
Erick, sedang menunggu kedatangan adiknya di pos penjaga sekolah, katanya, David punya kabar penting yang harus ia beritahukan secara langsung.
"Kakak, ini darurat! Ayah sungguh ceroboh! Kau tahu, hal yang kita takutkan telah terjadi." David menggebu-gebu saat turun dari mobil pajero sport yang dikemudikan oleh supir pribadinya ketika masih tinggal di kediaman si buyut.
"Apa itu?" siapa yang tidak penasaran jika cara penyampaian saja sememggebu ini.
"Kak, wanita itu sedang mengandung adik kita."
"Apa?" Terkejut, Erik merasa tidak sanggup memindahkan langkah tongkatnya. "Jangan bergurau. Kau pikir bisa melucu?"
"Sejak kapan aku pernah bergurau? Aku serius! Seru David. Tancapan netranya yang terlihat sangat sungguh - sungguh semakin menghimpit perasaan Erick yang sedianya masih tak baik - baik saja pasca kemunculan ibu kandungnya.
...****************...
Megan sedang menunggu dengan perasaan tegang. Riko belum juga memberinya kabar. Apa yang harus kulakukan? Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Lebih baik aku sendiri yang pergi ke tempat itu. Mengenakan hoody, masker dan penutup kepala mirip kerudung, Megan keluar dari kamar dengan tas tangan di tentengannya.
Drepp...
Langkahnya refleks mundur saat didepannya sudah muncul seseorang berdiri.
"Isteriku disini rupanya?" pria itu melangkah perlahan dengan raut wajah tenang, sedang Megan berdiri kaku dengan rasa terkejutnya akan kedatangan Morgan.
"Aku merindukanmu, Nona Megan." Dua tangan direntangkan tentu sedang bersiap untuk memeluk.
Morgan Erlangga! Haruskah aku melangkah maju untuk memukulmu? Jangan sentuh aku atau akan terjadi peperangan antara kita berdua. Kekesalannya pada pria ini masih terasa.
Zzzeep...
Morgan berhasil memeluk istrinya yang terlihat enggan untuk di peluk.
Aku merasa kesal, tapi pelukan ini terasa begitu membahagiakan. Aku sangat merindukan pelukan ini. Ciuman hangat mendarat dikapalanya, Megan menitikkan air mata bahagia, merasa begitu disayangi.
Pak Dokter, apa kau tetap perlakukan aku seperti ini jika tahu aku sedang mengandung sesuatu yang tidak kau inginkan? Aku ingin marah padamu atas kesalahan ini, tapi saat ini aku merasa begitu takut jika kemarahanku akan membuat sikap hangat darimu akan memudar. Pak Dokter, teruslah menyayangiku, biarlah aku sendiri yang akan menanggung ini.
"Istriku mau kemana? Kenapa kau berpakaian seperti ini? Aku hampir tidak mengenalimu." Pelukan terlepas perlahan.
"Pak Dokter, aku ... benar - benar ada pekerjaan diluar." Terdengar gemuruh mesin dan riuh baling - baling helikopter yang semakin mendekat. Morgan tentu merasa curiga, namun wajahnya tidak menampakkan rasa itu.
"Kau hendak kemana sayang? Sebegitu daruratnya sampai harus memanggil pilot?" Megan mengangguk. Wajahnya nampak sangat tidak biasa. Tentu karena ada hal yang ia sembunyikan dan Morgan memahami itu.
Megan lalu berjinjit lalu...
Cup...
__ADS_1
Dan berbalik setelah memberi ciuman singkat.
"Jangan pergi! Aku sudah tahu, kau sedang hamil, kan?"
Deg...
Megan berhenti sejenak. Berharap ia mengangguk dan mengatakan iya, langkahnya kembali bergerak maju.
Helikopter benar - benar sudah mendarat di landasannya, atap rumah besar ini.
"Megan Berlian, aku bilang berhenti! Aku tahu Kau sedang ingin membuangnya, kan?" Morgan hanya perdengarkan nada tegas dari tempatnya berdiri.
Megan berhenti melangkah, ia mengerti sekarang bahwa suaminya telah mengetahui kenyataan ini. kemudian Megan berbalik. "Memangnya kenapa? Aku tidak terima dia hadir di perutku! Ini tubuhku yang harus kusayangi!" Megan membalas tidak kalah tegas. Tatapan mata keduanya dipenuhi sorot tajam dengan api kekesalan.
Megan melangkah maju ke arah Morgan. "Kau dan aku sama - sama tahu kalau kita tidak menginginkan seorang anak! Jadi kau tidak perlu mencegahku."
"Jangan berani menyingkirkan dia atau kau akan ikut mati!" entah karena keceplosan, Morgan seharusnya menghindari kata kasar ini tapi ...
"Apa? Mati? Kau sedang mengancamku, Morgan Erlangga?" dengan berani Megan mencengkeram kerah kemeja Morgan. "Dengar baik-baik, kita dan anak - anak sudah sepakati hal ini. Tidak akan ada bayi di dalam keluarga ini. Apa kau lupa?" cengkeramannya semakin erat. Morgan hanya membiarkan itu. Baginya, kemarahan istrinya ini bagaikan persembahan lelucon yang dengan senang hati ia nikmati. Ia tahu betul jika Megan tidak ingin hamil.
"Kau pikir aku takut dengan ancamanmu? Tidak sama sekali!"
"Dan kenapa kau sangat teledor melupakan pilmu jika tidak ingin ini terjadi? Apa kau pikit ab*rsi itu mudah? Megan Berlian, aku tidak alan membiarkanmu melakukan itu!"
"Pilot sudah menungguku di atap. Aku pergi dan jangan berani cegah aku!" dihempasnya tubuh Morgan hingga menjauh darinya.
"Megan," bukan lagi suara Morgan, tapi nada lemah seorang wanita tua renta.
"Nenek?" langkah Megan kembali terhenti. Kaget, kenapa wanita tua ini sampai memdatanginya ke rumah ini. Tentu ada yang menyebabkannya muncul disini.
Langkah si nenek terus bergerak hingga tiba tepat di hadapan Megan.
PLAK...
Sebuah tamparan mendarat tanpa meleset sedikitpun dari pipi mulus Megan Berlian. Morgan yang berdiri jauh darinya pun tidak sempat mencegah hal ini terjadi. Megan mengusap pipinya yang terasa panas dan perih.
Hebatnya, tak ada air matah yang jatuh setetespun dari mata Megan Berlian.
Kerasnya tamparan dari tangan keriput itu, tidak mengubah ekspresi datar Megan sedikitpun.
PLAK... sekali lagi, nenek menampar tanpa mengatakan apapun.
"Nek, hentikan tanganmu! Perawatan wajahku ini sangat mahal."
__ADS_1
"Apa? Jadi kau tidak merasakan sakitnya tapi hanya mengkhawatirkan perawatan wajah mulusmu? Megan Berlian!" merasa cucunya sedang menganggap enteng tindakannya ini, nenek menarik tangan Megan. Ia pun heran, kekuatan ini datang dari mana sampai mampu menuntunnya untuk menghajar Megan. "Kau mau menyingkirkan cicitku? Maka pergilah saja bersamanya. Wanita kejam! Kau tidak pantas menjadi seorang ibu!" Morgan diam saja menyaksikan pertunjukan sang nenek tanpa sedikitpun ingin turut andil. Ia yakin, istrinya tidak akan dilukai oleh nenek yang sangat menyayanginya itu. Sedangkan Megan, ia benar - benar merasa ketakutan. Jika nenek sudah dirasuk seperti ini, maka dia bisa berubah menjadi sangat kejam. Megan yakin neneknya sedang tidak bercanda.
"Nenek! Jangan! Jangan!" David yang baru tiba bersama Erick, melihat sang nenek buyut hendak menjatuhkan ibunya dari ujung tangga.
David meninggalkan kakaknya dan berlari menaiki tangga. "Nenek jangan sakiti dia... aku mohon ... Nenek, jangan jatuhkan bundaku." David memohon sambil memeluk kedua kaki Megan, menahannya supaya tidak terjatuh.
"David, jangan mencegahku. Dia harus diberi pelajaran. Dia ingin membunuh bayinya, maka biarkan mereka mati bersama."
David menggeleng kuat. "No! No! Jangan lakukan itu, Nenek, aku tidak mau kehilangan Bunda." David menangis memohon.
"Jangan berbohong! Kau pasti senang kalau ayahmu kembali menduda, kan, menjauh atau kau akan ikut mati bersamanya!"
"Tidak! Tidak, jangan!" Dengan tekat kuatnya, David berhasil merebut Megan dari tangan si buyut dan kini ia memeluk ibu sambungnya itu dengan erat. Tidak, bagi David, wanita ini adalah ibu pertamanya.
Wanita tua itu tersenyum puas melihat ini, David sedang menangis bersama Megan. Sekali melempar bom, dua benteng musuh hangus terbakar, Pikirnya.
"Bunda tak apa? Apa ada yang sakit? Bunda ... maaf karena aku hampir terlambat." kembali dipeluknya wanita dewasa yang hanya meneteskan air mata sambil menatap wajahnya itu.
Banyak kata yang tertahan di hati Megan untuk anak ini. bingung memilih apa yang harus dikatakan lebih dulu. Mendengar pengakuan ini sungguh membahagiakan dari pada apapun. Ketakutan akan kehamilan, melahirkan, terlupakan begitu saja untuk sejenak, terkalahkan oleh rasa haru dan bahagia yang tercipta oleh sikap hangat seorang David Erlangga.
"Boleh bunda memelukmu juga?" pertanyaan itu dianggukkan oleh David.
Mungkin, ini adalah pelukan pertama antara mereka berdua, suasana tidak lagi tegang, yang menyaksikannya pun merasakan getaran, tidak menyangka akan ada moment seperti ini.
Ternyata nenek benar, setelah mendapatkan kasih sayang Morgan, maka anak-anak akan meniru ayah mereka itu. Tapi Erick? Bagaimana dengan remaja itu?
Menengadah, Erick menyaksikan adegan kasih sayang dari kejauhan. Yang ada dipikirannya hanya ingin kejelasan apakah ibu sambungnya itu benar hamil atau tidak.
David, apa yang kau lakukan?
Kenapa mereka berdua malah berpelukan?
Sok romantis. Apa David sedang dirasuk sesuatu?
Bikin sakit mata.
Bisikan hatinya itu menampilkan sekilas senyum di wajah Erick, tapi ia tepis senyum itu kemudian.
Tunggu! Aku sedang dimana ini? Suara apa itu? Semacam Helikopter? Atap rumah ini memiliki landasan helikopter? Kenapa wanita ini selalu keren?
.
Guys! sekian dulu🥰
__ADS_1