
"Cepatlah Rana! Pesawat tidak akan menunggu kita, kau tahu?"
Tidak cukup hanya dengan ancaman kemiskinan, kini dirinya harus pula minggat dari negara ini. Rana merasa ini agak keterlaluan tapi ... dia hanya seorang remaja yang tidak mampu melakukan apa-apa untuk melawan.
Duduk di dalam pesawat pagi ini, Rana menguatkan hati. Asalkan ada mama disampingku, maka keberadaan siapapun tidak lebih penting daripada itu. Batinnya.
Kak Erick, selamat tinggal. Semoga kelak saat kita bertemu lagi, caraku melihatmu telah berbeda dan keadaan sudah berubah. Semoga kau bahagia dan tercapai semua cita-citamu.
Kota Panama, disinilah Rana dan ibunya memulai kehidupan baru dan seterusnya.
Rana masih terlihat murung sejak tiba di ibu kota republik Panama ini.
"Rana sayang, apa yang membuatmu masih murung? Apa kau benar-benar tidak rela berpisah dari Erick? Tenang Rana sayang, kau masih punya banyak kesempatan untuk dapatkan si Erick itu.. Seiring berjalannya waktu, kalian berdua akan tumbuh menjadi orang dewasa yang hebat. Kalau sekarang saja Erick mulai tertarik padamu, apa lagi nanti ... mama janji, suatu saat kalian berdua akan bertemu lagi. Mama akan atur semua untukmu, Rana. Kau tunggu saja tanggal mainnya, fokus saja dulu dengan studimu sampai selesai dan saat itulah mama akan buktikan pada tante Megan bahwa Kau layak diperhitungkan sebagai pasangan putranya."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sudah menjadi kebiasaan kedua kakaknya setiap hari, sebelum pergi ke sekolah atau kemanapun, akan selalu berpamitan dan memberi kiss yang banyak untuk baby Mervi kesayangan. Begitupun saat pulang, hal pertama yang dilakukan adalah mandi bersih kemudian mendatangi baby M untuk bermain. Tampang lucu anak itu begitu menggemaskan bagi kedua kakak yang terpaut belasan tahun darinya itu.
Malam -malam baby M pun ditemani oleh Erick David yang tidak pernah bosan dan sekali pun tidak pernah mengeluh untuk disibukkan oleh bayi perempuan itu. Bed berukuran besar milik baby M dikuasai oleh kedua abangnya untuk sementara ini, karena baby M masih menggunakan ranjang kecil berdinding pagar, mengingat ia masih bayi.
Keduanya dengan senang hati bermalam di kamar baby M. Namun, saat waktunya mandi, makan, minum, apa lagi ketika BAB, keduanya abangnya menyingkir angkat tangan.
"Bunda ... Bunda ..." memangggil bunda sambil mengetuk saat tengah malam. David dengan wajah bantalnya membawa laporan bahwa baby M kelaparan dan popoknya telah terisi penuh dengan kotoran.
Sudah kewajiban seorang ibu baru memang harus berkorban waktu dan tenaga untuk rela bangun ketika semua orang sedang terlelap di alam mimpi, untuk menyusui dan mengganti popok bayi, seperti yang Megan lakukan saat ini.
Meskipun lelah, tapi Megan bahagia. Ia tidak pernah menyangka akan sebahagia ini memiliki baby Mervi dalam hidupnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terana, gadis remaja itu sudah tidak terlihat lagi dimana-mana. Erick sedikit bertanya-tanya dalam hati, kenapa Terana menghilang dan kemana perginya dia?
Tanpa bunda dan siapapun tahu, Erick menyimpan sendiri perasaan yang sesungguhnya terhadap Rana. Saat sedang sendirian, ia akan menyempatkan waktu untuk memikirkan gadis itu. Hilangnya Rana, membuat Erick pun merasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya.
Aku hanya akan mengubur perasaanku. Bunda benar, kami adalah sepupu. Aku tidak boleh memberontak dan membuat bunda kecewa. Bunda terlalu baik untuk disakiti olehku. Dimana pun Rana, semoga dia sehat dan baik-baik saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Sore hari ini David pulang sekolah lebih cepat. Wajah datarnya menggambarkan bahwa dia sedang kesal. Tidak biasanya wajahnya semurung ini.
Megan yang kebetulan memang bekerja dari rumah, tak sengaja mendapati raut wajah murung itu memasuki kamar dan tidak keluar-keluar lagi.
Apa dia sudah lupa ada baby M menunggunya?
Megan datang dan mengetuk pintu kamarnya. Namun, beberapa kali mengetuk tidak ada sahutan atau respon apapun.
"Sayang, sayang, David ..." Panggilan pun tidak direspon.
"Daviiiiid! David Erlanggaaaaa!"
Megan sangat terkejut mendengar suara teriakan yang memanggil nama David Erlangga. Megan mempercepat langkah menuruni tangga.
"Kak Lisa, kenapa Kau teriak-teriak di rumahku?"
Entah apa masalah Lisa, dia terlihat sangat marah.
"Mana si David? Dia harus tanggung jawab telah mencelakai Robian."
"Berhenti berteriak disini, Kak. Aku punya bayi yang butuh ketenangan."
Lisa melangkah, seperti hendak bertindak untuk menemukan keberadaan David.
Megan menahan tangannya dengan kuat. "Bersikap sopanlah sebagai tamu. Aku tidak akan biarkan kakak menjumpai anakku dalam keadaan marah-marah."
Lisa menepis tangan Megan dengan kuat pula. "Anakmu? Anakmu Kau bilang? Megan! Sadarlah! Anakmu itu hanya Mervi. Si David dan kakaknya itu hanyalah anak tiri yang kebetulan beruntung karena mereka anaknya Morgan!"
Hampir, hampir saja Megan melakukan kebiasaan lamanya, memukul, menampar. Tapi, tangannya kini mengerat di kerah baju yang dikenakan Lisa. Yang dikatakan Lisa barusan benar-benar membuat hatinya panas.
"Aku sudah susah payah membangun keharmonisan dalam keluarga kecilku ini dan Kau datang mengatakan ini dan itu dengan mudahnya. Apa Kau bosan hidup tentram? Kak Lisa, dengar ini baik-baik. Aku sangat membenci kata 'anak tiri' yang kau semat untuk anak-anakku. Bagaimanapun hubungan kami, aku menganggap dan perlakukan mereka seperti anak kandungku."
"Me Megan, aku bersumpah, anakku sedang sekarat sekarang..." Lisa menangis. Putra satu-satunya yang dia punya dan sayangi sepenuh hati.
"David tidak akan memukul kalau Robian tidak mulai lebih dulu." Megan melepas eratan tangannya perlahan.
Lisa terdiam dengan heran. Sebegitunya Megan mempercayai putra sambungnya.
__ADS_1
Tapi kedua mata Megan yang terlihat sangat menakutkan, seolah ada bola api disana yang sedang membara, Lisa jadi takut untuk bertindak.
"Berjanjilah untuk tidak sentuh anakku secuil pun. Pulanglah dan tenangkan pikiran karena David sedang beristirahat. Aku akan menjenguk Robian, setelah bicara dengan David.
Lisa pulang dengan perasaan kecewa. Namun, ada benarnya juga, memarahi David tidak akan membuat tangan patah Robian tersambung kembali dengan mudah.
.
Baru saja Lisa pergi, pintu utama kembali dilewati oleh seseorang. Abang sulungnya baby M baru saja pulang. Lagi-lagi pemandangan tidak mengenakkan terlihat. Erick tidak memberi sapaan hangat seperti biasa.
"Erick, Kau tidak lihat ada bunda disini?"
Erucj berhenti melangkah, "Aku sedang puasa bicara dengan bunda." bicara tanpa berbalik tubuh. Kembali ia lanjutkan langkah sampai di kamar.
Megan tidak tinggal diam lalu mengejar sebelum anak itu mengunci pintu kamar. "Erick ada apa? Apa bunda bersalah?" anak itu meletakkan tas sekolah ditempatnya dan berbalik.
"Apa Bunda sedang berusaha menyingkirkan aku dari keluarga?" kemudian memperlihatkan layar ponselnya agar Megan bisa membaca sebuah pesan dari sana.
"Setelah ada baby M, Bunda mulai berubah pikiran dan keberadaanku tidak penting lagi?" pesan itu berisi ucapan selamat telah diterima sebagai calon pelajar di sebuah kampus yang berada di Jerman. Erick dapat pastikan bahwa ini adalah ulah ibunya yang bertindak sesuka hati.
"Jerman, Bunda ... Bukan Jogja atau Bandung yang menjadi tempat lautan Mahasiswa, Bunda hendak kirim aku ke Jerman?"
Megan terdiam sambil berpikir.
"Ini pasti ulah Bunda, kan? Silakan saja Bunda bermimpi, aku tidak akan pergi ke kampus itu."
"Sayang, bukan begitu. Maaf, tapi bunda sangat ingin Kau belajar disana. Tidak ada niat untuk menyingkirkanmu atau apa." Megan mengakui bahwa dirinyalah yang telah mengatur semuanya. Tapi ini semata untuk masa depan Erick. Tidak ada yang lain.
"Tolong pikirkan lagi sayang, ayo katakan, adakah permintaanmu? Bunda akan kabulkan semuanya asalkan kau mau belajar disana."
"Apa Bunda bisa jawab pertanyaanku, Rana ada dimana? Apa Bunda yang membuatnya menghilang dari kota ini?" akhirnya Erick bertanya langsung pada ibunya soal Rana yang ia pendam dan mengganggu pikirannya selama ini. Dari sikap dingin anaknya ini, Megan yakin bahwa Erick benar-benar ingin tahu tentang Rana.
"Jadi ... informasi tentang Rana lebih penting dari pada permintaan bunda, Rick?" Megan bertanya dengan sikap tak kalah dingin.
.
.
__ADS_1
Bersambung bestiiii