
Liburan telah usai setelah menghabiskan tiga hari tiga malam di wisata Raja Ampat yang begitu menakjubkan, bikin betah.
Menikmati kebersamaan keluarga seperti seharusnya, terasa begitu membahagiakan, khususnya bagi Megan Berlian.
Suasana hati semua orang memang kerap mengalami perubahan setelah berlibur dan menikmati kebersamaan keluarga. Dan itulah yang terlihat di kekuarga ini, meskipun tak ada kata manis yang terdengar ketika saling berinteraksi.
[Aku ... menyukai susu coklat manis buatan tante.]
Megan yang baru saja usai meeting dengan beberapa stafnya, merasakan jantungnya seakan ingin melompat kesenangan saat membaca pesan dari David yang tiba - tiba.
Kenapa anak ini? Apa sesuatu mulai merasukinya? Sambil berputar diatas kursi empuknya Megan tersenyum dengan bibir mengembang.
Aku harus mengatakan apa?
[Kalau suka, bunda akan buatkan lagi, Nak.]
[Terima kasih!] jawab David.
"Duuuh, dia sangat menggemaskan. Tidak bisa kah mengetik lebih panjang?" Megan lalu membuka galeri ponselnya, melihat kembali foto-foto kebersamaan keluarga kecilnya ketika berada di Bali dan Raja Ampat.
Senyuman yang tampil disana terlihat begitu tulus terselimuti perasaan bahagia. Siapapun yang menatap pose - pose ini pasti akan ikut tersenyum, seperti Megan saat ini.
Kami terlihat seperti keluarga bahagia.
Bukankah sekilas wajah kami terlihat mirip?
Seyakin itu, Megan bahkan merasa wajahnya mirip dengan dua remaja yang disayanginya itu.
Asik dengan senyum dan pikirannya sendiri, Megan tidak menyadari keberadaan seseorang yang baru saja masuk ke ruang dimana ia berada.
"Permisi, Bu Megan," dia ternyata sang sekretaris yang masih muda, Susi.
"Eh? Ya ada apa Susi?"
"Emm. Ada bapak, sedang menunggu di ruangan ibu."
"Hah?" Melihat sekeliling, Megan tersadar jika ternyata dirinya masih di ruang meeting. Bangkit dari duduknya, Megan segera berjalan ringan menuju ruang kerjanya.
"Hei! Pak Dokter kau disini?"
"Iya, aku baru saja -"
Belum juga Morgan selesai bicara, bibirnya sudah diterpa oleh kiss tanpa diminta dari Megan. "Kebetulan aku sangat merindukanmu, Pak Dokter." Megan lalu memeluknya Erat.
"Pak Dokter, aku merindukanmu"
Tiap kali mendengar pengakuan ini, maka saat itu pula perasaan Morgan menghangat disertai degupan jantungnya melaju kesenangan di dalam sana. "Ya ... aku juga." Masih menerima pelukan, Morgan segera membalasnya. "Kenapa rasanya kau semakin manja?"
__ADS_1
"Aku seperti ini hanya berlaku untukmu, Pak Dokter. Sepertinya aku sudah terlanjur biasa dengan pelukanmu yang sangat nyaman ini."
"Senyaman itu?"
Megan mengangguk.
"Kalau begitu apa kau sudah lapar? Aku datang menjemputmu untuk makan malam bersama."
"Begitukah? Lalu bagaimana dengan anak - anak? Mereka makan apa?"
"Aku sudah memesan gofood untuk mereka berdua. David akan mengurusnya."
Sebuah rumah makan sederhana didatangi oleh keduanya. Cukup ramai pengunjung dan beruntung masih tersisa satu meja. Meski tidak semewah restoran yang biasa Megan datangi, tapi tempat ini memiliki standar kebersihan yang sangat tinggi, sehingga memberi kesan nyaman bagi pengunjung.
"Pak Dokter, besok malam akan ada pesta penyambutan untuk kak Minda, sekaligus serah terima jabatan pemimpin Antami."
"Lalu kau akan pergi?"
"Bukan hanya aku, tapi kita berempat akan hadir."
Morgan terlihat berpikir keras.
"Besok aku sudah kembali bekerja. Jika ada situasi darurat, aku tidak bisa janji untuk hadir."
"Kau harus hadir meskipun sudah terlambat."
Morgan lupa, istrinya ini sangat handal soal memaksa. Meski ingin menolak untuk hadir, tapi demi Megan, Morgan harus siap.
"Ayah, apa ayah punya musuh?" David menyambut mereka dengan pertanyaan aneh dan menyebalkan.
"Musuh? Kau pikir ayah ini preman?"
"Aku melihat seseorang sedang mengintai rumah kita hari ini. Mungkin saja dia mengincar salah satu dari kita."
Merinding. Megan merasa bulu-bulu halusnya berdiri. Megan curiga, tapi seumur - umur, ketiga kakak sepupunya tidak pernah main petak umpet begini. Jika mau menyerang, maka akan langsung menyerang.
"Tidak masalah. Asalkan dia tidak mengincar kakakmu yang tidak bisa lari kemana - mana." timpal Megan, dengan nada bercanda.
"Jadi kalau bahaya sedang mengintaiku apa itu tidak masalah karena aku bisa berlari?" Merasa keselamatan dirinya diabaikan, David menyela dengan nada kesal.
"Aku tadi hanya bercanda tapi dia marah." Melihat David menghilang di pintu kamarnya, Megan menyusul sedangkan Morgan berjalan ke kamar putra pertamanya.
"Sayang, bunda tadi hanya bercanda. Kau marah, hm?"
"Untuk apa aku marah, aku hanya mengantuk." anak itu masuk ke dalam selimut.
"Tunggu ya sayang, bunda akan buatkan susu coklat manis yang enak."
__ADS_1
"Tidak usah pedulikan aku. Buatlah untuk kakak saja."
Megan menggeleng, ada apa dengan anak remaja rasa bocah ini? Pikirnya.
Tak lama, Megan kembali ke kamar membawa segelas susu coklat. Yang sebelumnya bersembunyi di dalam selimut, kini anak itu sedang membaca buku.
Dia pasti sengaja menunggu susu coklat ini.
"David Erlangga anakku, ini minum dulu sayang," meski hanya tunjukkan wajah datar, David tetap meminum itu sambil melirik Megan sekilas.
Terdengar samar ucapan terima kasih yang sangat kecil dari anak itu.
"Jangan lupa gosok gigi sebelum tidur dan tidurlah setelah ini. Besok hari pertama masuk sekolah, jangan terlambat bangun."
Megan tinggalkan anak itu setelah mengucapkan selamat tidur.
David menatap ponselnya lalu terpikir akan sesuatu. Ia membuka daftar kontaknya dan mencari kontak ibu barunya.
Baiklah, kalau memang ayah menginginkan dia selamanya, maka aku harus mulai menganggap dia sebagai ibuku.
mengganti nama yang sebelumnya ia tulis 'istri ayah' menjadi BUNDA.
.
Pagi harinya, Morgan dan Megan sudah sepakat untuk mengantar dua remaja itu ke sekolah. Keduanya membagi tugas.
Morgan akan mengantar Erick sedangkan Megan mengambil bagian untuk mengantar si bungsu ke sekolahnya yang teramat luas dan dipenuhi dengan berbagai karakter siswa yang rata-rata berasal dari kalangan kelas atas.
"Pak Dokter, anak - anak sudah siap. Ini kemejamu untuk hari ini dan selamat bekerja kembali ya... aku pergi dulu."
Megan keluar dari kamar setelah saling memberi dan menerima kecupan singkat dengan suaminya. Siap pergi bersama David.
Di perjalanan. Masih hening. Megan maupun David belum bersuara. Megan berpikir untuk membuka obrolan.
"Nak, tentang yang kau katakan tadi malam, jangan takut, bundapastikan, ... tidak akan ada yang terjadi terhadapmu ataupun kakak."
"Lalu bagaimana dengan ayah? Apa ayah akan aman?"
"Jadi kau hanya mengkhawatirkan ayah sedangkan bunda tidak?"
"Ayah tidak setega tante. Ayah terbiasa menolong orang lain sedangkan tante berani mencelakai orang tanpa ragu."
Megan tertegun. Apa dirinya harus membenarkan pernyataan si bungsu ini? Mulut pedasnya memang kadang kala tajam seperti pisau.
"Sayang, berani itu adalah pilihan. Kau pikir bunda tidak kenal takut? Kau memang tidak mengerti bagaimana rasanya terpaksa berani dalam keadaan yang menakutkan."
.
__ADS_1
.
Bersambung...