
Megan mengakui suaminya ini memiliki stamina yang bisa diacungkan jempol. Bekerja seharian disambung dengan menghadiri pesta lalu pulangnya harus berolah raga malam, tidak membuat pria itu kelelahan. Dan dengan teganya Megan mengajak Morgan untuk mampir ke supermarket untuk berbelanja.
Selagi masih berkeliling sambil mendorong troli belanjaan, Megan memasukkan semua kebutuhan dapur serta cemilan yang disukai dua remaja itu. Awalnya, David bahkan harus beraksi diam-diam kala dia sedang ingin mengunyah sesuatu sebab ibu sambungnya itu selalu banyak aturan sampai soal makanan sekali pun. Tapi akhir -akhir ini Megan sendiri yang menyiapkan berbagai makanan ringan untuk dinikmati sesuka hati tanpa aturan. Memang, hanya itu yang bisa ia lakukan, sadar bahwa dirinya tidak memiliki skil dalam dunia perkokian.
"Lama-lama kau dan anak - anak bisa terserang diabetes kalau begini caramu mengatur asupan makanan." tak tahan, Morgan terpaksa harus bersuara, berharap istrinya mengerti dan sadar akan apa yang sedang ia penuhi di dalam keranjang belanjanya ini.
Seakan tak peduli, Megan mengabaikan perkataan suaminya. "Apa guna dokter kalau tidak ada orang sakit?"
Selesai sudah acara berbelanja kebutuhan dapur dan lain sebagainya. Pulang ke rumah adalah tujuan keduanya sekarang. Kembali Megan perlihatkan sikap manjanya dengan bersandar di bahu Morgan.
"Apa kau tadi belum puas?" iseng bertanya, untuk mengusir kebosanan di perjalanan.
"Pikiranmu yang selalu menjurus ke sana Dok!" sahut Megan. "Memangnya aku tidak boleh menempel padamu?"
"Hmmm? Oh, tentu sangat boleh. Hanya ... kau agak berlebihan belakangan ini." hanya kalimat ini saja mampu mengacaukan suasana hati Megan.
"Berlebihan? Baiklah, aku akan jaga jarak darimu." baru saja bersikap manja, sekarang muncul lagi sikap aneh lainnya.
"Jangan merajuk. Kau terdengar lebih sensitif dari pada Erick." dasar kurang peka, Morgan terus mengeluarkan kalimat yang menurut Megan sangat tidak menyenangkan untuk di dengar.
Megan memasang muka murung. "Kau terus mengkritikku, seolah aku ini anak kecil. Fine! Aku akan diam mulai sekarang."
Morgan mengerjap beberapa kali untuk memeriksa situasi. Kenapa Megan Berlian terlihat berbeda? Istrinya ini adalah orang yang seharusnya tidak punya waktu untuk mempermasalahkan obrolan receh seperti ini.
"Oke oke oke, sayang, kau selalu benar. Aku salah. Jangan marah, ya ..." mengambil tangan kiri istrinya untuk ia genggam, tidak hanya sekedar menautkan jemari, Morgan bahkan bersikap manis dengan memberi tangan itu ci*uman hangat yang berhasil membuat perasaan Megan ikut menghangat. Megan akhirnya tersenyum, tapi malah membuat Morgan merinding. Bagaimana mungkin mood wanita ini berubah secepat kilat? Pikirnya.
Megan kembali menempel dengan tingkah manjanya. Sedang Morgan mengulang ingatannya tentang kebersamaannya dengan Megan selama ini, tapi tidak ia temukan ada momen dimana Megan bertingkah manja yang berlebihan. Dan ini sungguh menggelikan karena wanita disampingnya ini sekilas bukan seperti Megan Berlian.
.
Tiba di rumah, tak ada sambutan dua remaja itu. Waktu yang sudah menunjukkan hampir tengah malam rupanya ditinggal tidur oleh keduanya.
"Pak Dokter, aku sangat mengantuk. Biarkan aku tidur dan jangan menggangguku."
"Tidurlah sesukamu." jawab Morgan. Dan habya dalam waktu satu menit, Megan sudah benar-benar terlelap.
.
.
Keesokan harinya di sekolah.
"Eh, kau yang bernana David Erlangga?"
"Ya! Kenapa memangnya?"
__ADS_1
"Sini ikut kami ke atap."
David mengikuti langkah kaki dua siswa kelas sebelah yang kini membawanya ke suatu tempat yang bernama atap.
Sampai disana sudah ada seseorang yang sedang menunggu.
"Oh, Robian?"
"Heh! Jangan sok akrab menyebut namaku."
Robian mendekat dengan raut wajah tak ramahnya. "Aku hanya mau bilang. Jangan dekat - dekat dengan Keisya."
"Dekat? Oh, salah sangka. Kami hanya saling kenal saja."
"Jangan tersenyum ke arahnya. Jangan menyapanya. Keisya adalah milikku, apa kau paham?"
David mengangkat bahu "Ini bukan urusanku jadi aku tidak harus memahaminya." hampir saja David mendapatkan tinju dari kepalan Robian atas apa yang dikatakannya barusan. Tapi mengingat dia ini adalah anaknya tabte Megan, Robian tidak berani cari masalah.
"Awas kalau sampai aku melihat kau bersama Keisya lagi. Kau akan mendapatkan akibatnya." ancan Robian. "Biarkan dia pergi."
David melangkah dengan tenang dan pergi meninggalkan atap. Resiko punya keluarga yang sedikit bermasalah. Dia pikir Keisya menyukainya? kuakui keponakan bunda itu memiliki sikap berani. Belum apa - apa dia sudah berani mengancamku. Sabar, David.
.
.
Dia dengan bangga memasukkan bekal kedalam tasku, seolah ini adalah buatannya. Aku yakin pasti bukan dia yang memasaknya. Erick begitu menikmati bekal makan siangnya yang terasa nikmat.
"Hai, Rick," seseorang datang menyapa, cukup membuat remaja yang satu minggu lagi akan berusia 17 tahun itu kehilangan selera makan.
"Kenapa?"
"Rick, maaf baru menyapamu langsung. Aku baru mengumpulkan keberanian."
Dia adalah, mantan kekasih Erick yang sudah berselingkuh dengan anak juragan kaya yang berada di kelas sebelah.
"Kau tidak harus menyapaku." Erick kembali menutup kotak bekalnya.
"Kau masih marah, ya? Rick, aku bisa perbaiki semuanya. Aku bisa tinggalkan dia dan kembali jadian denganmu lagi. Apa kau ma-"
"Tidak perlu. Lanjut saja dengannya. Kalian sangat serasi. Kau lebih pantas naik motor kawasaki ninja seperti yang kalian berdua lakukan setiap hari, dari pada denganku, aku sekarang bahkan hanya berjalan dengan tongkat dan kursi roda."
"Tapi aku masih menyukaimu. Rick ayo balikan, ya," menyentuh tangan Erick, tapi segera ditepis oleh sang pemilik tangan.
"Jangan pernah ke kelasku lagi atau kekasih barumu akan cemburu lalu menyerangku yang tak berdaya ini."
__ADS_1
Berhasil mengusir pergi mantan kekasihnya itu memberi kelegaan di hati Erick. Akhirnya dia bisa mengakhiri semua yang masih tersisa dihatinya untuk gadis kelas sebelah itu.
.
.
Hari-hari berlalu seperti air yang terus mengalir.
Masih pagi di ruang kerjanya, Megan banyak menghabiskan waktu untuk tidur tidur dan tidur. Seakan ada sesuatu yang menggantung di matanya hingga membuat mata itu selalu ingin tertutup.
Ada apa denganku? Tunggu! Kedua mata Megan melebar setelah otaknya memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak diperlukan.
Megan meraba perutnya. Tidak hanya perut, kaki, pipi, lengan, semua bagian itu ia sentuh, untuk memeriksa adakan perubahan disana. "Pak dokter jelas mengatakan bahwa badanku semakin semok. Sebentar! Apa karena beberapa hari ini aku kebanyakan ngemil? Ahhhhh Megan, seharusnya dengarkan apa kata suami. Jelas - jelas dia seorang dokter." Megan bergumam sendirian, berusaha mengalihkan pikirannya dari dugaan lain. "Aku tidak mungkin hamil. Ya... pasti. Selama ini aku baru satu kali melupakan pil itu. Aaahhh! Tapi aku tetap harus memastikannya."
Berperang dengan pikirannya sendiri, Megan meraih ponselnya dengan tangan bergetar. Tak dapat disangkal, ketakutan besar sedang menghantuinya.
Tak lama, datang sebuah paket yang diantar oleh kurir. Megan membukanya segera.
Sepuluh tespek ia keluarkan dari paket itu. Ia menatap satu per satu benda itu untuk memastikan bahwa tidak ada yang rusak.
Setelah melakukan tes, Megan berdoa dan memohon dengan sangat kepada pemilik hidup ini agar jangan sampai ia melihat garis dua pada alat itu.
Beberapa menit berlalu, Megan membuka mata perlahan.
Bagai tersambar kilatan petir, Megan terduduk dengan kakinya yang melemah.
Garis dua jelas - jelas tertera disana, terlihat sangat jelas pada masing - masing benda itu.
"Tidak! Tidak mungkin!"
pyarrr!
Alat tespek itu berserakan setelah Megan melemparnya dengan kuat.
Megan marah besar saat wajah Morgan terlintas di pikirannya. Napasnya naik turun dengan degupan jantung yang melaju.
"Morgan Erlanggaaaa! Kurang ajar! kau berani menghamiliku!"
.
.
.
Yuk, bisa yuk tebarkan pesona kalian untuk memberiku semangat🥰🥰🥰
__ADS_1