Hot Duda Dan Perawan Tua

Hot Duda Dan Perawan Tua
Keluarga Harus Bersama


__ADS_3

Megan terus berjalan menghampiri sosok tinggi di depannya. Semakin ia mengenali siapa itu, jalannya semakin dipercepat.


Greep. Memeluknya dengan erat. Orang itu tersenyum dan membalas pelukan Megan. Sesekali ia memberi kiss di kepala Megan.


Keduanya berpelukan tanpa suara, dengan perasaan bahagia. Tak puas hanya berpelukan, Megan berjinjit setelah tangannya berpindah ke tengkuk pria itu.


Megan memulai ci*uman. Pria itu membalasnya, sudah pasti.


Keduanya yakin bahwa tidak ada satu orang pun yang melihat adegan ini.


Sebelum hal itu berbuntut panjang, Megan menyudahinya.


"Kenapa berdiam di sini? Kenapa tidak langsung masuk? Orang-orang di dalam menanyakanmu dan kau muncul. Aku sangat senang, tapi kenapa tidak memgabariku, hmm?"


Bukannya menjawab, Pria itu melepas jaket hangatnya lalu ia kenakan untuk menghangatkan tubuh Megan yang menurutnya pasti merasa kedinginan.


"Pakai ini supaya tidak masuk angin. Pakaian mu sangat terbuka."


Megan tersipu dengan perhatian ini. Tersenyum salah tingkah. "Iya, tapi kenapa kau ada di sini? Kau tidak mengabafiku."


"Aku sengaja karena ini kejutan."


"Kau berhasil mengejutkan aku, Pak Dokter." Megan kembali memeluknya. "Aku sangat rindu dirimu." Megan memang suka berterus terang.


"Oke, tapi bisa sudahi dulu pelukannya? Ada hal yang lebih mengejutkan."


Megan melepas pelukan. "Apa itu?"


"ikuti aku." Morgan mengambil tangan istrinya menyingkir dari situ, menghampiri sebuah mobil yang bertuliskan nama 'taxi'


Megan spontan membekap mulut setelah pintu mobol dibuka. "Errick, Mamah?"


Remaja itu rupanya ada di dalam taxi bersama sang nenek.


"Errick sudah bisa menggerakkan kaki. Dokter membolehkan pulang dan berlatih secara mandiri. Jadi kami pulang." terang Morgan.


"Benarkah?" Megan tampak sangat lega. Ia hampiri anak itu. Benar, disisinya terdapat sepasang tongkat.


"Nak, kamu benar akan sembuh!" Megan merasa terharu dan air matanya turun begitu saja.


"Ayah, bisa kita pergi sekarang? Aku sangat mengantuk." remaja itu bersuara dingin. Bahkan tidak menanggapi ibu sambungnya.


"Tunggu, pergi? pergi kemana?" Megan terlihat panik seketika.


"Nak, Erick ingin pulang ke rumah lama." jelas mama Monick, singkat.


Megan menggeleng. "Tidak!" Ia berbalik menghampiri Morgan. "Kenapa begini? Pak Dokter, bujuk dia untuk tinggal disini saja." Megan memegang tangan Morgan, memohon.


"Aku sudah membujuknya setengah mati. Dia tetap tidak mau. Tapi tidak apa. Kita akan bujuk dia pelan-pelan."


Megan mengambil ponselnya lalu menelpon. Suara David terdengar menyapa.


[David, bisa kau ke depan Nak? Ada ayah.]


[Apa? Ayah?]


Morgan mengerut alisnya. David terdengar aneh menurutnya.


Belum ada satu menit? David muncul dengan napas tersengal-sengal.


"Ayah, jadi itu kau?"


"Memangnya kenapa? Kenapa kau terdengar tidak senang?" sindir Morgan.

__ADS_1


Megan menghampiri anak bungsu mereka. "Bukan hanya ayah. Di dalam taxi ada kakak bersama nenek. Tolong bujuk kakakmu untuk -" penjelasannga pada David terputus karena David segera menghampiri mobil itu.


Belum kelar rasa terkejut akan prasangka buruk sebelumnya, telah mengira Morgan sebagai selingkuhan ibu tirinya.


"Kakak! Kau pulang?" Wajah David terlihat senang. "Lalu kenapa tidak masuk? Kakak, ayo turun, aku akan membantumu." dengan polosnya David, tidak paham akan sutuasi. Megan diam-diam senang akan itu.


"Sepertinya kau sangat suka tempat asing ini. Maaf, aku ingin tinggal di rumah lama. Kau tinggallah disini bersama ibumu itu."


"Apa? Ayah, jadi kalian akan akan pulang ke rumah lama? Kalau begitu aku akan ikut." Tanpa aba-aba David ikut duduk di kursi penumpang setelah meminta nenek dan sang kakak sedikit bergeser untuk memberinya tempat, lalu menutup pintu mobil itu.


Megan kembali panik. "David, ayo turun. Ajak kakak untuk masuk."


Kaca mobil terbuka perlahan setelah Megan mengetuk.


"Maaf tante, aku akan ikut pulang. Kita tidak bisa memaksa keinginan orang sakit."


"David, tidak bisa begini. Jangan pergi. Mah, ayo bawa turun anak-anak." beralih ia memohon kepada ibu mertua. Tatapan tulusnya terasa sangat menenangkan hati Monic. Terlihat jelas bahwa dia sangat menyayangi dua cucunya ini. Tapi dua anak ini bahkan tidak menatap dia.


"Nak, untuk sekarang biarkan saja dulu seperti ini. Masuklah, jaga Nenek. Mamah akan mengurus suamimu dan anak-anak."


Megan menggeleng kuat. Berbalik lagi ke arah Morgan. "Pak Dokter, bagaimana ini?"


Morgan mengambil tangan istrinya. "Seperti kata mamah, kami akan pulang ke rumah lama untuk sementara. Kau temani saja nenek. Aku akan mampir kesini saat ada waktu." Morgan menghapus air mata istrinya yang meleleh bagaikan anak sungai.


"Jangan menangis, masuklah! Yang jelas anak itu akan sembuh. Selama masa cutiku aku akan beri dia terapi di rumah."


Morgan pergi setelah memberi istrinya itu kecupan.


Mobil mulai bergerak pelan. Kaca mobil kembali terbuka. David menoleh ke arah Megan. Entah apa yang terjadi dengan hatinya, ia merasa sedih meninggalkan wanita itu. Sangat ingin mengucapkan selamat tinggal, tapi suaranya tidak mau kelaur.


Baru saja ia rasakan perasaan bahagia tak terbendung atas kepulangan suami dan anak sulungnya, tapi kesedihan hadir saat itu juga.


Megan berjalan dengan lesu menuju kamarnya. Ia tidak peduli lagi dengan pesta yang bahkan belum bubar.


Aku harus apa? Berbolak-balik dengan perasaan gelisah dikamarnya.


Tidak Megan! Ini pernikahan! Apa pun yang terjadi, keluarga harus tinggal bersama.


Megan menurunkan beberapa lembar pakaian dan memasukkannya kedalam koper.


Tinggal menunggu waktu, dia akan berpamitan dengan sang nenek.


Sudah pukul sepuluh lebih tiga puluh, tapi tamu sang nenek belum juga pulang. Megan menggunakan kesempatan ini untuk membawa keluar koper kecilnya, biar nenek tidak terlalu sedih mengira cucunya ini akan pindah dan meninggalkannya lagi.


Tepat pukul sebelas, para tamu undangan sudah pergi.


Megan mengantar masuk sang nenek ke kamarnya. Nenek terlihat lelah tapi wajahnya memancarkan aura bahagia.


"Nek, ada kabar bahagia. Erick sudah pulang. Dia sudah bisa menggerakkan kakinya.-"


"Benarkah? Lalu dimana Morgan? Kenapa tidak datang menyapaku untuk mengucapkan selamat? Ayo Megan, antar nenek ke kamar Erick." Baru saja meluruskan tubuh diatas pembaringan, sang nenek sudah mau bangkit lagi.


"Nek, begini ... tadi mereka sudah mampir. Tapi ... Erick maunya pulang ke rumah lamanya."


"Apa? Jadi kau bagaimana?"


"Aku akan menyusul mereka."


"Jadi kau akan meninggalkan nenek sendirian?"


"Tidak Nek. Aku akan berusaha memberi pengertian pada anak itu biar mau pindah ke sini. Tapi untuk sekarang, jangan dulu memaksanya, Nek."


Megan masuk ke mobilnya, berkeras ingin menyetir sendiri ran menolak tawaran supir untuk mengantarnya.

__ADS_1


Berbagai kekhawatiran sedang melanda pikirannya. Ia takut bahwa hubungannya dengan Morgan benar-benar akan berakhir seperti kehendak dua ABG itu.


.


.


Beralih ke Morgan.


Waktu menunjukkan hampir tengah malam. Morgan harus memastikan dulu dua jagoannya itu sudah tidur seperti yang biasa ia lakukan.


Erick Erlangga rupanya sudah terlelap dengan nyenyak, seperti katanya bahwa tadi ia sangat mengantuk. Morgan mematikan lampu dan menyisakan lampu tidur.


Berbeda dengan kakaknya, David masih bermain dengan handphone.


"Kenapa belum tidur?"


"Aku belum mengantuk, Ayah."


"Apa kau sudah terbiasa bergadang selama ayah tidak ada?"


Anak itu menggeleng. "Bunda selalu mengawasiku. Mana boleh bergadang."


Morgan cukup tertarik dengan cara David menyebut Megan sebagai Bunda.


"Ayah, apa kalian berdua baik-baik saja?"


"Apa maksudmu? Tentu baik-baik saja. Apa kau kepikiran dia?"


David terdiam.


Ada apa denganku? Bukankah situasi ini cukup baik untuk mulai saling menjauh? Mungkin karna sudah terbiasa tinggal dengannya, perasaanku jadi terganggu begini.


"Baiklah, mari kita hubungi dulu ibumu."


Morgan menghubungi Megan tapi tidak direspon oleh istrinya itu. Ia lalu menghubungi nenek, tapi belum sempat panggilan terhubung, panggilan dari sang nenek menghubunginya lebih dulu.


[Iya, Nek.]


[Morgan, Megan meminta alamat rumahmu padaku. Apa dia sudah tiba?]


[Apa? Dia mau ke sini?] Morgan berdiri menegang.


[Oh jadi dia belum tiba? Jangan khawatir. Mungkin sebentar lagi dia akan tiba.]


.


Di perjalanannya, Megan terhenti karena di jalan sepi yang ia lalui sedang berdiri dua orang pria yang seakan ingin menghadang jalan.


Apa-apaan ini? Mereka sedang menakutiku?


Tin! Tin! Tin! Megan membunyikan klakson, tapi dua orang itu tidak juga mau minggir.


Megan yakin, para pria ini tidak sedang bercanda. Ia yakin bahwa keduanya sedang menyembunyikan senjata dibalik tubuhnya.


Ia mengangguk-angguk dengan senyum menakutkan dibibirnya.


"Baiklah jika kalian mau menginap di rumah sakit" tanpa ragu Megan menginjak pedal gas.


BRUAKK!


.


.

__ADS_1


Bersambung...😑


ttp semangat guys!


__ADS_2