
"Kau mulai cemburu sekarang, hmm? Jangan cemburu padanya."
Mengan lalu berbalik berhadapan dengan suaminya.
"Morgan, aku ... masih sulit percaya ini. Apa kau yakin bisa menerimanya?"
Morgan memberi anggukan. "Aku akan belajar menerimanya. Sebesar apapun aku menolak, dia tetap darah dagingku yang memiliki hak yang sama dengan dua kakaknya. Aku harap, kau pun belajar menerimanya seperti aku. Apa lagi ... dia tumbuh di dalam rahimmu."
Megan menangis.
"Kenapa menangis?"
Keduanya berpelukan. "Maafkan aku, Morgan."
Sedih disadarkan oleh suaminya, Megan merasa bersalah. Ia menyesali rencananya yang begitu tega ingin membuang bakal anaknya sendiri. Megan seolah baru menyadari bahwa tidak ada wanita sejahat dirinya ini.
"Aku, akan belajar menerima dia seperti katamu. Morgan, bantu aku supaya sanggup melakukannya." Megan juga sadar bahwa sampai detik ini dirinya belum bisa terima keadaan bahwa dirinya sedang mengandung. Namun, Megan berjanji tidak akan apa-apakan bakal bayi ini lagi.
.
"David, apa kau bisu? Kenapa tidak menjawabku? Tidak sopan!"
kedua remaja itu sedang duduk di ruang makan, siap untuk menikmati sarapan pagi yang ada dihadapan mereka. Entah siapa yang menyiapkannya, tidak mungkin ibu sambung mereka itu, apa lagi wanita itu belum bangun.
David sengaja mengabaikan Erick, sebab pukulan yang telah dilakukan kakaknya kemarin sore.
"Tidak perlu basa-basi denganku."
"Aku tidak basa-basi. Aku bertanya apa ayah dan bundamu itu sudah bangun?"
"Itu namanya basa-basi. Sejak kapan kakak peduli mereka bangun atau tidur..."
"Oke, Aku minta maaf padamu. Tapi kenapa kau tidak menangkisnya? Bukankah kau pemegang sabuk hitam bela diri?"
David menoleh. "Sabuk hitam itu saat aku TK. Tidak ada gunanya di usia ini."
"jadi apa kau memaafkan aku? Aku serius. Ayolah, maafkan aku. Aku berjanji kalau sudah sembuh nanti aku tidak akan menendangmu lagi dengan kakiku ini seperti yang kulakukan dulu." Nostalgia masa lalu, Erick dulu kerap menendang adiknya ketika telat bangun atau pun saat David sedang tidur di hadapan televisi menikmati istirahat sore hari. Begitu menyebalkannya tingkah Erick ketika ayah tidak di rumah. Setelah kakinya mengalami kerusakan seperti ini, Erick menyadari satu hal, mungkin ini adalah hukuman baginya. Ia menyesal dan berjanji dalam hati ketika nanti kakinya sembuh, akan ia pergunakan dengan baik.
"Baiklah, karena kau memohon, jadi aku maafkan." pemberian maaf dari adiknya begitu berharga bagi Erick, kini ia merasa legah telah berbaikan lagi dengan adikya ini.
"rusukmu ... tidak benar-benar patah, kan?"
"Tentu saja tidak, kalau iya, mungkin saat ini aku sedang berada di rumah sakit." meski terdengar ketus, tapi Erick menagnggap itu adalah kalimat candaan adiknya.
Megan menyaksikan interaksi itu dari tangga ketika hendak turun dari lantai atas. Ia tersenyum. Tak ingin merusak moment pagi keduanya, Megan kembali ke kamar. Morgan ternyata baru selesai mandi.
"kau tidak mandi?" Morgan bertanya, sebab ini tidak pernah terjadi. Istrinya tidak akan keluar kamar jika belum mandi pagi.
__ADS_1
"Apa aku terlihat jelek? aku merasa sangat malas bersentuhan dengan air pagi ini."
"O... tidak apa - apa. Terserah kau saja." bagi Morgan, mandi ataupun tidak, Megan Berlian tetap cantik tiada tandingan di rumah ini.
"Anak-anak sudah berdamai Morgan. Mereka berdua sedang sarapan."
Morgan yang mendengar sudah beberapa kali istrinya ini menyebut namanya, bukan lagi pak dokter, mulai merasa aneh dan rasanya hal ini harus diluruskan.
"Kudengar kau beberapa kali menyebut namaku, tidak seperti biasa. Aku merasa aneh mendengarnya."
"Aneh? Itu kan namamu. Kenapa lagi?"
"Sayang, bisa kau panggil aku dengan sebutan sayang, sesekali?"
"Sayang? Baik, itu tidak sulit."
.
Keluarga kecil itu pulang setelah menyelesaikan sarapan. Tidak lagi dengan mobil terpisah, tapi dengan mobil yang sama yang dikemudikan Morgan. Kebetulan hari ini adalah akhir minggu, Megan meminta suaminya untuk berbelok ke supermarket.
"Aku tidak ikut turun." Erick yang sadar dirinya sedikit merepotkan, memilih untuk tinggal di mobil saja.
"David, kau temani kakakmu."
David menggeleng menolak perintah ayahnya. "Aku tidak mau, Ayah. Ada sesuatu yang ingin aku beli."
"sayang, apa ada yang kau inginkan di dalam sana? Bunda akan membelinya untukmu."
"Belikan aku snack kerupuk kentang rasa bawang dan minuman dingin." tidak muluk-muluk, Erick hanya menyebut dua jenis makanan dan minuman yang ia inginkan saat ini.
Di dalam supermarket, seperti biasa Megan akan mengambil berbagaia jenis jajanan yang dia mau. Morgan hanya bisa mengelus dada tanpa banyak protes, mengingat istrinya itu sedang hamil. Terserah istrinya mau makan makanan ringan sebanyak apapun tak masalah. Tak apa, asal bukan makanan beracun, batinnya.
"Ayah, apa uang ayah cukup? Aku ingin membeli ini." David membawa beberapa barang ditangannya. Seperti kebiasaan saat berbelanja dengan ayah, ia akan bertanya dulu tentang berapa uang yang ayahnya bawa, ini sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil. Tidak hanya dia, kakaknya pun begitu. Sebab Morgan membiasakan bertanya dulu jika hendak membeli sesuatu.
"Jangan tanya ayah, sayang. Sebab ATM dia ada di dompet bunda." Megan memasukkan belanjaan David ke dalam trolly.
Thanks Bunda, wah, Bunda membeli banyak makanan. Ayah, apa ini boleh? Bunda, kalau begini, ini namanya pemborosan. Bahkan persediaan di rumah masih ada."
"Bunda tidak memintamu menghabiskannya dalam sekali duduk. Ini bekal untuk satu pekan. Mengerti?"
Morgan hanya menyimak perdebatan receh di depannya. Baginya, Dua orang ini persis seperti ibu dan anak sungguhan. Ia bersyukur David akhirnya menerima ibu barunya ini, demikian sebaliknya dengan Megan.
.
.
Tiga hari berlalu seiring bergantinya siang dan malam.
__ADS_1
Erick yang sedang menikmati sebungkus cemilan di sore hari tiba-tiba kedatangan tamu yang mengaku sebagai guru private bahasa Inggris.
"Aku tidak memesan guru private pelajaran apapun." ujarnya pada pria berkumis tebal yang kini berdiri di hadapannya.
Ponselnya berdering. Segera ia jawab panggilan dari istri ayahnya itu. [ya..]
[Sayang, apa pak guru sudah datang? Maaf karena bunda baru sempat mengabarimu.] suara Megan yang terdengar seolah merasa bersalah membuat Erick tak tega protes terhadap wanita hamil itu.
[Ya ... tak apa.]
[Selamat belajar ya anakku, bunda mau lanjut bekerja. Semangat!" kata ayah wanita hamil tidak boleh stres. Erick terpaksa mengikuti kemauan Megan.
Erick mengakui jika kemampuan berbahasa Inggrisnya belum sebaik David. Tapi memangnya kenapa kalau tidak menguasai bahasa Internasional? Erick juga tidak berencana untuk ke luar negeri. Namun, dengan datangnya guru private ini maka Erick berkomitment untuk serius belajar. Lagi pula sayang jika bundanya telah mengeluarkan uang untuknya.
Malam hari, Megan dan Morgan tiba di rumah.
Erick baru saja menyelesaikan makan malam bersama adiknya.
Morgan masuk ke kamar untuk segera mandi setelah penatnya bekerja seharian ini. Sementara Megan, ia memilih menghampiri kedua anak itu.
"Sayang, ada hal penting yang harus bunda sampaikan."
Kedua anak itu memandang ke arahnya.
"Ini tentang bunda Yana. Apa kalian ada waktu besok bertemu denga-"
"Aku sibuk. Aku tidak ada waktu bertemu orang asing." Erick meneyela. Moodnya yang sedang baik berubah buruk seketika. Kenapa pula ibunya ini harus membahas tentang bunda Yana, Erick tak suka.
"Rick, dengarkan bunda. Semarah apapun kamu, dia tetap ibu yang melahirkanmu dan-"
"Aku tidak mau. Titik!" Erick pergi dengan rasa marah menuju kamarnya, melangkah tertatih dengan tongkat andalannya.
"Aku akan pergi kalau itu keinginan Bunda. Tapi ... Bunda tidak sedang berencana mengembalikan aku dan kakak pada wanita itu kan?"
Megan cukup terkejut dengan apa yang dikatakan David. Bisa-bisanya anak ini berpikir terlalu jauh. Mana mungkin Megan rela melepaskan anak-anaknya ke tangan orang lain, bahkan kepada ibu kandung mereka sekali pun. Ia lakukan ini karena Yana sudah memohon padanya untuk membujuk anak - anak, ingin bertemu mereka.
Keesokan harinya ...
Megan benar - benar mengantar David ke restoran yang ditunjuk Yana.
"Bunda tunggu di mobil ya sayang, kamu temuilah dia. Kalau diberi makan, makanlah yang banyak."
"Bunda yakin tidak ikut turun?"
"Tidak perlu, sayang. Dia hanya ingin menikmati waktu berkualitas bersama putranya. Jangan pikirkan apapun."
"Baiklah, tapi Bunda janji jangan pergi sebelum aku keluar. Satu hal lagi, aku tetap akan jadi anak Bunda Megan meski wanita itu menawarkan surga yang lain."
__ADS_1
Megan mengangguk bahagia. Ia terharu, hampir saja meneteskan air mata.