
Rana yang diusir tanpa perasaan, menangis keluar.
"Ran, Rana ... ada apa sayang?"
Remaja itu hanya melewati Megan. Rana terus berjalan hingga menghilang di pintu utama kediaman adik sepupu ibunya itu.
"Rick, kenapa Rana?"
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, Bunda," jawab si sulungnya itu dengan tenang.
"Kalian tidak sedang terlibat perasaan apapun kan?" Megan memicing mata, menunjukkan kecurigaan.
"Tidak ada."
"Syukurlah, kalau bisa jangan Rana. Mamanya bukan ibu mertua yang baik buat kamu." Morgan menggeleng atas apa yang dikatakan istrinya. Bisa-bisanya membahas tentang mertua pada seorang remaja setengah bocah seperti Erick Erlangga.
.
.
Untuk kesekian kalinya Erick menawarkan tumpangan pada adiknya David disaat seperti ini, waktunya berangkat sekolah.
"Kau tidak mau nebeng denganku sekali saja?"
"Tidak, terima kasih. Nyawaku hanya satu dan harus kusayangi." David memilih ke sekolah di antar oleh supir dari pada ikut dengan abangnya yang belum pro dalam dunia persupiran. Ia tidak ingin nyawanya melayang sia-sia karena tangan kakaknya yang ceroboh.
"Ayolah, sekali saja. Aku akan mengantarmu selamat sampai di depan kelas bila perlu."
"Alasan! Bilang saja kalau penasaran dengan kabar si Rana, ya kan? Jujur saja, Kak. Salah sendiri mengusirnya waktu itu." David menyindir dengan nada halus.
"Ya sudah, baguslah, aku tidak harus repot-repot mengantarmu. Teruslah seperti ini selamanya." Erick masuk ke mobilnya.
"Ya sudah aku ikut denganmu kali ini. Tapi kau harus berhati-hati membawaku."
Keduanya meninggalkan pekarangan kediaman itu dengan mobil yang sama. Ini merupakan pengalaman pertama David menumpang di mobil hadiah milik abangnya ini.
"Sebentar lagi adikmu sepertinya akan lahir. Apa kau punya rencana untuknya?" Erick memecahkan suasana hening di perjalanan mereka.
"Aku juga sedang memikirkan hal yang sama, entahlah, terserah ayah saja. Waktu itu ayah bilang setelah baby M lahir maka akan dia pikirkan lagi mau diapakan bayi itu." tandas David.
"Tapi ayah meminta kita untuk belajar menerima dia. Artinya ... kecil kemungkinan untuk melempar baby M itu ke pengasingan." balas Erick, tidak bersemangat.
"Lupakan Baby M itu, yang utama adalah bunda. Aku khawatir padanya." Akhir-akhir ini David telah beberapa kali tidak sengaja menangkap kekhawatiran di raut wajah bunda mereka. Tidak mengerti apa yang dialami ibu mereka itu.
.
Pulang sekolah. Baru saja Erick hendak menarik pegangan pintu mobilnya, "Erick, bisa minta tolong?" ada - ada saja alasan si mantan untuk berbasa-basi dengannya.
"Minta tolong? Apa?"
"Tolong antarkan aku ke halte bis."
setelah berpikir singkat, Erick mengangguk.
Benar-benar tepat di halte bis, Erick berhenti. Gadis di sampingnya tampak kecewa. Erick tahu dimana rumahnya tapi tidak berinisiatif mengantarnya pulang. Dengan perasaan sedikit kecewa tentunya, gadis remaja yang tidak ingin Erick sebutkan lagi namanya itu mengangguk dan tidak lupa mengucapkan terima kasih.
Melaju dengan kecepatan sedang, Entah apa yang terjadi dengan penglihatannya, Erick seperti menangkap sesuatu. Rana sedang berboncengan dengan seseorang. Yang pasti, orang yang bersama Rana adalah seorang laki-laki yang juga berseragam sekolah.
Berhenti di lampu merah, jelas sudah wajah Rana terlihat saat ia menyibak rambut panjangnya yang terurai.
Terana? Dia bersama siapa itu? Rana dan teman laki-lakinya berbincang ria diatas motor. Tangan laki-laki itu menuntun tangan Rana untuk memeluknya dari belakang.
__ADS_1
Dengan polos Rana ikuti arahan, yang sebelumnya hanya berpegangan erat pada seragam yang dikenakan orang itu saja.
Huffff.
"Sialan, kenapa aku tidak senang melihat mereka?" bergumam kesal sendirian.
Drrrrt drrrt drrrt
Getaran ponselnya berhasil membuatnya lupa akan Rana ketika melihat siapa yang memanggil.
Bunda Yana.
Ya ... Erick telah benar-benar memaafkan ibunya itu. Bahkan Yana bebas menelponnya kapanpun. Dan itu juga karena bunda Megan yang mengubah hatinya. Tapi jangan tanya bagaimana dengan David yang sampai hari ini hanya menganggap ibu kandungnya sebagai orang asing.
[Ya Bunda?] sahutnya begitu panggilan terhubung.
[Sayang, bisa ke restoran bunda? Ini ada sedikit makanan kesukaan bunda Megan. Bunda sendiri yang membuatnya kali ini.]
Bunda Yana memang ada saja akalnya untuk bisa bertemu Erick. Tahu anaknya itu tidak begitu bersemangat untuk menemuinya, kali ini ia lagi-lagi memakai nama bunda Megan sebagai alasan. Dan dia yakin sekali kalau Erick tidak akan menolak.
.
Di balkon kamarnya, Megan sedang duduk santai setelah berolahraga ringan. Diatas meja ia letakkan foto sahabatnya yang sudah tiada.
Lama ia tatap foto itu hingga akhirnya airmatanya keluar begitu saja.
Apa yang sedang kau lakukan? Apa kau melihatku dari sana? Perutku buncit sama sepertimu waktu itu.
Aku sangat takut... aku takut menghadapi hari itu. Persalinan sebentar lagi. Ini sangat menakutkan. Bagaimana kalau aku tidak kuat?
Megan ditakuti oleh pikirannya sendiri. Semakin perutnya membesar, semakin besar pula ketakutan yang dirasakannya.
.
Akhirnya Erick tiba di kediaman yang semakin membuatnya nyaman dan betah. Ada bunda yang menunggu di dalam. Erick tidak lupa membawa kotak makan kiriman bunda Yana untuk bunda Megan.
"Bundaa..." sudah tahu ibunya itu hanya bersembunyi di kamar, masih saja ia panggil wanita itu saat baru saja menyentuh gagang pintu utama.
Jangan heran tidak ada orang lain di rumah sebesar ini. Pelayan hanya akan datang saat dipanggil saja.
Langsung saja Erick menuju kamar bundanya. "Bunda ... ini ada kiriman makanan kesukaan Bunda." mengetuk pintu tapi tidak ada respon.
Ia curiga, bunda pasti berada di balkon. Benarlah, ada ibunya disana, berbaring malas diatas kursi panjang yang terbuat dari kayu jati, tempat andalannya untuk bersantai.
Pemandangan ini sudah tidak mengherankan. Baby M sedang berada di fase kemalasan besar akhir-akhir ini.
"Bunda ... Erick pulang..."
Tik ... tik ... tik ...
Tetes cairan berwarna merah tertangkap oleh mata Erick. Ia memfokus penglihatannya sambil berlari mendekat.
Prak...
kotak makan ditangannya ia lempar ke sembarang tempat.
"Bundaaa!"
"Bundaaaaa!" jeritnya memanggil nama itu. Darah keluar dari sepasang telinga dan hidung ibunya.
"Apa yang terjadi?"
__ADS_1
Kebingungan, Erick merasa dunia sedang berhenti disini saja. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain memberi ibunya itu pelukan.
"Bunda... bangun ... bunda jangan berdarah..."
Erick menangis. Tangan ibunya terasa dingin, sangat dingin. Ia terus memanggil bunda dengan napas pendeknya.
Ia kemudian tersadar bahwa ibunya sedang tidak baik-baik saja. Ia coba untuk menggendong keluar ibunya. Sangat ajaib, tiba-tiba saja ia memiliki kekuatan super hingga berhasil membawa Megan sampai ke mobil.
Sang penjaga keamanan terkejut melihat aksi Erick, lebih terkejut lagi saat mengetahui keadaan nyonya rumah ini yang sedang tidak sadarkan diri.
"Telpon ayah, katakan aku membawa bunda ke rumah sakit!"
Dengan sigap sang sekuriti menelpon Morgan.
Morgan yang mendapatkan informasi tentang sang istri yang mengalami pendarahan hebat, harus membuat keputusan besar. Lima menit lagi ia akan mendampingi tim dokter masuk ke ruang operasi untuk jadwal berikutnya.
"Tolong bantu aku. Ada keadaan darurat dan aku tidak bisa fokus jika memaksa masuk ke ruang operasi saat ini." Morgan sedang menghadang rekannya yang sudah siap untuk jam pulang.
"Tapi bagaimana ini? Aku sudah berjanji untuk menemani putri kecilku bermain." dengan wajah tidak enak hati menolak permohonan Morgan.
"Tolong aku! Aku mohon ... aku harus memastikan keadaan istriku."
"Tapi dia pasienmu. Dia mempercayakanmu dokter Morgan."
Pasien yang sebentar lagi akan ditangani adalah seorang atlet nasional yang memang mempercayakan Morgan untuk menangani cideranya.
Bak buah simalakama, Morgan berdiri kaku tidak bisa memilih antara tetap profesional atau istri yang tiba-tiba perdarahan. Apa yang harus dilakukan?
Ini terasa seperti Morgan sedang pertaruhkan pekerjaan yang ia cintai itu, untuk memilih dahulukan istrinya dan melupakan profesinya sebagai seorang dokter. Ia langkahkan kakinya kemudian.
Dengan perasaan gelisah ia turun dari lantai lima rumah sakit itu.
Dalam hati ia hanya mampu berdoa memohon pada sang kuasa untuk keselamatan istri dan putranya dalam perjalanan. Untuk karirnya, biarlah itu jadi urusan belakang.
Tiba tepat di pintu utama rumah sakit itu Erick menghentikan mobil. Dua orang penjaga dengan cepat menghampiri saat melihat ekspresi wajah Erick yang tampak kacau.
"Tolong Pak, Ibu saya sakit."
"Erick!" Morgan datang dengan langkah cepatnya.
"Ayah," Erick kembali menangis dan tidak mampu mengatakan apapun. Ranjang pasien mendekat, Morgan mengangkat tubuh istrinya naik ke atas ranjang kecil itu.
Masih terasa denyut nadi saat Morgan menggenggam pergelangan tangan istrinya.
Hypertensi telah membuat pembuluh darahnya pecah. Megan sekarat tidak sadarkan diri. Dokter memastikan bahwa detak jantung bayi masih ada.
Mau tidak mau, Megan harus segera lahirkan bayinya melalui tindakan operasi sebelum terlambat, namun resikonya adalah ... keluarga harus bersiap dengan kemungkinan lain. Bisa saja nyawa megan terancam. Dan kejadian ini bukan pernah satu atau dua kali terjadi, Morgan sudah memahami itu sebagai seorang dokter.
"Jika kita menunggu kondisi ibunya stabil, kemungkinan bayi tidak selamat." pernyataan itu membuat semua terdiam.
Morgan sebagai suaminya saja tidak sanggup memilih antara Megan atau bayi mereka. Jika harus fokus terhadap Megan, maka bayi itu terancam.
Tidak sampai hati rasanya untuk lagi-lagi menempatkan baby M ke dalam bahaya.
David yang baru saja tiba, "Dokter ... tolong selamatkan ibuku lebih dulu lalu kemudian bayinya."
.
.
Makasiiiii bestie...
__ADS_1