Hot Duda Dan Perawan Tua

Hot Duda Dan Perawan Tua
Setelah 10 Tahun Pergi


__ADS_3

Bahagia rasanya ketika pembaca antusias untuk berkomentar. Ini aku up lagi demi kalaian, ya kalian...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Uhuk!" Morgan tiba - tiba tersedak air ludahnya sendiri saat baru saja memasuki ruang kerjanya pasca keluar dari ruang bedah.


"Kenapa ini? Apa ada yang sedang memakiku?" Morgan terbatuk beberapa kali.


Drrrrt drrrt drrrt.


Panggilan dari nomor yang dirahasiakan. Morgan lantas menjawabnya. [Ya Halo.]


[Mor...gan, ini ... aku...]


Setelah sepuluh tahun berlalu pemilik suara ini masih diingat dengan sangat jelas oleh Morgan. Berani - beraninya wanita ini menelponnya. Morgan ingin marah? Tentu saja. Tapi munculnya mantan istrinya ini sudah tidak penting lagi untuk perasaannya, kecuali mengenai hubungan wanita ini dengan kedua putranya.


[Oh, kau rupanya...]


[Morgan, apa kaba-]


[Jangan berbasa - basi. Katakan apa maksudmu menelponku setelah menghilang selama bertahum - tahun!]


[Bisa kita bertemu? Aku ...-]


[Aku tidak ada waktu untuk bertemu dengan orang yang sudah menjadi masa lalu.]


[Morgan, aku sangat merindukan anak-anak.]


[Hah! Aku tidak percaya kau bisa menahan rindumu terhadap mereka selama lebih dari sepuluh tahun. Kenapa? Apa hidupmu sudah kurang bahagia sehingga teringat keluarga lamamu?]


[Morgan, maaaf...]


Sambungan panggilan terputus setelah Morgan mengakhirinya. Tak ingin mendengar suara mantan yang terdengar ingin menangis. Dia pasti bingung bagaimana cara bertemu anak-anak. Salah siapa pergi diam - diam ? David bahkan tidak mengenalmu, apa lagi memgingat wajahmu.


Seperti kata Megan, orang yang pergi meninggalkan, akan kembali dengan berbagai alasan. Meski mantan istrinya itu tidak mungkin ingin kembali, Memikirkan tentang kemunculannya ini cukup menyita pikiran dan perasaan Morgan .


Megan, aku harus bertemu dengannya. Hanya jika bertemu dengannya suasana hatiku akan langsung membaik.


Morgan bergerak keluar setelah menggantung jas putihnya.


Sementara dari tempatnya, Maryana, kini hanya bisa menangis pilu karena rindu yang menyiksa untuk kedua putranya. Dan Yana tidak bisa membohongi perasaannya bahwa dia sungguh merasa bersalah yang begitu dalam telah meninggalkan ketiga orang yang dulu begitu menyayanginya.


Tinggal di luar negeri selama sepuluh tahun bersama suami barunya dan kini ia dan keluarga barunya kembali menetap di tanah air.


.


.


Megan kembali memungut benda berserakan berupa tes kehamilan yang sudah ia lempar dengan amarah yang membara. Masih dengan emosi yang mencabik - cabik jiwa, Megan keluar dari ruang kerjanya. Tatapan marahnya yang tak bisa lagi disembunyikan tentu menuai perhatian dari para karyawan yang ia lewati.


Masuk kedalam mobil, Megan melaju hingga sampailah ia di rumah sakit dimana suaminya sedang bekerja. Kedatangannya kesini adalah untuk meledakkan kemarahannya pada Morgan dan ingin melempar sepuluh tespek yang sedang ia genggem erat itu ke wajah suaminya.

__ADS_1


Beraninya dia bermain-main dengan tubuhku! Megan melangkah tegas, masih dengan sorot mata yang menakutkan.


Drrrt drrt drrrt...


Ia gapai ponselnya yang sedang memberi tanda panggilan, tanpa melihat siapa yang sedang menelponnya.


[Aku sedang sibuk!] sahutnya setengah malas.


[Meg Megan, ini aku Riko.]


Deppp.


Ia hentikan langkah tegasnya.


[Ada laporan? Katakan.]


Riko menjawab.


[Ya? Si-siapa? Bisa kau ulangi?]


[Mantan istri Morgan. Dia adalah orangnya.]


Menelan kasar air ludah ketika tenggorokannya terasa mengering seketika, Megan merasa seakan sebagian Dunia sedang runtuh di depannya. Kabar dari Riko membuatnya tidak bisa meneruskan langkah. Berbagai ketakutan seolah sedang mengepungnya.


Orang yang beberapa hari terakhir ini memantau kediaman Morgan tidak lain adalah mantan istri pria itu yang juga tak lain adalah ibu dari dua putranya yang dulu ditinggalkan karena pergi dengan pria lain.


Wanita itu tidak hanya muncul di sekitar tempat tinggal Morgan, ia bahkan hadir di pesta Antami bersama suaminya sebagai tamu undangan.


Dalam sekejap, Megan sudah tahu dimana keberadaan wanita itu.


Haruskah aku menemuinya? Anak - anakku, apa dia ingin mengambil mereka? Tidak. Tidak Boleh.


Bagaimana kalau kemarahanku mengacaukan segalanya? Morgan bisa saja hilang rasa terhadapku jika melihat kemarahanku padanya. Ya ... dia pasti akan menilai buruk sikapku dan bisa saja meragukan kemampuanku dalam mendidik anak-anak. Dia pasti akan membiarkan anak-anak pergi kepada ibu mereka pada akhirnya. Megan, sabar dan tenanglah. Atasi hal ini dengan baik. Anggap ini bukan masalah besar.


Balik kanan, Megan mengurungkan rencananya untuk bertemu Morgan.


Di perjalanan, Megan tiba-tiba menepi. Dipandanginya perut yang masih rata, perlahan tangannya mengepal. Bagaimana caraku menyingkirkanmu? Tolong jangan tumbuh di perutku. Bisakah? Aku tidak menginginkanmu. Megan menangis sendirian. Ia menangis sejadi-jadinya meratapi kesialannya kali ini.


Drrrt drrrt drrrt.


Suami memanggil. Megan tidak tertarik untuk menjawabnya. Menangis adalah satu-satunya sumber ketenangan Megan kali ini.


Puas menangisi kesedihannya, Megan kembali melanjutkan perjalanan.


"Akan kutemui dulu wanita itu agar aku bisa lebih tenang. Aku harus memastikan apa maunya. Akan kuberikan apapun keinginanya asalkan bukan meminta suami dan anak-anakku."


Berbelok ke sebuah toko bunga, Megan berparkir manis lalu keluar dari mobil. Langkahnya masuk begitu saja ke dalam bangunan berisi aneka ragam bunga itu.


"Bisa saya bertemu dengan pemilik toko ini?"


Seorang gadis yang menyambutnya mengangguk dan meminta Megan untuk mengikutinya masuk.

__ADS_1


Kehadiran Megan secara tiba - tiba tentu saja tidak pernah dibayangkan oleh Maryana. Ini adalah pertemuan pertama untuk mereka berdua.


"Maaf mendatangimu tiba-tiba."


Maryana berdiri kaku berhadapan dengan wanita yang telah berhasil menggantikan posisinya dihati Morgan, bahkan mungkin wanita ini sudah memiliki tempat dihati kedua putranya.


"O ... ya ... silakan, Nona Megan."


Dari cara Maryana menyebut namanya, Megan menebak bahwa wanita di hadapannya ini sedikit banyak telah mengetahui kehidupannya. Jadi, Megan tak perlu berbasa basi.


"Apa tujuanmu mengintai rumah kami? Apa yang kau inginkan?"


Lagi, Yana tak kuasa menahan kesedihan di dadanya.


"Aku ... hanya ingin melihat anak-anakku. Aku sangat merindukan mereka." air matanya mulai menggenang.


"Kau yakin, hanya anak-anak? Bagaimana dengan ayah mereka?"


"Jangan salah paham, Nona Megan, aku ... dia ... kami berdua hanya masa lalu."


"Baguslah, lalu apa kau sangat ingin bertemu mereka?"


"Apa boleh? Aku sangat - sangat ingin. Tolong bantu aku, Nona Megan!" Yana memohon dengan sangat. Ia juga menjelaskan bahwa Morgan tidak akan memberinya kesempatan dengan mudah untuk berjumpa dengan anak - anak.


"Tentu saja boleh, asal kau berjanji satu hal, jangan ambil mereka dariku."


Yana terdiam seribu bahasa. Ibu mana yang tidak ingin memiliki anak mereka? Yana sangat ingin mengambil kembali anak-anak itu sebelum mereka terlanjur dewasa. Tapi bagaimana caranya? Yana terpaksa mengangguk, "Ya ... aku berjanji."


Ya Tuhan, bantu aku untuk memenangkan hati kedua putraku. Aku ingin kedua anakku kembali ke pelukkanku.


.


Di posisi lain, ada Morgan yang setengah mati menghubingi Megan, tapi istrinya itu tidak menjawab satu kali pun. Bahkan kini, nomor kontak istrinya sedang di luar jangkauan.


"Kemana manusia itu? Tumben sekali dia mengabaikan aku!"


.


.


Tinggalin jejak lagi yuk guysss!


Maaci....


Semangat yok,


Ada yang Army ga disini?


nih ada cerita yg udah tamat buat kalian...


__ADS_1


__ADS_2