
...DEMI KECINTAAN KALIAN PADA KARYA INI, OTHOR PERINTAHKAN JARI JEMARI OTHOR UNTUK MEMBUAT BAB INI....
Tapi dikit gpp ya...😉
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
"Kak, kau dengar tadi? Ayah tidak lagi menyebut wanita itu dengan namanya, Nona Megan."
"Iya. Aku tidak tuli. Ayah memanggil dia 'sayang.' dan itu terdengar sangat natural."
Dua remaja itu menilai perubahan dalam hubungan ayah mereka yang mengalami kemajuan yang cukup signifikan, menurut pemantauan keduanya.
"Aku rasa kita sudah tertinggal jauh, kak. Mereka bahkan saling membalas pelukan. Mungkin ayah sudah jatuh cinta."
"Jangankan berpelukan. Saat tidur bersama, mereka pasti sudah melakukan yang lebih dari itu. Tapi tak apa, asalkan jangan membuat anak. Aku tidak sudi punya adik diusia ini."
Kakak beradik itu saling bersahutan mengatakan berbagai isi kepalanya.
"Berarti ayah sudah tidak tertolong. Aku yakin, ayah sudah seratus persen melupakan ibumu, kak."
"Ibuku? Kita sama -sama dilahirkan olehnya. mulutmu sembarangan." Wajah Erick berubah marah.
"Aku tidak ingat siapa dia. Jadi aku tidak perlu menganggapnya ibuku." Memang benar, David tidak mengingat ibu kandungnya.
"Bagus kalau kau tidak mengingatnya. Jadi pergilah ke kamarmu, aku mau istirahat." menyinggung soal ibu kandung mereka, ini membuat jiwa sensitif Erick muncul ke permukaan. Ia kesal ketika mengenang wanita yang telah melahirkannya itu.
.
.
Suasana hening di kamar pasutri yang sedang kasmaran. Masih dengan posisi memeluk suaminya dari belakang, Megan bertanya bagaimana Morgan bisa menemukan Tino sebagai orang yang mengamankan bukti kesalahan Lisa beberapa hari lalu.
__ADS_1
"Aku hanya tidak sengaja mendapatkan Tino mengendap keluar dari ruang rawat dua orang itu. Karena curiga, aku menelpon Riko untuk mengurus Tino. Hanya itu yang kulakukan setelah itu Riko andalanmu itu yang membereskan semuanya. Itu sebabnya kau bisa keluar secepat ini."
"Lalu dari mana Pak Dokter tahu aku dan Tino ..."
"Riko memberitahuku."
"Ah dasar si Riko tumpis."
"Tapi kenapa dia menikahi Lisa bukankah menyukaimu?"
"Kak Lisa menikungku." Jawab Megan dengan enteng.
"Tunggu. Apa kau ini punya banyak mantan kekasih?"
Pertanyaan asal Morgan membuat Megan tertawa.
"Mereka semua tidak penting sekarang. Didepanku hanya ada dirimu saja."
"Lalu kau mau apa ini?" Morgan merasakan tangan Megan meraba tubuhnya dengan liar.
"Hmmm? Aku hanya ingin membangunkan harimau kecilku yang kau sembunyikan." Tak tahan dengan jawaban nakal sang istri yang dibarengi dengan jemari lentiknya yang kini berkeliaran menggodanya, Morgan berbalik. Megan tersenyum seraya menggigit bibir.
"Apa katamu? Rudalku kau sebut Harimau kecil?"
Dengan satu gerakan Megan mendorong tubuh suaminya hingga terduduk diatas kasur. "Dia memang Harimau kecil yang sering memangsaku dengan buas."
Megan membuka pakaiannya seperti orang kepanasan lalu naik keatas suaminya. "Bersiaplah, Pak Dokter, aku akan menggigitnya."
Hasrat rindu yang sudah terpendam berhari - hari akhirnya tersalurkan juga. Morgan tidak diam saja terima akan nasib dan membiarkan istrinya bekerja sendirian. Megan lagi - lagi akan terbuai jika Morgan sudah bergerak.
"Sssuuuut! Pelankan suaramu." Morgan sadar jika kamar tempatnya bercu*mbu saat ini tidak memiliki kedap suara. Bisa saja desa*han istrinya terdengar kemana - mana dan itu sangat memalukan.
__ADS_1
"Hmmmmmp" Megan membekap mulutnya sendiri agar suaranya tidak keluar. Ini sungguh penyiksaan baginya. Jika boleh, dia ingin mengeluarkan suara sepuasnya karena itu adalah suatu kenikmatan tersendiri bagi pasangan yang sedang bergulat seperti ini.
"Sayang aku akan keluar."
"Tunggu! Dok, keluarkan diluar."
Morgan terdiam lemah ketika cairan kental dimuntahkannya keluar.
"Kau tidak meminum pilmu?" tanyaya kemudian dengan sisa - sisa napas lelahnya
Megan mengangguk cepat.
"Ah sial. Sebagian sudah terlanjur keluar di dalam." umpat Morgan.
Mendengar itu Megan seketika panik. Ia segera bangun dan berlari ke kamar mandi, melompat-lompat berharap cairan bibit itu keluar segera.
"Dokter! Bagaimana ini?" Sebegitu takutnya Megan, ia terdengar akan menangis.
Morgan seharusnya sudah terkapar lemah, tapi ia paksakan dirinya untuk bangkit dan mengenakan celana kolornya.
"Berhenti melompat. Aku akan mencarikan sesuatu untuk mengatasi ini." Morgan keluar dari kamar.
"David! David!" Memanggil nama anaknya sambil mengetuk, yakin bahwa remaja itu ada di kamar.
"Ya Ayah?" wajah putranya itu terlihat masih mengantuk.
"Ini sudah sore jadi berhentilah tidur. Tolong belikan minuman sprite di warung sebelah."
.
.
__ADS_1
Oke guys, esok lagi ya...