Hot Duda Dan Perawan Tua

Hot Duda Dan Perawan Tua
Baby M Lahir


__ADS_3

Sayang ... kumohon ... bangun ... kau adalah wanita kuat dan tidak pernah mrnyerah pada apapun.


Sayang ... anak-anak kita menunggu kau keluar dari ruangan ini dalam keadaan selamat. Tolong jangan hancurkan perasaan mereka berdua. Bertahanlah, jangan pergi begitu saja.


Cinta kami sangat besar terhadapmu. Bisakah aku minta kau jangan kenapa-kenapa? Aku ingin selamanya bersamamu. Maafkan aku kalau saat-saat sulitmu aku tidak ada bersamamu.


Morgan terus berbisik di telinga istrinya sambil terisak. Ia tidak tahu apa yang menjadi pemicu kenapa istrinya jadi seperti ini, tapi ia sangat berharap, Megan mau bertahan untuknya dan anak-anak.


Morgan setia mendampingi, berada disisi kepala Megan sementara proses lahirkan baby M sedang diperjuangkan oleh tim medis.


Sementara di posisi luar ruangan operasi, hadir keluarga besar Megan, termasuk dua remaja kesayangannya yang kini hanya mampu tertunduk lemah.


Tak ada bedanya dengan sang nenek yang nampak sangat terpukul menunggu keluarnya Megan dari dalam sana.


Tidak ada yang saling menguatkan, semuanya tampak terhanyut dalam diam.


Bunda, tolong jangan tinggalkan aku. Bunda satu-satunya ibuku yang aku inginkan. Bunda sudah berjanji akan selamanya jadi ibuku. Jangan mengingkari janjimu, Bunda ... David tak berhenti memohon dalam diam. Air matanya yang jatuh begitu saja cukup jelas menggambarkan betapa dirinya sangat sedih dan terpukul.


Tak bedanya dengan Erick. Kondisinya terlihat sangat memprihatinkan, ia bahkan masih mengenakan seragam sekolahnya yang tampak kotor oleh bercak-bercak darah milik ibu sambungnya itu.

__ADS_1


Bunda jangan begini ... berjuanglah ... jangan kabulkan pernyataan dokter tentang kemungkinan buruk yang akan menimpamu. Bunda ... aku berjanji akan jadi anak yang akan memenuhi apapun yang bunda inginkan, asalkan bunda bertahan. Apapun, bunda ... apapun yang bunda inginkan terhadapku, akan kuturuti. Andai bunda Bisa mendengar, Erick yakin wanita itu akan sangat senang mendengar janji darinya ini.


Ratusan menit berlalu, segala upaya telah dilakukan oleh tim medis profesional, tapi ...


Di dalam ruang operasi sudah terdengar tangis melengking dari bibir mungil seorang bayi perempuan. Ya, baby M lahir sebagai bayi perempuan dengan panjang dan berat badan normal seperti kebanyakan bayi.


Bayi yang diselimuti dengan selimut hangat itu diserahkan ke tangan Morgan kemudian.


"Dokter Morgan, ini dia bayi Anda ... seorang bayi perempuan."


Tanpa mengatakan apapun, Morgan memeluk baby M dengan penuh kasih sayang, memberinya ciuman dengan hati-hati. Matanya yang masih merah, kembali berkaca. Ia bawa bayi mungil itu ke posisinya semula, disisi kepala Megan.


Kondisi yang masih kritis mengharuskan Megan untuk dirawat secara intensif. Keluarga Megan terus mengekori hingga tiba di ruang perawatan. Namun, Nenek dan kedua putra Morgan tidak lagi terlihat.


"Morgan, bersabarlah. Kita semua turut sedih atas kondisi ini." Gea memberi penguatan, cukup menunjukkan rasa simpatinya.


"Morgan, anak-anak dibawa pergi oleh nenek buyut mereka untuk makan malam bersama." Timpal kak Minda.


"Kalau begitu ... aku pulang dulu, semoga kondisi Megan segera membaik." Lisa buru-buru pamit. Sesungguhnya dia hadir disini hanya atas permintaan Nenek. Masih tidak nyaman baginya untuk berada lama di dekat kedua kakak sepupunya, Gea dan Mida.

__ADS_1


"Kalian semua boleh pulang. Aku akan mengabari saat istriku sudah membaik."


Tak hanya Megan, Baby M juga mendapatkan perawatan tak kalah ketat.


.


Di kediaman Nenek. Malam ini semua cicit berada di dekatnya. Ia paksa mereka untuk duduk bersama dan berbicara dengan mereka secara acak, bahkan nenek buyut membuat mereka saling berinteraksi walau masih terlihat sangat kaku.


Nyatanya mereka memang tidak begitu akrab satu sama lain.


"Nek, kurasa aku dan kak Erick harus kembali ke rumah sakit." David mulai berdiri dari duduknya. Erick pun menyetujui adiknya, kemudian keduanya pergi dari istana megah sang buyut.


Yang lain pun ikut bergerak dan pamit pulang.


"Apa kau mau ikut dengan kami?" tidak tahu ada angin apa, Erick tiba-tiba saja menawarkan Rana pergi bersama. Sementara dirinya saja butuh diantar.


Namun, Rana yang biasanya sangat gencar mengejar Erick, bahkan sudah terkenal di kalangan keluarga ini kegigihannya, bersikap tenang dan biasa saja, tidak lagi tersenyum genit seperti biasa.


"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri."

__ADS_1


__ADS_2