
"Ayah! Aku sangat kesal dengan calon bayi ayah itu! Dia tidak ada habisnya mengerjaiku! Belum lahir saja dia sudah berani memintaku berburuh ini dan itu." Morgan yang baru saja pulang lagi-lagi harus mendengar laporan yang sama dari putra sulungnya.
"Erick, jangan buang-buang tenaga marah-marah seperti ini. Mungkin saja dia memang ingin membalasmu karena kau adalah orang yang sangat menolak kehadirannya." Morgan berlalu ke kamarnya.
Tunggu, Erick termenung sejenak.
Setelah ia sadari, dirinya memang masih keras menolak kehadiran baby M. Tapi kenyataan di depan sudah jelas, Baby M adalah bakal adiknya. Memikirkan ini sungguh memalukan. Tarik napas dalam - dalam, hanya itu yang bisa ia lakukan, sambil berharap baby M ini tidak tidak memperburuk keadaan mentalnya.
.
"Dimana dia?" Morgan mencari-cari keberadaan Megan di kamar, tapi tidak ia jumpai istrinya itu.
"Baby M, ayah pulang..." Merindukan baby M, itulah yang sedang dirasakan Morgan.
Sementara itu di ruang khusus olahraga, David sedang serius berlari kecil menggunakan alat olahraga treadmill electrik yang baru tiga hari dibelikan oleh ibunya sebagai imbalan telah menyenangkan baby M.
"Sayang, ayolah temani bunda shopping..."
"Tidak mau!"
David terus berkeras menolak. Sudah cukup kegilaan yang dilakukan bundanya demi mengikuti kemauan baby M. Bakal baby M ini sungguh gila, dia mampu membuat bunda Megan berubah 360 derajat. Megan yang selama ini ia kenal, tidak akan membuang-buang uang hanya untuk belanja setiap hari, tidak akan menghabiskan berjam-jam hanya untuk koleksi tak berguna. Kalau mengeluarkan uang untuk sesuatu yang bersifat investasi, David tidak heran lagi. Tapi ini, ah sudahlah! Satu kalimat untuknya, baby M benar-benar serakah.
"Aku tidak peduli lagi apa kemauannya. Lama - lama kita bisa jatuh miskin karena ulahnya, bunda sadarlah! Kasihan ayah bekerja keras sedangkan bunda seenanknya shopping..." David bergeser ke alat fitnes lainnya. Tidak peduli sama sekali dengan permohonan ibunya.
"Rupanya kalian berdua di sini?"
"Sayang... kau sudah pulang, aku merindukanmu sepanjang hari." Megan menghampiri dan seperti biasa memberi suaminya itu pelukan. Sangat manja.
"Ayah, bunda terus merengek gara-gara baby M itu. Bisakah Ayah tidak masuk kerja sehari saja untuk mengurusnya? Aku bosan menemaninya membuang-buang uang." David melapor dengan perasaan meluap, penuh semangat. Dan lihatlah ekspresi wajahnya yang tetap datar saja.
"Jadi Kau bosan menemani bunda?" Megan menanggapi dengan wajah kecewa.
"Oh, bukan, yang kumaksud adalah calon adik bungsunya kak Erick." jawabnya gelagapan.
Kalau Bunda, tetap jadi kesayanganku.
"Jadi baby M kita nampaknya sangat suka menyusahkan semua orang?" Morgan ambil satu tangan istrinya untuk di bawa pergi. "Aku akan menasihatinya agar jadi bayi penurut."
__ADS_1
Melihat ayah ibunya pergi memberikan ketenangan bagi David. Hanya ayah yang bisa mengalihkan baby M.
Saat ayah tidak di rumah, baby M selalu bertingkah ingin ini dan itu. Tapi saat sudah bertemu ayah, bunda akan melupakan semua kemauan baby M. David menggeleng.
Erick yang berada di ruang tengah dengan beberapa makanan ringan yang sedang ia kunyah sendirian sambil menonton siaran televisi, tak sengaja melihat ayah membawa Bunda Megan menuruni tangga. Perasaannya tenang karena kedua orang tuanya ini nampak akur tanpa masalah. Namun tiba-tiba saja ia teringat akan srsuatu. Gawat, aku harus bersembunyi.
Erick berlari ke kamarnya, mencuci tangan dan kaki lalu masuk ke dalam selimut. Makin hari, melihat wajah bunda Megan terasa seperti melihat beruang betina yang menakutkan, semua ini gara-gara baby M yang tidak pernah membiarkan bunda melihatnya duduk tenang.
Di gazebo taman Morgan mengajak istrinya duduk berdua. "duduklah dengan santai. Aku ingin bicara dengan baby M." keduanya duduk bersebelahan dan Morgan mulai menyentuh perut dimana baby M sedang berada. "baby M, apa kau mungkin tidak menyukai kedua kakakmu? Kenapa membuat mereka kesulitan? Lihat bunda. Tubuhnya juga nampak kurus karena setiap yang dia makan selalu dimuntahkan kembali." Lama Morgan berkata-kata untuk menasihati baby M yang masih berusia lima bulan di dalam sana. Yakin bahwa anaknya itu mendengar dengan baik jika memiliki pendengaran yang normal.
"Sayang, baby M minta satu kiss di bibirku." Morgan belum selesai bicara tapi Megan sudah membahas hal lain.
"Aku sedang serius menasihatinya jangan mengalihkan perhatianku."
"Tapi ini keinginannya. Bukan aku."
"Kalau soal kiss, tidak bisa disini. Anak-anak akan memergoki."
"Tak apa, biar mereka belajar. Lagi pula mereka sudah besar."
Pletak....
"Hal itu tidak perlu diajarkan. Kau ini ada-ada saja. Ayo ke kamar kalau mau kiss." Morgan beranjak lalu tidak lupa memberi tangannya untuk disambut Megan.
Megan tersenyum lalu menyambut tangan itu. Tetap bergandeng tangan dimana pun bersama.
.
Bulan demi bulan berlalu...
Sedikit tenang, baby M sudah tidak lagi membuat ketar-ketir kedua abangnya.
Perut Megan sudah membesar dan itu membuatnya tidak berani keluar rumah. Semua pekerjaan akan dia lakukan hanya dari kamarnya saja.
"Sayang apa kau sudah mau bertemu baby M? Ayo kita periksakan dia." untuk kesekian kalinya Morgan membujuk Megan untuk memeriksakan keadaan baby M ke dokter kandungan.
"Sudah kubilang aku tidak mau. Cukup sudah vitamin yang kau minta aku telan tiap hari. Aku belum siap melihatnya." dan berulang kali pula Megan menolak ajakan suaminya. Lagi-lagi Morgan haya mampu elus dada.
__ADS_1
Morgan merasa bersalah pada baby M karena keras hati bundanya, selama tujuh bulan dalam kandungan belum satu kali pun membawa baby M menjumpai dokter kandungan.
Morgan dan Megan akan berakhir dengan perdebatan serius kalau sudah membahas dokter kandungan.
Erick David sudah menunggu waktunya sarapan pagi. Ayah dan bunda mereka sudah terlihat keluar dari kamar. Hebatnya sekarang, berdebatan di dalam kamar keduanya tidak pernah diseret sampai ke luar, hingga dimata kedua remaja ini, ayah ibunya selalu rukun dan damai.
"Selamat pagi...!"
Keluarga kecil itu kedatangan tamu sepagi ini. Seorang gadis remaja yang tersenyum anggun dengan subuket bunga tulip kuning.
Terana, dia adalah gadis itu, sudah sangat sering ia muncul tiba-tiba di kediaman ini dengan berbagai alasan yang menjelaskan tentang kedatangannya. Dan sebenarnya alasannya hanya satu, ingin bertemu Erick Erlangga yang berhasil mengalihkan dunianya, bahkan hanya dengan sekedar melirik.
"Halo bunda Megan, aku membawa bunga tulip kesukaan baby M kita."
Hadehhh... orang ini sungguh tidak gentar. Kak Erick selalu mengabaikannya tapi dia tetap juga datang. David membatin. Rana bahkan telah beberapa kali memohon agar bisa dekat dengan Erick, tapi David sama sekali tidak ada niat membantunya.
Apa katanya? bunda Megan? Beraninya dia panggil ibuku dengan sebutan itu? Erick yang sudah muak dengan kegigihan Rana mendekatinya, akhirnya mulai menanggapi gadis itu. "Siapa namamu? Rana ya? Sini ikut denganku." Megan dan Morgan cukup tercengang dengan sikap Erick yang kali ini menghangat pada Rana.
"Kak Erick, kenapa kita harus bicara di kamar?" Tentu saja Rana gugup luar binasa saat masuk ke kamar pria yang ia sukai.
"Tolong jangan menyebutku kakak. Kita tidak seakrab itu." Rana terdiam.
"Rana dengarkan ini baik baik! Kuharap kau berhenti menghayal untuk dekat denganku. Aku merasa sangat risih didatangi terus olehmu. Satu lagi, aku tidak suka caramu menyapa ibuku."
Pedih, rasanya bagai tertusuk pisau. Bahkan belum Rana ungkapkan perasaannya tapi dirinya jelas mendapat penolakan mentah-mentah.
"Kau cantik, tapi sayang ... aku tidak suka cewek agresif."
Setelah mengatakan itu, Erick menunjuk pintu keluar.
"Pulanglah!"
.
.
Makasih atas semangat kalian untukku guys...
__ADS_1
Bisa yuk up tiap hari🥰