Hot Duda Dan Perawan Tua

Hot Duda Dan Perawan Tua
Semakin Akur


__ADS_3

Megan menekan pedal rem setelah berada jauh dari dua pria yang sudah ia tabrak dengan sengaja. "Mereka tidak mungkin mati, kan?"


Setega-teganya Megan Berlian, ia tetap punya hati. Di tekannya nomor darurat pada ponselnya untuk panggil ambulance.


Turun dari mobil? Sebenarnya dia ingin. Tapi ... Megan Berlian bukan tipe orang yang akan sengaja mengantarkan dirinya ke dalam bahaya.


Megan melanjutkan perjalanannya setelah dengan sengaja menjatuhkan identitas dirinya tidak jauh dari kedua orang itu.


Akhirnya tiba juga di kawasan tempat tinggal Morgan. Megan mengetuk namun tidak ada yang membuka pintu.


Megan memutuskan untuk duduk menunggu. Ia baru teringat kembali akan ponselnya. Ia melihat ternyata disana ada beberapa panggilan tak terjawab sari Pak Dokter. Ia pun segera menghubungi nomor kontak Morgan, namun tidak ada tanggapan dari suaminya itu.


[Pak Dokter, aku di luar. Bisa buka pintu? Aku mau masuk.]


Pesan yang ia kirim tidak juga mendapat tanggapan.


Kemudian ia mencari kontak David. Menelpon anak itu tapi ponselnya tidak aktif.


Apa aku terlalu memaksa? Tidak, ini sudah benar. Tunggu lagi sebentar, seseorang akan membukakan pintu. Kembali mencoba mengetuk.


Nihil, tidak ada yang membuka pintu.


Sudah pukul dua. Artinya, sudah dua jam lamanya Megan menunggu. Akhirnya dia menyerah. Terpaksa ia tenteng kembali kopernya, memasukkannya kedalam bagasi.


Baru saja Megan menyalakan mesin mobil, dari kaca spion ia melihat ada lampu sorot yang berjalan memasuki halaman rumah ini.


"Pak Dokter! Ya... itu pasti dia, suamiku."


Morgan yang sudam memarkir motornya menghampiri mobil yang ia yakini di dalamnya ada sang istri.


Pelan, kaca mobil terbuka.


"Hai!" Seorang perempuan cantik tersenyum dan menyapa dengan ramah.


"Kau, sejak kapan kau di sini?"


"Baru dua jam, Pak Dokter," Megan keluar dari mobil dan kembali mengeluarkan kopernya dari sana.


"Dua jam? Tidak ada yang membukakan pintu untukmu?"


Megan tersenyum mengangguk, seolah tak ada masalah sama sekali.


Morgan menghampirinya lalu mereka berpelukan. "Aku sibuk mengurus orang sakit sampai lupa pada istriku ini. Maaf, nona Megan."


"Tidak apa. Yang penting kau sudah pulang dengan selamat, Pak Dokter. Tapi ... kau sedang cuti, kenapa masih bekerja?" Megan bertanya dengan wajah manja yang dibuat - buat.


"Aku melihat ada dua orang terbaring dijalan. Kemungkinan mereka adalah korban tabrak lari."


Degh.

__ADS_1


Megan terdiam. Jantungnya terasa melaju.


"Mereka berdarah dan keduanya mengalami patah kaki."


Keterangan dari Morgan membuat Megan semakin yakin bahwa dua orang itu adalah orang yang sama dengan ... sudahlah, Megan takut memikirkannya.


"Kenapa Kau melepas pelukan? Apa kau baik-baik saja, Nona Megan?" Morgan dapat merasakan keanehan pada istrinya.


"Aku mengantuk, Pak Dokter."


Keduanya lalu masuk ke dalam rumah, Morgan menenteng koper milik istrinya itu. "Kenapa bawa koper segala? Memangnya kau akan tinggal lama disini? "


"Memangnya kenapa? Aku hanya ingin berada dimana suami dan anak-anakku tinggal. Pak Dokter keberatan?"


"Bagaimana mungkin aku keberatan? Ayolah masuk, ini adalah kamar kita."


Megan menatap sekeliling. Kamar ini jauh dari kata luas, alias terkesan sempit. Lihat tempat tidurnya, hanya berukuran sedang. Tapi tak apa, Megan berpikir itu bagus. Toh mereka berdua selalu menempel seperti perangko saat malam.


"Nona Megan, apa kau sangat mengantuk?"


"Ya, lumayan."


Morgan mendekat setelah mengganti pakaiannya. Dipeluknya istrinya itu lalu berbisik. "Aku sangat merindukanmu, Nona Megan ..."


"Aku juga, Pak Dokter."


Meski kegelisahan hati sedang melanda, Megan tetap profesional mengikuti arus permainan suaminya.


Keduanya melepas rindu dengan saling memberi dan menerima kepuasan setelah harus menahan diri dalam beberapa hari sebelumnya karena terpisahkan oleh jarak.


Megan terus merasa gelisah. Pikirannya jauh melayang kepada dua orang yang tadi ia hantap dengan mobilnya.


Meski memang dua lelaki itu bersalah, tapi Megan merasa harus tetap bertangging jawab. Apalagi, Morganmengatakan bahwa peristiwa itu sedang ditangani oleh pihak berwajib.


[Rico, tolong urus masalah ini dengan rapi.] titah Megan melalui pesan teks setelah menjelaskan krinologi kejadian itu kepada seorang ketua geng mafia yang ia kenal, bernama Riko.


Riko sendiri adalah teman masa Remaja saat Megan masih SMP. Merrka berdua berteman baik saat itu, namun entah bagamana ceritanya sampai Riko memilih karrir sebagai anggota mafia saat usia mereka menjelang dewasa.


Riko tentu saja menyanggupi perintah itu.


.


Pagi harinya, semua orang terbangun, kecuali Megan. Keluarga Morgan termasuk mama Monic sedang menikmati sarapan. Morgan sengaja tidak membangunkan istrinya itu karena tidak tega mengganggu tidurnya.


"Aaaaaaaaaaaaaaaa!"


Suara ketukan sendok dan piring terhenti karena suara teriakan seseorang dari kamar Morgan.


"Ayah, suara apa itu?" Errick bertanya mewakili nenek dan adiknya yang juga ingin menanyakan hal yang sama.

__ADS_1


"Suara teriakan bunda Megan." Morgan bergegas ke kamarnya. Jawaban Morgan membuat ibu dan kedua putranya saling menatap satu sama lain.


"Nona Megan, ada apa?"


Megan sedang berada di atas tempat tidur dalam keadaan basah, terlihat seperti menantu yang habis disiram oleh mertua kejam akibat bangun kesiangan.


Wajahnya sangat ketakutan dan hanya mengenakan handuk.


"Pak Dokter! Ada seekor hewan kecil bermoncong panjang berlari disekitar kakiku saar tadi aku di kamar mandi. Dia berwarna hitam dan terlihat seperti seekor babi."


Morgan tertawa lepas. Megan terheran, rupanya Morgan bisa tertawa seperti ini.


"Hai! Apa yang lucu? Aku ketakutan tapi kau malah terbahak. Apa mungkin kalian memelihara babi di rumah ini?"


Kali ini Morgan ingin terbahak lebih keras namun ia tahan karena merasa kasihan melihat wajah istrinya.


"Itu hanya seekor curut. Mana ada anak babi sekecil itu."


"Curut? Aku baru mendengar dan melihat hewan seperti itu. Pak Dokter, tolong jangan pergi dulu. Temani aku mandi."


"Ku kira kau adalah wanita paling berani. Rupanya kau takut dengan hewan sekecil itu."


Morgan berjalan lebih dulu ke arah kamar mandi. Ia memastikan bahwa hewan kecil itu telah pergi dari sana.


"Aku yakin dia masih di dalam. Aku tidak melihatnya keluar."


Megan terus menyempil di belakang suaminya, tidak berani untuk masuk ke kamar mandi.


"Apa jangan-jangan itu hewan berilmu hitam?"


"Ilmu hitam apanya! Curut itu memiliki tubuh yang sangat elastis. Dia bisa mengecil melewati lubang pembuangan itu."


Setelah memperdebatkan perihal curut kecil menggelikan itu, akhirnya Morgan mengalah dan mau menjaga istrinya.


Kembali ke ruang makan.


"Apa nenek bilang, ayah dan bundamu tidak mungkin berpisah dengan mudah. Silakan kalian berdua menyerah."


Suasana hening. Nenek monic segera menyelesaikan sarapannya dengan perasaan bahagia, lalu meninggalkan dua cucu tampannya itu.


Bukankah sudah menghindarinya? Tapi kenapa wanita itu terus saja muncul sampai - sampai rela meninggalkan istana megahnya untuk datang ke rumah kecil ini. Ayahku adalah pria normal. Jadi tidak mungkin kuat menahan godaan seorang wanita seperti kak Megan. Erick pikir Megan tdak akan mau ke rumahnya yang sederhana ini.


"David, sejak kapan wanita itu ada di rumah ini?"


"Aku tidak tahu, kak. Tapi haruskah kita biarkan saja mereka? Aku rasa ... mereka berdua semakin akur."


.


.

__ADS_1


Bersambung...


Guys... trimakasih telah menanti cerita ini...


__ADS_2