
"Ayah, aku malu." lama tidak berjumpa dengan sekolah dan seluruh isinya, Erick terlihat ragu dan tidak ingin turun dari mobil. Morgan bahkan sudah beberapa menit membuka pintu untuk menuntun anak itu pergi. Erick dihantui rasa tidak percaya diri yang besar.
"Ayolah, tenang saja ayah akan mengantarmu sampai ke kelas." bujuk Morgan.
"Itulah yang membuatku malu, ayah. Orang akan menatap iba padaku."
"Jangan pikirkan itu. Pikirkan ayah yang akan terlambat ke rumah sakit kalau kau banyak drama seperti ini."
Sikap kekanakan Erick yang menyebalkan cukup membuat hypertensi ayahnya.
Seorang security menghampiri dan menawarkan bantuan. Selepas itu dua orang siswa pun mendekat yang kebetulan adalah teman baik Erick.
Dengan wajah tampak sumringah keduanya menyapa Erick. Sangat berbeda, Erick yang biasanya ramah dan ceria hanya memperlihatkan muka datarnya. Dari cara teman-teman menyambutnya, Erick merasa sedikit tenang.
"Pergilah Ayah, aku akan pergi dengan teman -teman. Mengandalkan dua tongkat kiri dan kanan yang menopang tubuhnya Erick berjalan dengan susah payah.
Morgan kembali melanjutkan perjalanan dengan napas legah.
Tersenyum simpul kemudian saat membaca pesan dari istrinya yang hanya sekedar mengingatkan untuk semangat bekerja.
[Semangat juga ya istriku] balas Morgan.
.
Sore hari Megan baru pulang ke rumah. Eh tidak, bukankah wanita itu selalu pulang saat waktu sudah gelap?
Membawa dua paperbag ditangannya Megan hampiri dua remaja laki-laki yang sedang duduk di ruang tengah sembari membaca buku.
"Sayang, pakai ini sebentar malam, ya ..."
David sudah menebak pasti akan ada pesta atau semacamnya. Berbeda dengan Erick yang menatap polos isi dari tas belanja yang baru ia terima. "Kita mau kemana nanti malam?" ia pun bertanya.
"Kalian ingat kan, tante Minda yang sekarang menjadi pemimpin Antami, nanti malam kita ada pesta untuknya di gedung perusahaan." terang Megan yang membuat dua remaja tampan itu saling menatap singkat.
__ADS_1
"Apa wajib hadir?"
"Ya ... tentu David! Nenek buyut sangat menantikan kehadiran kita."
"Apa ayah juga akan ikut?"
"Ya ... mana mungkin tidak." jawab Megan akan pertanyaan Erick kemudian.
Malam hari tiba. Morgan belum juga pulang. Kedua anaknya itu pun menjadikan itu sebagai alasan. "Kami berdua akan menunggu ayah."
Sudah dalam keadaan siap dan sudah waktunya untuk pergi, Megan tak lagi punya banyak kesempatan untuk membujuk keduanya.
"Oke, bunda tunggu kalian di tempat acara." Megan pergi tanpa keduanya.
Bagaimana kalau sesuatu terjadi? Sepertinya aku harus pergi bersamanya. Mendengar pintu tertutup, David berlari menyusul keluar.
"Kakak, kau tunggulah ayah, aku akan pergi dengan istrinya." berpamitan sambil berlalu meninggalkan sang kakak.
David tidak setega itu. Dia mempercayakan kakaknya itu ke tangan dua pelayan yang bekerja di rumah mereka.
Megan tiba disamping mobil. Tapi entah kenapa, merasa ada yang sedang menatap dirinya dari kejauhan. Megan mengedarkan pandangan ke segala arah tapi tidak menemukan apapun.
"David?" malah putranya itu yang muncul di belakangnya.
"Ayo pergi bersama. Kakak akan menyusul bersama ayah." masuk ke dalam mobil, duduk manis dikursi samping kemudi.
Megan mengangguk dengan perasaan senang dan menyusul masuk ke mobil. "Ayo kita pergi,"
Keluar dari pekarangan rumah itu, tak disangka ada sebuah mobil asing terparkir dengan lampu menyala di pinggir jalan. Satu yang Megan sadari, warga di kompleks ini tidak mungkin ada yang memiliki mobil keluaran eropa satu ini. Dengan perasaan bertanya-tanya, Megan menghentikan mobil. Berhenti saja, tidak sampai turun.
Mobil itu tiba-tiba melaju pergi.
Benar kata David, seseorang pasti sedang memantau rumah kami. Megan terpaksa harus curiga, seperti kebiasaannya.
__ADS_1
"Kenapa kita berhenti?" tegur David, membuyarkan lamunan ibunya.
Tanpa bicara lagi, Megan kembali menekan pedal gas.
Ditengah perjalanan, mungkin karena lelah, rasa kantuk menyerang dengan tiba-tiba. Rasanya Megan ingin meminta izin pada putranya untuk berhenti sebentar saja supaya bisa memejamkan mata sejenak.
"Apa tante sakit jiwa?"
"Eh, ya?" Megan menoleh ke suara tenang yang sedang mempertanyakan kesehatan mentalnya.
"Kita berada di lajur yang salah!"
Tin tin tin tin!
Kembali dikejutkan dengan ramainya suara klakson, Megan membanting kemudi.
Seolah matanya baru saja terbuka. Kecelakaan hampir saja terjadi karena ulahnya. Megan menepikan mobil dengan perasaan gugup tak karuan. Rasa kantuk beratnya sudah menghilang pergi entah kemana.
Ya Tuhan! Ada apa dengan wanita ini? Apa dia berencana melumpuhkan aku juga? David menggerutu dalam diam. Sangat ingin rasanya memarahi istri ayahnya ini.
"Sayang apa kau tak apa? Kau baik - baik saja?" menyentuh lengan David, memutar tubu anak itu. "Kau tidak terluka kan?"
"Untuk sekarang aku tidak kenapa-kenapa. Lain kali berhati - hatilah. Jangan bermain-main dengan tubuhku. Nyawaku ini hanya satu."
Tahu putranya sedang marah, Megan hanya meminta maaf dan menjelaskan bahwa tadi ia merasa sangat mengantuk.
Mendengar penjelasan Megan, David merasa iba. Belakangan ini Ia tahu bahwa wanita ini bekerja sangat giat dan mungkin karena itu sampai lupa untuk istirahat. Seorang wanita seharusnya tidak bekerja sekeras ini, pikirnya.
.
.
Yuk semangat, double up dua jam lagi🤭
__ADS_1