Hot Duda Dan Perawan Tua

Hot Duda Dan Perawan Tua
Tiada, baru terasa.


__ADS_3

Terserah apapun pendapat kalian tentangku. Kalian berdua adalah bagian dari hidupku, sebelum dan setelah ada baby M kesayangan kita. Dari awal aku sudah mengatakannya, bahwa aku, adalah ibu kalian. Bagaimana pun kalian menganggapnya, kenyataan itu akan tetap sama, anak-anakku.


Aku juga bukan orang yang pandai mengutarakan kata cinta. Tapi aku, akan selalu menunjukkan ketulusan dan mencintai kalian dengan caraku.


Megan kembali ke kamarnya. Baby M masih terlelap. Ia menatap dalam, tubuh kecil itu. Megan menyadari satu hal, wajah Mervi sangat mirip dengan kakak sulungnya, Erick. Namun, dari segi gaya tidur bayi ini lebih persis dengan abang David, berbaring tengkurap, kaki mengangkang lebar dengan mulut sedikit terbuka.


"Hei, anaknya pak Dokter, apa kau tahu kau lebih banyak mirip dengan ayahmu? baby M ..."


"Besok kita akan pulang dan berpisah dari abang E. Dia pasti akan sangat merindukanmu."


Beberapa kalimat Megan katakan kepada baby M yang sedang tidur. Sedikit ada perasaan bersalah dihatinya saat memikirkan si sulung akan ia tinggalkan di negara ini.


Apa aku ini sangat kejam? Dia bahkan tidak lahir dariku tapi aku seperti sedang memaksanya seperti milikku sendiri.


Tidak, aku sudah benar. Kelak dialah pondasi yang kuat untuk membentengi adik-adiknya. Dia memang digariskan untuk mengambil tanggung jawab ini. Erick Erlangga, bunda akan mengandalkanmu.


Tidak perlu peduli apa kata orang, aku, Megan Berlian, sedang mempersiapkan masa depan yang jelas untuk anak-anakku.


.


.


Bangun paginya, Megan dibuat panik dengan ketidakadaan baby M di kamar. Ia berjalan cepat keluar dari kamar itu.


Legah ia rasakan karena ternyata bayinya itu sedang diajak bermain cilukba oleh abang sulungnya.


Megan membuka kamera ponsel dan memotret keduanya dari tempatnya berdiri, sebagai kenangan yang bisa sesekali dilihat ketika nanti rindu dengan Erick.


"Good morning Bunda..." seseorang menyapanya, siapa lagi kalau bukan David yang baru keluar dari kamar, masih dengan wajah bantal namun tetap saja menawan.


"Morning sayang, apa Kau sudah berkemas?" David mengangguk sebagai jawaban.


Erick menyadari keberadaan bunda dan adiknya. Segera ia pindahkan adik bayinya itu ke gendongan sang bunda.


Keluarga kecil itu kemudian menikmati sarapan yang dihidangkan oleh Erick, roti bakar isi coklat.


Sarapan usai dan di sambung dengan beberapa nasihat dari bunda yang entah sudah beberapa kali diulang-ulang.


Jangan lupa jaga kesehatan, makan dengan teratur dan belajar dengan tekun. Ketiga hal itu terus diperdengarkan oleh Megan kepada anak sulungnya.


.


Bunda dan kedua adiknya telah siap. Erick mulai merasakan sedikit getaran di dadanya. Sedih, itulah yang ia rasakan.


"Bunda, ingatlah semua pesanku. Hiduplah dengan bahagia bersama ayah. Ayah mungkin tidak sehebat bunda, tapi dimataku, dia adalah pria yang keren." Erick tak segan memeluk ibu sambungnya itu, meski pelukan adalah hal yang jarang ia lakukan.


Tidak bisa dibohongi, ada rasa khawatir dihati Erick, ketakutan tersendiri akan peristiwa perselingkuhan berakhir perceraian yang pernah ayahnya alami. Erick tidak ingin hal itu kembali terjadi. "I love you Bunda,"

__ADS_1


"I love you too and always love you, sayang."


"Kak, jangan menciptakan suasana haru. Kau membuat bunda sedih." David mengingatkan dengan nada setengah malas. Kakaknya ini selalu mengumbar sikap manis yang membosankan.


"Iya sayang, bunda akan selalu bahagia dengan ayah. Tidak akan ada yang berubah. Cinta dalam keluarga kita akan terus bertambah setiap hari. Bunda berjanji."


.


Kepergian bunda dan adik-adiknya membuat Erick merasakan kesepian.


Ponsel berdering.


Ayah memanggil. Seolah tahu apa yang sedang dirasakan oleh putra sulungnya.


[Ya ayah...]


[Kau sendirian sekarang?] ayahnya sungguh tidak pandai berbasa-basi.


[Ya... Mereka sudah pergi.]


[Rick, sekarang kau memang merasa sedih. Itu wajar karena baru kali ini kau berjauhan dari keluarga.]


Erick diam mendengarkan.


[Jangan merasa diasingkan, dibuang ataupun tertekan. Ayah mendukung bunda mengirimmu ke sana karena ayah mempercayai bunda. Kau juga perlu mempercayai bunda dan memganggap ini sebagai cara dia menyayangimu. Apa kau paham, Rick?]


Bunyi bell dari arah pintu membawa Erick beranjak dan melupakan ayahnya. Mungkin saja yang datang adalah mereka yang baru saja ia lepas pergi.


Tanpa memastikan lewat layar monitor, Erick membuka pintu.


Seorang remaja asing berdiri tepat di hadapannya. Pria muda dengan tatapan sendu dan berwajah datar, sedatar wajah David.


"Hai, aku Kenon, anaknya pak Leo." singkat remaja asing itu memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris.


Erick memperkenalkan dirinya pula dan hanya di jawab 'aku sudah tahu' oleh putra pak Leo itu, dengan sikap dinginnya, ia semakin terlihat seperti David.


"Ayo ke tempatku. Kau ada kelas dengan ayahku."


Luar biasa, baru saja orang-orang kesayangannya pergi, pak Leo sudah memulai kelas, Erick membatin.


Tempat tinggal pak Leo dan putranya bersebelahan dengan Erick dan ini melegakan.


"Aku memanggilmu kemari untuk sekedar perkenalan." pak Leo kembali perkenalkan Kenon sebagai putranya, ia pun menjelaskan bahwa mereka hanya berdua pasca meninggalnya sang istri, ibunya Kenon.


Erick hanya diam sambil mencermati seluruh isi ruangan.


"Kenon akan berteman denganmu. Dia memang sedikit membosankan, tapi dia tidak jahat." Kenon yang dipromosikan oleh ayahnya hanya duduk dengan tegap tanpa kata.

__ADS_1


Sepertinya orang ini membosankan.


"Ibumu juga mensponsori Kenon untuk belajar di kampus yang sama denganmu. Kelak, dia akan menjadi sepertiku, mengabdi di perusahaan keluargamu." pak Leo menjelaskan banyak hal dengan tegas dan lugas.


Erick mengangguk. Kepribadian keduanya yang terlihat pendiam dan hanya membicarakan yang perlu-perlu saja, sangat betentangan dengan kepribadian Erick yang ramah dan ceria. Tapi tak apa, tidak sulit menyikapi kepribadian ini, Erick hanya perlu banyak bicara. Begitulah yang ia pikirkan.


.


.


Megan tiba di bandara internasional Soekarno Hatta bersama kedua bintutnya itu tentunya. Baru saja keluar dari bandara, Megan harus mendapat kabar dari kak Minda, bahwa sang nenek meminta semua cucu cicitnya berkumpul, dan yang mengagetkannya lagi, tempatnya adalah di rumah sakit, dimana wanita tua itu sedang dirawat saat ini.


"Supir akan mengantar Kau dan baby M untuk pulang ke rumah. David, jaga adikmu, ya, bunda harus singgah ke rumah sakit dulu bertemu buyut."


Supir melaju membawa kedua anaknya sedangkan Megan memanggil taxi untuk melaju ke rumah sakit.


Tidak ada langkah tegap dengan dada membusung seperti biasa. Keempat cucu sang nenek seolah sedang diterjang ombak yang kuat ketika mendapatkan kabar ini. Langkah kaki mereka terasa kelu tak berdaya.


Masuk ke ruang intensif dimana sang nenek sedang terbaring kaku, mereka tidak lagi saling bertanya ada apa.


"Neeek, kami datang..." Megan memulai, sementara ketiga kakaknya, termasuk kak Gea jang jauh dari Panama.


Nenek membuka matanya, sangat perlahan. Dipandanginya cucu perempuannya satu per satu.


Tanpa mengatakan apapun, sang nenek membuat tangan mereka menyatu. Situasi sungguh memilukan. Seolah nenek sedang mengingatkan bahwa keempat cucunya ini adalah miliknya yang berharga dan ia ingin hubungan mereka kembali seperti dulu, kala mereka masih anak-anak.


"Jangan bertengkar lagi ... Jangan saling menyakiti lagi." terdengar sudah suara yang amat pelan.


"Megan, Kau ... Berhentilah egois dan menghalalkan segala cara, dengan uang."


Sebagai cucu paling muda, nenek memilih lebih banyak menasihati Megan.


Air mata tiap orang mengalir turun begitu saja. Mulai terdengar isak tangis dari keempat cucu sang nenek.


Entah siapa yang memulai, keempat wanita keras kepala itu saling berpeluka dalam bentuk lingkaran. Mereka memang sama-sama bersedih untuk sang nenek, tapi siapa yang tahu isi hati orang.


.


Nenek telah pergi, menempati rumah barunya. Selesai sudah pertandingannya di dunia ini.


Suasana duka masih menyelimuti hati tiap orang. Tidak ada diantara mereka yang beranjak pergi dari kediaman megah sang nenek. Setiap cucu cicitnya mengambil waktu berdiam diri tanpa banyak kata.


Sewaktu dia hidup, mereka jarang mendatangi kediaman ini, bahkan menginap sekali pun tidak pernah. Giliran orangnya telah tiada, baru kerinduan itu terasa. Begitulah manusia dengan sifat egoisnya.


.


.

__ADS_1


Abiss....


__ADS_2