Hot Duda Dan Perawan Tua

Hot Duda Dan Perawan Tua
Rumah Lama


__ADS_3

"Kapan kalian akan kembali tinggal denganku?" nenek bertanya pada Morgan yang duduk di depannya.


"Soal ini aku pun tidak yakin, Nek. Rasanya sangat sulit membujuk Erick." keduanya sama-sama menoleh ke arah Erick yang berada tak jauh, terlihat sedang berbincang hangat dengan Rana.


Aku akan minta Rana untuk membujuknya. nenek bermaksud untuk memanfaatkan keakraban Rana dengan Erick.


.


"Kenapa kau bisa hadir ketempat ini?" David bertanya pada Keisya, teman baru sekaligus teman sekelasnya.


"Oh, aku datang dengan papaku. Oia, papa juga salah satu eksekutif di Antami." jawab Keisya, apa adanya.


"Oia, sebelum kau tahu dari orang lain, sebenarnya aku berasal dari keluarga biasa. Ayahku hanya seorang dokter, bukan pengusaha seperti semua orang yang hadir disini. Aku bisa hadir disini karena ibu tiriku, bunda Megan."


"Oh, jadi ... dia ibu tirimu?" wajah Keisya tampak terkejut. Namun dengan cepat ia kembalikan raut wajah bersahabatnya. "kukira kalian memang ibu dan anak. Lantas, apa kau memiliku saudara tiri?"


"Tidak ada. Sebelumnya bunda seorang single. Kenapa? Apa kau kecewa mendengarnya?"


"Tidak, memangnya apa hubungannya denganku? Aku hanya berpikir bahwa mungkin saja kau punya saudara tiri sepertiku. Rasanya tidak nyaman."


"O... kau punya saudara tiri rupanya?"


Keisya mengangguk. "Sebelumnya aku tidak pernah tertarik untuk hadir ke acara-acara urusan pekerjaan papa. Tapi karena tidak betah tinggal di rumah makanya aku ikut. Tapi aku senang rupanya kamu juga ada." Keisya tersenyum malu mengakui perasaan senangnya bertemu David.


.


.


Setelah serangkaian acara berakhir, semua orang pun bubar tentunya,


"Ikut denganku saja. Apa kata orang kalau kita masing-masing?" cegah Morgan pada istrinya yang baru saja mau masuk ke mobil.


"Oh, baiklah. Tapi ..." Megan membisik ke telinga Morgan.


"Erick, David, kalian masuklah ke mobil bunda bersama supir. Ayah dan bunda mau singgah ke supermarket." pinta Morgan, pada dua remaja itu yang sudah siap masuk ke dalam mobil miliknya.


Bukankah satu mobil bisa muat mengangkut empat orang? Lagi, David hanya bergumam dalam hati, tanda protes.


Keluarga kecil itu akhirnya pergi dengan mobil terpisah,


Menikmati perjalanan dengan kecepatan pelan, Megan merebahkan kepalanya pada lengan kekar suaminya, yang menjadi sandaran ternyamannya akhir-akhir ini.

__ADS_1


"Aku mau seperti ini itu sebabnya aku minta anak-anak dengan mobil terpisah." gumam Megan, dan tentu saja Morgan mendengarnya.


"Ya ... kau benar. anak-anak bisa sakit kepala kalau meyaksikan tingkahmu yang seperti ini." jawab Morgan.


"Pak Dokter,"


"Hmmm."


"Apa kau menginginkan aku malam ini?"


"Sekarang pun aku mengiginkanmu."


"benarkah? ... kalau begitu, ayo ke suatu tempat." Megan kembali ke posisi duduk dan  meminta suaminya itu untuk berbelok dan Morgan pun menginkuti arah yang ditunjuk istrinya.


"Kenapa harus ke tempat lain? Bukankah di kamar kita juga bisa?"


"Aku mau ganti suasana. Kita ke kamar lain saja. Kau tahu, keperkasaanmu itu aku tidak bisa menikmatinya secara total karena harus menjaga volume suara. Malam ini aku ingin teriak sepuasnya." Megan menggebu-gebu mengungkapkan keinginannya.


"Apa kau membawa pilmu?"


"tara ... aku tidak pernah lupa benda ini," wajah cantik itu tersenyum dengan barisan gigi putihnya, sambil  memainkan pil yang dimaksud di depan wajah.


"Rumah siapa ini?"


Morgan bertanya dengan rasa kagum, setelah mereka tiba di sebuah pekarangan luas lalu keluar dari mobil.


"Ini rumah masa kecilku bersama mama papa dan sudah kutinggalkan begitu lama."


Keduanya pun masuk.


Sebuah rumah besar, bahkan lebih luas dari istana milik si nenek, yang sudah berdiri sejak lama, namun masih dalam keadaan terawat. Meski tidak dinggal disini, Megan selalu mempercayakan pelayan yang ada di rumah nenek untuk datang sesekali membersihkannya.


"Mama, Papa, kami pulang." Megan tidak lupa menyapa kedua orang tuanya.


"Mama, Papa, suamiku baru pertama kali ke rumah kita. Lihatlah, dia benar - benar serasi denganku, kan?"


Morgan diam membisu menyaksikan istrinya bicara sendiri dengan foto kedua orang tuanya yang berada di ruang keluarga.


"Pak Dokter, em... apa kau mencintai aku?" Morgan tampak kebliyengan ditanya soal cinta secara tiba - tiba. Megan menahan senyum berhasil menggoda suaminya. "Mama, Papa, dia tidak bisa jawab. Bagaimana kalau ganti saja pertanyaannya, Pak Dokter, apa kau menyayangiku?"


Morgan masih membisu dan menunjuk wajahnya sendiri seolah sedang memberi isyarat, Apa aku harus menjawabnya?

__ADS_1


"Iya, jawab saja. Papa Mamaku ingin dengar."


Seumur-umur, Morgan tidak pernah berinteraksi lewat halusinasi seperti ini. Tapi, hanya dengan menatap mata indah pria yang cukup tampan di dalam foto berukuran besar dihadapannya ini, ia mengingat akan satu hal, yaitu komitmen awalnya menikahi Megan. Dengan nada pasti Morgan pun menjawab, "Aku sangat menyayangi puteri kalian. Maaf, aku bertemu dengannya setelah kondisiku sudah memiliki dua anak. Maaf, karena ... kalian tidak akan pernah melihat cucu dari kami berdua."


"Sssuut! Cukup!" Megan menegakkan jari telunjuknya dhadapan Morgan. "kau jangan bercanda. Memangnya kau anggap apa dua pangeran kesayanganku itu?" Megan tidak pernah menyangka suaminya akan mengungkit soal anak di hadapan kedua orang tuanya.


"Mama, Papa, jangan dengarkan dia. Dia mungkin lupa, tapi kami memiliki dua anak yang lebih tampan darinya. Lain kali aku akan membawa mereka untuk tinggal di rumah ini. Ma, Pa, seperti kataku, aku ingin anak tapi tidak ingin mengandung dan melahirkan. Rupanya malaikat mencatat itu sehingga mengirim Pak dokter dan dua anak itu untuk bisa aku miliki. kuharap Mama Papa bisa menerima mereka sebagai cucu di rumah ini."


Megan meraih tangan Morgan membawanya menaiki tangga rumah itu menuju lantai atas.


"pak dokter, kau sangat payah. Kau seharusnya tidak sebut soal itu. Kau setidaknya mengatakan bahwa kau bersedia menemaniku sampai mati, hidup bahagi-"


Blub...


Perkataan Megan menggantung setelah mulut yang sedang ia pakai untuk mengoceh, tengah dilahap secara tiba-tiba oleh suaminya.


Kau memang sangat pandai mengatur suasana hatiku, Pak dokter. Megan membalas itu dengan sepenuh hati.


"Berhenti mengomeliku hmm,"


"Iya, aku tidak mengomel lagi. Tapi ..."


"tapi apa?"


"lakukan itu lagi sambil ... menggendongku ke ... kamar itu." Megan menunjuk pintu yang berada lumayan jauh dari tangga dimana mereka sedang beradegan romantis.


"Ow.. Gendong? Berapa berat badanmu sekarang?" wajah Morgan terlihat sulit untuk mengatakan iya, setelah perhatikan tubuh istrinya ini tampak semakin berisi.


"Tidak terlalu berat, cukup ideal dengan tinggi badanku. 60 kilo lebih lima ons saja."


Hmmmmmmmmmmm huuuuufffffffffff. Morgan siapkan pernapasan dan tenaganya.


"baik, asalkan jangan sering - sering."


.


.


bersambung.....


Ritual di akhir bab, tebarkan semangat untukku teman²🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2