
'Cari mati' mendengar dua kata itu datang dari mulut istrinya seketika membuat bulu kuduk Morgan merinding. Dia tidak percaya bagaimana mungkin seorang wanita tidak berperasaan seperti ini?
"Coba jelaskan padaku bagaimana kronologi peristiwa itu! Mungkin aku tidak punya kemampuan apapun untuk membantumu tapi ... setidaknya kau harus meyakinkan aku bahwa kau tidak bersalah." wajah Morgan sampai memohon pengertian.
"Aku memang sengaja mencelakai mereka karena mereka berdua tidak mau minggir. Mereka menghadangku di jalan sepi. Aku sempat berhenti lalu membunyikan klakson tapi mereka berdua malah berjalan ke arah mobil. Setan saja tetap akan takut jika ada di situasi itu. Jadi aku berpikir untuk melawan dengan cara menginjak gas. Tapi aku sudah perkirakan bahwa mereka tidak akan mati." dengan entengnya Megan menjelaskan panjang lebar.
"Apa aku bisa mempercayaimu?" Meski ragu, Morgan berusaha untuk tetap mempercayai istrinya melebihi orang lain.
"Aku mungkin memang kejam. Tapi yang kukatakan itu sesuai fakta. Kau tidak harus mempercayaiku jika tidak mau."
Morgan kembali mendekati Megan yang sedang membelakanginya, membuat wanita itu kembali berhadapan dengannya.
"Tapi kau tidak kenapa - kenapa, kan?"
"Aku tidak apa-apa, Pak Dokter."
"Aku mempercayaimu" memeluk Megan. "Syukurlah kalau kau tidak apa-apa. Maafkan aku, ku kira kau kabur setelah tidak sengaja mencelakai orang." Keduanya saling menerima dan memberi pelukan ternyaman. "Kenapa kau tidak kenal takut? Sikap beranimu ini membuat aku takut. Takut kalau suatu bahaya benar-benar menimpamu."
"Dok, hidup memang menakutkan. Hanya keberanian yang bisa mengatasinya. Bukan begitu?"
"Dasar si penberani ini, kata-katamu selalu masuk akal, sayang." Morgan memencit hidung Megan, membuat istrinya itu nenjerit manja.
__ADS_1
Keduanya kembali duduk di sofa, duduk bersebelahan tapi saling menyatu. Kepala Megan ia sandarkan di dada Morgan dengan kedua tangan melingkari perut suaminya itu. Sangat manja.
Terlihat sesekali Morgan mengecup kepala Megan dan mengelus rambut lebatnya.
"Nona Megan,"
"Hmmm?"
"Lama kelamaan, aku melihatmu dengan banyak warna. Aku berpikir, apa mungkin isteriku ini seekor Bunglon?" Terdengar tawa kecil Morgan diujung kalimatnya.
"Pak Dokter, sejak awal pun aku mengira kau adalah pria dingin yang membosankan. Rupanya kau mampu menghangatkanku dan tahu caranya melucu. Memangnya, seperti apa aku terlihat?" Megan mulai penasaran, kenapa suaminya menyebut dia seperti seekor bunglon. Terdengar lucu tapi menjengkelkan.
"Pak Dokter, ada banyak jenis sikap san sifat manusia. Dan semua itu ada padaku."
"Hmmm? Kau yakin? Kupikir kau satu-satunya manusia yang tidak punya rasa takut."
"Justru aku punya ketakutan yang sangat besar sekarang, Dok."
"Begitu kah? Apa yang kau takuti?" Morgan terlihat penasaran.
"Aku sangat sangat takut kehilangan. Aku takut kehilangan nenek, dan juga ... takut kehilanganmu apa lagi dua anak itu." jujur Megan.
__ADS_1
Morgan dapat merasakan tangan yang melingkar di tubuhnya semakin mengerat.
"Kata-katamu membuatku tersentuh, Nona Megan. Tapi boleh aku minta satu hal padamu?"
"Apa itu? Kau boleh meminta banyak hal padaku, asal jangan meminta anak. Aku tidak akan mewujudkannya."
"Bukan soal bayi. Kau pun tahu aku sangat tidak ingin memiliki anak lagi. Tapi ini soal kedua remaja labil itu. Jangan memanjakan anak-anak dengan barang-barang mewah yang harganya tidak masuk akal itu. Aku tidak mau mereka berdua melupakan kesederhanaan yang kuajarkan sejak dulu." Menyinggung tentang ponsel mahal yang Megan berikan untuk Erick sebagai hadiah, padahal jelas nilai akademik anak itu terjun bebas hampir menancap di kedalaman saking nyungsepnya.
"Tenang saja Pak Dokter, aku akan mendidik mereka menjadi orang baik. Tapi soal penampilan dan yang lainnya, akan aku berikan yang terbaik buat mereka. Kau tahu sendiri aku tidak menyukai barang murahan. Apa kau mau orang berbicara buruk tentangku? Ibu tiri yang kejam tidak memperhatikan penampilan anaknya."
Acara bermesraan terpaksa terbuyarkan karena suara ketukan pintu.
"aku akan membukanya." Megan beranjak setelah dengan manja mencium pipi Morgan.
"Maaf, Nona Megan Berlian, Anda kami bawa ke kantor polisi sebagai terduga pelaku dari kasus tabrak lari."
.
.
Bersambung aja dlu guys! Jangan lupa khilaf kasi othor hadiah🤭
__ADS_1