Hot Duda Dan Perawan Tua

Hot Duda Dan Perawan Tua
Dua Ronde


__ADS_3

Sudah sangat lama Morga tidak mendapatkan pelayanan segila ini. Istrinya telah naik keatasnya bahkan menggerayangi seluruh tubuhnya.


Pria normal mana yang mampu menolak kegilaan ini?


"Aku memang bilang hanya butuh full service. Tapi, sayang, dari mana kau belajar hal ini, hmm?"


"Aku membeli bukunya di gramedia."


Megan menjawab apa adanya. "Saat seperti ini, nikmati saja. Jangan banyak tanya, pak dokter."


Megan terus melancarkan layanannya hingga akhirnya membuat penyatuan antara mereka.


.


.


"Dimana bunda?"


David tampak bingung saat yang menjemputnya adalah sang supir, bukan lagi ibunya yang over protektif seakan sangat pempedulikan dirinya itu.


"Nyonya berangkat ke Miami tadi pagi."


What? Miami lagi? Hah! Dia pasti sedang merayu dengan wajah memelas agar ayah tidak tega mencampakkannya.


David dan dua temannya masuk ke dalam mobil. Sesuai permintaan tuan mudanya ini, sang supir mengantar Gio dan Roy terlebih dahulu.


.


Di vila, Erick sedang menscrool media sosialnya.


[Erick, apa kabar?]


Sebuah pesan chat menyapanya.


[Aku melihat ibumu saat pengambilan raport. Dia terlihat sangat cantik. Selamat ya, sudah punya ibu. Aku menyapanya dan ternyata dia tidak sombong. Erick, semangat sembuh, ya ...]


Erick hanya tersenyum sinis dengan alis terangkat, menatap remeh pesan dari mantan kekasihnya itu.


Apa dia tersadar akan sesuatu setelah bertemu bunda?


Memikirkan penampilan ibunya yang selalu menonjol di tiap kesempatan membuat Erick beranggapan bahwa sudah pasti Megan telah menyilaukan mata semua orang termasuk mantan pacarnya saat pengambilan rapor di sekolah.


Apa wanita itu berulah? Awas saja kalau dia sudah mempermalukan nama baikku di sekolah.


Erik menduga bahwa ibu barunya itu bisa saja telah mencoreng nama baiknya diseluruh sekolah. Dia belum saja mengetahui bahwa dirinyalah yang bikin malu dengan nilai yang menurun drastis.


.


.

__ADS_1


Masih di kamar yang sama, Megan dan Morgan yang sudah lelah setelah bergulat dan berguling, kini menikmati waktu berpelukan dibawah selimut.


"Nona Megan, apa kau lelah? Kau sudah bekerja keras memuaskan aku."


"Aku tidak lelah sama sekali. Tapi aku ingin lebih lama menikmati waktu berpelukan denganmu, Pak Dokter."


Puas berpelukan dalam waktu yang lama Megan tertidur sangat pulas. Morgan beranjak dari sisinya pun tidak ia sadari.


Dia pasti sangat lelah.


Morgan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Pria ini sesungguhnya sangat mengutamakan kebersihan. Dia tidak bisa tidur dalam keadaan tubuhnya masih terasa kotor.


Asik menikmati percikan air shower, tubuhnya tiba-tiba menghangat oleh sebuah pelukan.


"Megan, kau ... kenapa bangun?"


Istrinya ini bahkan belum mengenakan sehelai kain pun di tubuhnya.


"Mandi sajalah, aku hanya akan memelukmu. Janji, tidak mengganggu."


"Tidak bisa. Ini namanya mengganggu."


Morgan berbalik membuat mereka saling berhadapan. "Kau masih mau?"


"Boleh kalau Pak Dokter mau."


"Aku tidak akan menolak, sayang.."


"Kalau itu yang Nona Megan inginkan, oke!"


Morgan mengangkat tubuh Megan yang bobotnya lumayan berat, membawanya kembali ke renjang panas, kembali bertempur untuk ronde ke dua.


.


.


Di sebuah gedung tinggi yang merupakan apartemen elit dimana sebuah keluarga kecil tempati.


"Rana, bisakah kau ikuti permintaan mama?"


Terana. Dia adalah putri satu-satunya yabg dilahirkan oleh kak Gea.


Mengetahui posisinya terancam setelah mendengar bahwa lebih banyak dewan eksekutif yang memilih mendukung Megan untuk naik menggantikan jabatan presiden direktur, membuatnya merencanakan sesuatu dengan memperalat putrinya sendiri untuk mendekati David Erlangga, mengganggu ketentraman keluarga itu.


Gea percaya, jika keluarga bahagianya terganggu, Megan akan kacau dan tidak fokus lagi dengan tujuannya. Dengan begitu bisa dengan sangat mudah membuat adik sepupunya itu kehilangan kepercayaan dari para pendukungnya.


"David? Okey, Mah, Rana akan ikuti permintaan mama." Rana memberi senyum simpul seraya menatap sang mama.


.

__ADS_1


.


Nenek tua sedang duduk berdua dengan David setelah menikmati makan malam. Memang, kerap kali wanita tua itu meminta David menemaninya bersantai di malam hari.


"Apa cita-citamu, Nak?" Nenek bertanya membuat David menghentikan aktifitas mulutnya yang sedang mengunyah cemilan.


"Aku bercita-cita ingin jadi seseorang yang berguna."


Jawaban cicitnya itu sangat tidak memuaskan.


"Itu bukanlah cita-cita. Kau ingin jadi apa?"


"Tergantung."


"Tergantung apa?"


"Selagi mereka masih bersama, sepertinya cita-citaku akan tergangantung pada kehendak istri ayah."


Nenek tua tertawa lepas.


Putra anaknya ini rupanya bisa melucu meskipun pendiam.


"Kenapa nenek tertawa? Aku tidak sedang melucu."


"David, setiap orang punya cita-cita. Kau boleh bermimpi untuk jadi apa pun kelak. Tidak ada yang mustahil. Bunda dan ayahmu, mereka tidak berhak untuk menentang."


"Benarkah, Nek?"


"Ya ... dan mungkin saja suatu saat kau bahkan mampu menggantikan bundamu untuk menjadi pemimpin di perusahaan nenek."


Mendengar itu, David hampir saja tertawa namun dia memang tidak bisa terbahak.


"Jadi maksud nenek, aku juga harus bertikai dengan cicit nenek yang lain memperebut kekuasaan, seperti bunda dan tante Gea?"


Nenek kembali tertawa lepas. Siapa pun tidak akan menyangka seorang Remaja seperti David mampu membuat seorang wanita tua tertawa bahagia.


"Kenapa Nenek terus tertawa? yang kukatakan bukan lelucon."


David kembali mengunyah cemilan dengan berbagai varian. Mumpung istri ayah yang super banyak aturan itu sedang tidak ada jadi tidak akan ada yang bisa mencegahnya memakan apapun sebebasnya.


.


.


Kepada admin Noveltoon, makasih ya udah meluangkan waktu buatin cover untuk Morgan dan Megan. SUKAAA deh.



Abis guys!

__ADS_1


oia, jempol manisnya mana? yuk beraksi.


__ADS_2