. Ia pun bergegas pergi.


.


.


Bersambunggggggg!


Yuk tetap semangat!

__ADS_1


__ADS_2